Talak Aku!

Talak Aku!
Berprilaku Kasar


__ADS_3

Tidak ada mantan anak ataupun mantan cucu, tapi kalau mantan istri baru ada. Dan Diana tidak mungkin memisahkan jarak antara putranya dengan keluarga mantan suaminya karena walau bagaimanapun Baby A adalah darah daging dari mereka. Ada darah keturunan Fakhri di dalam diri Arka.


"Ini salah, Diana...!" Fikri menyentak Diana tepat di hadapan wajahnya. Hal itu membuat Diana memejamkan mata dan mencium aroma bau dari mulut Fikri. Aroma bau minuman setelah di konsumsi.


Ya, Fikri sedang dalam keadaan mabuk sehingga marah pada Diana. Apalagi mendapatkan hasutan dari Salma, dan mereka berhubungan badan membuat Fikri semakin tak terkendali marah pada diri sendiri dan keadaan, namun malah di lampiaskan kepada Diana yang tidak tahu apa-apa.


FLASHBACK


Beberapa jam sebelumnya.


Fikri di buat gelisah oleh keadaan yang sedang ia hadapi saat ini. Dirinya semakin di curigai oleh Diana dan itu membuatnya bingung harus berbuat apa. Dia terkesan bodoh dalam menentukan pilihan dan terkesan takut pada sebuah ancaman yang mungkin bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Satu botol minuman anggur merah telah habis oleh Fikri. Wajahnya sudah kacau, rambutnya acak-acakan, kancing bajunya pun terbuka berantakan. Dia menghindari pertanyaan Diana dan berlari ke tempat hiburan.


"Aakkkh... sialan, kenapa ini terjadi? ini semua gara-gara Salma sudah menjebak ku. Sekarang saya begini gara-gara dia." Tangannya mengacak rambut saking kesal dan marah pada keadaan.


Rasa takut kehilangan Diana begitu mendominasi di relung hati, rasa takut ketahuan kelakuan dia di masa lalu dengan Salma pun selalu menghampiri. Jika dia melepaskan Diana, itu tidak mungkin karena hatinya begitu menginginkan dan mencintainya. Jika ia melepaskan Salma, itu jauh tidak mungkin karena Salma memiliki bukti kisah masalalunya. Dan hal itu membuat Fikri dilema diantara dua pilihan. Bertahan di atas kebohongan, atau memilih salah satu di antara mereka tapi harus bersiap masalalunya terbongkar dan kehilangan Diana.


"Daripada bingung mending saya pulang." Fikri pun pulang kerumahnya dalam keadaan mabuk.


******


Baru saja membuka pintu, dirinya sudah mendapatkan pelukan dari Salma.

__ADS_1


"Bli, kau ini kemana saja? saya khawatir sama kamu." Salma memang menyukai Fikri dan juga harta yang di milikinya. Pria itu juga orang pertama yang berhasil menyentuh setiap tubuhnya meski tidak sampai saling menyatukan. Tapi tetap saja Fikri pria brengsek yang menjamahnya.


Fikri mendorong tubuh Salma, mata sayu penuh amarah membuatnya semakin membenci Salma.


"Ini semua gara-gara kau sialan. Kau terus saja berusaha menjebak ku untuk selalu berada di sisimu. Padahal kau itu sangat menjijikan," ujar Fikri membentak Salma dan menatap penuh kebencian.


"Fikri, Fikri. Kau itu munafik. Kamu tidak menyukai ku tapi kenapa kau sering menikmati tubuhku semenjak kita menikah? bukankah itu tandanya kau juga menyukaiku?" Salma tersenyum sinis namun juga senang Fikri bisa bertekuk lutut kepadanya.


"Itu semua karena kau sering memaksanya. Kau yang terus mengancammu dengan caramu dan betapa bodohnya saya bisa terkecoh oleh kelicikan mu. Cuiihh menjijikan."


Fikri masuk kedalam rumah ingin membersihkan diri karena ia tidak mau saat pulang ke rumah Diana dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tapi langkahnya terhenti saat Salma berkata, "Kau mengharapkan wanita itu bisa mencintaimu? Jangan mimpi, Bli. Dia itu masih mencintai mantan suaminya, dia itu masih sering menghubungi keluarga mantan suaminya. Buktinya hingga saat ini dia tidak pernah tuh memberikan sebuah kecupan padamu." Salma mulai mengompori Fikri memberikan hasutan agar Fikri semakin marah-marah dan hubungan Diana dan Fikri menjadi semakin jauh.


Fikri menoleh memicingkan mata. "Apa maksudmu?"


Fikri mencerna setiap kata yang terlontar dari Salma. Semuanya ada benarnya juga. Selama menikah dengan Diana tidak pernah Fikri tidur bareng dalam satu ranjang berdua. Karena dia selalu beralasan tidak ingin kebablasan saat masa nifasnya.


Tanpa Fikri sadari, Salma sudah mulai membuka kancing baju pria itu. Dan di saat itulah Fikri tersadar langsung menyeret paksa Salma.


"Dan kau pikir aku percaya pada ucapan mu itu, hah? tidak akan!" sentaknya mendorong tubuh Salma ke atas ranjang. Keadaan mabuk membuatnya tidak stabil dalam bertindak.


"Sekarang kau layani aku murahan." Fikri menyeringai keji, dia membuka bajunya dan melemparkannya sembarang arah. Salma tersenyum berhasil membuat Fikri kembali mau menyentuhnya. Namun, wanita itu menjadi bungkam dan menjerit kesakitan saat Fikri melakukannya secara kasar serta menggunakan tangan memukul setiap titik yang ingin Fikri kasari.


"Aaw... Fikri sakit. Kau mainnya terlalu kasar, Fikri. Cukup!" Salma sampai memohon kesakitan saat Fikri menggigit kasar gunung kembarnya dan di bagian bawah mendapatkan hentakan kasar. Bahkan tangan Fikri sampai meremas kasar penuh amarah.

__ADS_1


Setelahnya, Fikri kembali berpakaian lalu mengambil obat kontrasepsi dan melemparkannya tepat ke wajah Salma. "Minum obat itu sekarang juga!" Fikri juga mengambil air, mencengkram pipi Salma dan memaksa Salma meminumnya. "Saya tidak ingin kau hamil anakku. Benihku hanya boleh bersemayam di rahim Diana seorang, wanita berparas cantik, berhati lembut, dan penuh pengertian."


Ukhuk... ukhuk...


Salma sampai tersedak dan airnya pun sampai tumpah membasahi dagunya.


"Ck, kau hanyalah jal@ng, selamanya akan tetap jal@ng." Lalu Fikri pergi dari sana dalam keadaan marah dan dalam keadaan masih dalam pengaruh alkohol.


Dan obat kontrasepsi nya ia masukan ke dalam saku jaket jeans bagian dalam.


FLASHBACK END


Dan setibanya di rumah Diana, Fikri melihat istrinya tertawa lepas bersama dua orang paruh baya yang ia yakini mantan mertuanya. Dari situ perkataan Salma kembali menghantui pikirannya. Takut jika Diana meninggalkannya dan kembali kepada mereka.


"Ini salah, Diana. Kau salah! Seharusnya kamu tidak menghubungi mereka lagi. Kalian sudah tidak berhak berhubungan. Kau sudah menjadi milikku jadi aku berhak menentukan dengan siapa kamu boleh berhubungan." Fikri menggebu memandangi tajam wajah wanita di hadapannya.


Diana terhenyak sekaligus takut akan sorot mata tajam itu. "Mereka keluarga anakku. Apa salahnya? Yang penting aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan ayah anakku."


"Tapi aku tidak menyukainya, Diana. Aku tidak suka kamu dekat dengan mereka." Fikri mencengkram kuat pundak Diana sampai membuat wanita yang sedang menggendong baby A itu meringis menahan sakit.


Diana mencoba menahan emosi untuk tidak marah-marah seperti Fikri. Dia menatap lembut mata pria itu agar Fikri tersentuh tidak berprilaku kasar. "Bli, ada apa denganmu? kenapa akhir-akhir ini kamu sering marah-marah gak jelas? sering kasar padaku? bahkan jarang menginap di sini? apa kau punya salah sama kamu?"


Deg...

__ADS_1


"Diana..."


__ADS_2