
"Ini ada surat dari pengadilan negeri," ujar seseorang menyodorkan sebuah kertas dan memberikannya pada Fikri.
Deg ....
"Su-surat!" Fikri seketika tertegun penuh keterkejutan kala melihat kertas dari pengadilan negri. Dia terdiam bergeming seakan tidak menyangka jika dirinya mendapatkan surat itu.
Sedangkan orang yang masih berdiri di hadapannya Fikri mengerutkan keningnya merasa heran melihat keterdiaman pria hitam manis di hadapannya ini.
"Pasti dia kaget karena di gugat istrinya. Sungguh kasihan sekali dia," gumam batinnya pria itu.
"Hahaha kau pasti sedang bercanda 'kan? Tidak mungkin saya mendapatkan surat dari pengadilan negeri? Ini pasti bukan untuk saya." Fikri menolak kenyataan di hadapannya ini. Dia tertawa bagaikan orang bodoh yang tengah linglung.
Pria yang membawa kertas itu melihat kembali alamatnya, "Fikri Rizaldy di alamat rumah xxxx, bukan?"
Dan tawa Fikri terhenti kala pria itu menyebutkan nama lengkapnya beserta alamat yang di tuju.
"Kau yakin ini punyaku?" tanya Fikri kembali memastikan. Lama-lama pria itu kesal karena Fikri lama mengambilnya.
"Iya, karena alamat rumah ini sama."
Mata Fikri menatap kertas itu. Lalu, ia mengulurkan tangannya mengambil cepat kertasnya dan membuka langsung guna memastikan. Dan matanya terbelalak melihat setiap garis pena yang ada di kertas putih itu, gugatan perceraian dari Diana Maheswari.
Sungguh Fikri di buat tak berdaya dan merasa syok. Dia tidak menyangka Diana bakalan mengajukan surat yang tidak ingin ia lihat.
"Akh, sialan. Kenapa bisa Diana melakukan ini padaku? Kenapa, Diana? Kenapa?" Fikri berteriak sekencang sambil menjambak rambutnya sendiri saking prustasi Diana nekat.
Kurir itu menggelengkan kepala lalu berlalu dari sana. Dan pengacara yang Fikri sewa mendekati Fikri saat mendengar sebuah teriakan yang membuatnya terkejut dan bertanya apa yang terjadi.
"Kau kenapa berteriak seperti orang gila?"
"Saya memang gila, sialan. Saya tergila-gila pada wanita itu. Dan sekarang dia telah mengajukan perceraian. Saya tidak terima itu, tidak terima." Fikri berteriak memukul tembok terus-menerus, "Kau harus buat pria itu mendekam di penjara selama-lamanya. Saya tidak mau tahu itu!"
"Pria aneh, untung banyak uang," gumam pengacara itu dalam hatinya.
Lalu Fikri masuk kedalam rumah mengambil ponselnya, "Kau cari keberadaan istriku sampai ketemu. Kalau perlu kau sekap orangtua pria itu agar mau membuka mulutnya sekarang juga!"
__ADS_1
Tut ....
"Sialan, bajingan, tidak akan ku biarkan kalian menang dan tidak akan ku biarkan Diana lepas dariku."
Rasa cinta yang Fikri miliki untuk Diana sudah menjadi obsesi semata. Diana yang terus menolaknya membuat Fikri semakin penasaran hingga berusaha keras untuk mendapatkan wanita itu. Tepati hingga saat ini, sekalipun Diana sudah resmi menjadi istri sahnya baik negara dan agama, Fikri tetap tidak bisa mengambil hati istrinya itu.
******
Hari esok pun telah tiba, hari dimana sidang perdana akan di mulai. Hari yang membuat Danu penasaran dan menentukan nasibnya bagaimana. Tapi, pihak Danu sudah menyiapkan segalanya dan sudah matang dalam mengantongi ide serta aman mengamankan para saksi.
Tetapi, meski semuanya sedang baik-baik saja, hati Danu tetap gelisah belum bisa melihat wanita yang ia cinta selama kurang lebih satu bulan lamanya. Hal itu membuatnya dirundung rindu yang menggebu kepada sang pemilik cinta.
"Sepuluh menit lagi sidang akan di gelar. Kau sudah siap mendengarkan dan menghadapi semuanya?" tanya Iqbal yang sedang berdiri di dekat kursi yang di duduki Danu.
Danu berada di tengah antara jajaran para hakim dan para penonton yang membela kedua belah pihak. Pria tampan blasteran indo Turki berwajah ke arab-araban itu berusaha mengatur napasnya di saat rasa grogi menghampiri. Danu yang memakai seragam oranye bertuliskan tahanan itu mengangguk kala pengacara keluarganya bertanya.
"Saya sudah siap mendengarkan dan sudah siap melakukan pembelaan," jawab Danu meyakinkan, "Tapi itu juga tergantung saksi yang kau hadirkan, Iqbal." sambungnya mendongak mendelik tajam seolah memberikan peringatan untuk sungguhan melakukan pembelaan terhadap dirinya.
"Ck, kau takut sekali saya tidak membawa sakti dan bukti."
Iqbal menepuk-tepuk pundak Danu, "Kau hanya tinggal duduk manis mendengarkan saja!"
Sedangkan di luar ruang sidang, "Apa ...! Kau gagal menemukan Diana dan gagal menyekap orangtuanya pria itu? Dasar bodoh kalian," ujar Fikri seraya menoyor kening kedua pria yang ia sewa untuk menangkap orangtuanya Danu.
"Maaf, Bos. Kami ketiduran sampai pagi di saat hendak menjalankan aksi."
Salah satu dari dua orang yang Fikri perintahkan menjawabnya dalam hati, "Bagaimana kami tidak ketiduran di saat ada wanita yang menawarkan diri tidur bersama kami. Ya, kami mainlah sampai pagi. Nikmat pula rasanya," gumam orang itu menunduk tak berani menatap Fikri.
"Dasar sialan, bodoh kalian. Percuma saya membayar kalian tapi kerja kalian tidak becus," ucap Fikri langkah masuk ke ruang persidangan.
Hakim Agung sudah mulai masuk datang bersama beberapa anggota dan langsung duduk di singgah sana yang di sediakan. Dan Fikri juga sudah duduk bersama kuasa hukumnya di bagian sebelah kiri.
"Saya akan membuat kau berada di penjara selama mungkin. Lihat saja itu," batin Fikri terus menatap tajam ke arah Danu penuh benci.
Danu terlihat tenang karena dalam hatinya terus berdoa demi semua kelancaran dalam persidangan. Hingga suara palu di pukul mengawali persidangan jika akan dimulai.
__ADS_1
Tok ... tok ....
"Sidang dibuka," ujar Hakim Agung mengawali pembicaraan.
"Setelah mendengar dan membaca tuntutan yang dilayangkan pihak Fikri Rizaldy, maka hari ini tanggal 27 Desember 2022 sidang perdana akan di gelar. Di persilahkan pihak terdakwa saudara Danu Alzio Fakhri untuk melakukan pembelaan jika benar tidak melakukan tindakan seperti yang di tuduhkan," ucap sang wakil Hakim memulai membuka sidang.
Iqbal selaku kuasa hukum dari Danu mulai berdiri sambil mengusap jas kebesarannya sebagai pengacara.
Perlahan Iqbal menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan.
"Terima kasih Tuan atas kemurahan hatinya yang sudah memberikan kesempatan kami untuk menerima pembelaan kami atas tuduhan yang dilayangkan oleh Tuan Fikri Rizaldy. Saya, selaku kuasa hukum klien saya Tuan Danu Alzio Fakhri akan memberikan beberapa bukti dan saksi yang akan membuka sebuah kebenaran untuk klien saya," ucap Iqbal lugas, tegas, tenang, dan terlihat berwibawa.
"Sebagai pembelaan pertama, saya akan memanggilkan seorang saksi mata yang ada di tempat perkara. Untuk itu, waktu dan tempat saya persilahkan." Iqbal memberikan sebuah isyarat agar saksi pertama berdiri dan maju ke depan ke tempat yang di sediakan untuk saksi.
Fikri tersenyum sinis melihat orang itu.
Bersambung ....
********
Hai, hai, hai ....
Ada rekomendasi novel bagus untuk kalian baca. Ini karya temen aku yang luar biasa bikin ketagihan baca.
Ceritanya tak kalah seru dengan yang lainnya, lho. Yuk, mampir!!! Wajib!!!
Judul : TERPAKSA MENIKAH WARIA TAMPAN
Karya : EsKobok
Nah, dari judulnya pun udah bikin penasaran. WARIA, pasti bakalan cinta sama karyanya.
AYO MAMPIR!!!!
__ADS_1