Talak Aku!

Talak Aku!
Permintaan Maaf Danu & Keluarga


__ADS_3

"Apa ...?! Ini tidak mungkin ...."


Diana dibuat terkejut dengan apa yang barusan ia dengar, "Ja-jadi Diandra meninggal karena ulah adiknya Mas Danu?" ucap Diana pelan tapi masih bersuara lembut tidak ada nada tinggi.


Sungguh Diana tidak percaya itu, dan sekarang dirinya malah tinggal bersama keluarga dari orang yang sudah membuat kembarannya tiada sekaligus menjadi penyebab meninggalnya Ibu yang ia cintai.


"Diana, kami minta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang almarhumah Prisil lakukan kepada saudaramu. Kami sungguh benar-benar minta maaf," ucap Mama Karin membantu suaminya berkata. Dia juga merasa bersalah karena sudah menyembunyikan hal ini selama kurang lebih 2 tahun kepada keluarga yang seharusnya mengetahui kejadian itu.


"Jadi kalian ..." tenggorokan Diana terasa tercekat seakan tak bisa berkata-kata mengetahui segalanya.


Diana tidak bisa berkata apa-apa lagi, tubuhnya terasa lemas mengetahui sebuah kebenaran yang amat teramat ia sesali karena baru mengetahuinya. Mau marah tidak bisa, mau membenci tidak bisa, mau menghakimi tidak bisa karena semuanya sudah berlalu.


"Dee, maafkan aku yang juga baru tahu jika adikku penyebab kembaranmu meninggal. Dendam ku salah alamat karena menyangka kamu yang membuat adikku tiada hingga memutuskan mengakhiri hidupnya karena tidak kuat dibully oleh orang yang begitu mirip denganmu. Tapi, ternyata aku salah jika itu bukan kamu dan bukan Diandra yang menyebabkan adikku tiada. Tetapi, Prisil sendiri yang mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menyembunyikan sebuah kebenaran jika adikku penyebab kematian saudaramu." Danu menunduk menyesali apa yang terjadi terutama apa yang dulu pernah ia lakukan kepada Diana.


"Nak, kami semua minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kamu. Kami tahu jika kesalahan yang Prisil lakukan tidak akan membuat saudara maupun ibumu kembali. Kami minta maaf, Diana." Papa Fakhri sampai menunduk dengan mata berkaca-kaca tidak bisa mendidik putrinya menjadi wanita yang lebih baik tetapi malah menyebabkan orang lain tiada. Dia sebagai orang tua merasa gagal.


"Kenapa kalian menyembunyikan ini dariku selama ini? Dan tujuan kalian ini apa sampai begitu baik terhadap ku? Apa karena rasa bersalah atas ketiadaan saudara ku kalian berbaik hati padaku?" Diana begitu kecewa di bohongi dan dia malah berpikir jika keluarga Danu hanya merasa kasihan kepadanya yang hidup sebatang kara tanpa ada saudara siapapun di sisinya. Tapi meskipun begitu, Diana berterima kasih kepada mereka karena sudah mau berbaik hati menyayangi wanita sebatang kara sepertinya. Terutama kebaikan orangtuanya Danu yang tidak mungkin Diana ganti dengan uang.


"Tidak Diana, kami sungguh menyayangimu seperti anak kandung kami sendiri. Dan terlebih dari hal yang kamu pikirkan, awalnya iya tapi sungguh saat ini kami sangat menyayangimu, Nak. Kamu akan tetap menjadi anak sekaligus menantu kami."


"Dee ..."

__ADS_1


"Apa perasaanmu juga hanyalah sebuah rasa bersalah saja? Bukan rasa cinta tulus dari hatimu." Diana menatap Danu meminta kejujuran pria itu. Dia tidak ingin tertipu yang kedua kalinya oleh pria yang sama, pria yang menjadi cinta pertamanya dan juga masih ia cintai hingga saat ini.


Danu menggelengkan kepala, "Tidak, aku sungguh mencintaimu, Dee. Aku tidak mungkin membohongi diriku lagi, aku sungguh mencintaimu. Percayalah, Dee. Kali ini aku jujur dengan hatiku sendiri, Diana."


Ya, kali ini Danu memang jujur mengenai perasaannya. Tidak bimbang seperti dulu dan sangat meyakini jika hati dan pikirannya memilih Diana sebagai wanita terakhir yang akan menemaninya hingga akhir hayat.


Diana menghelakan nafas panjang, ia memejamkan mata dan melafalkan kalimat istighfar di dalam hati.


"Kami minta maaf," ucap mereka bersamaan.


Diana membuka mata dan melihat silih berganti orang-orang yang ada di sana.


"Aku hanya manusia biasa yang juga memiliki rasa bersalah dan khilaf. Meski aku kecewa karena kalian menyembunyikan hal sebesar ini dariku tetapi aku memaafkan kalian. Aku sadar jika apa yang terjadi kepada diriku adalah skenario yang Allah tuliskan untukku. Allah saja maha pemaaf masa aku sebagai umatnya tidak bisa memaafkan kalian yang sudah begitu baik padaku. Karena memafkan merupakan sedekah terbesar dalam Islam, dan aku hanya ingin menjadi orang yang pemaaf, karena dengan memaafkan, seseorang akan merasa damai, tenteram, dan bahagia," tutur Diana mengungkapkan pemikirannya tentang memaafkan.


So, buat apa mengingat masa lalu kalau pada akhirnya masa sekarang yang sedang di jalani. Jadi, nikmati masa ini dan gunakan sebaik-baiknya agar kelak kamu menuai sebuah keberhasilan dari kerja kerasmu.


Mama Karin, Papa Fakhri, dan Danu terenyuh mendengar kelapangan hati Diana yang telah memaafkan mereka semua.


"Terima kasih, Diana. Kamu memang wanita yang baik, kami beruntung bisa mengenal kamu. Apalagi kalau kamu menjadi anggota keluarga kami pasti kami sangat bahagia sekali. Kamu mau 'kan menjadi istrinya Danu lagi?" tanya papa Fakhri sekalian melamar Diana untuk menjadikannya menantu sekaligus putri mereka.


Dan Danu tersenyum papanya mewakili apa yang ia sampaikan akhir-akhir ini. Danu pun berdiri lalu berlutut di hadapan Diana secara tiba-tiba sambil menggenggam tangan Diana.

__ADS_1


"Mas!" Diana terkejut atas apa yang Danu lakukan.


"Dee, maukah kamu menikah lagi denganku menjadi istriku sekaligus menjadi ibu dari anak-anakku kelak?" sambung Danu melamar Diana secara serius menatap dalam bola mata indahnya.


"Tapi ..."


"Aku akan menunggu sampai masa Iddah mu selesai," sahut Danu seakan mengerti kemana arah perkataan Diana yang nampak khawatir. Danu masih memandang Diana berharap lamarannya di terima. Tak mengapa tidak menunggu hari selesai Iddah yang penting resmi melamar dulu.


"Ya ya ya ... ba ba ba ...."


Si gemoy Arka malah berceloteh tersenyum seraya tangannya bertepuk tangan khas balita.


Diana menarik nafas dalam-dalam, "Bismillahirrahmanirrahim, aku mau."


Dan keputusan pun telah Diana ambil yaitu menerima kembali orang di masa lalunya. Biarlah dia di katakan egois, biarlah dia di katakan gampangan, biarlah dia di katakan tidak berpendirian, biarlah orang berkata apa, karena hati tidak bisa di paksakan.


Bukan tanpa alasan Diana menerima Danu kembali. Sebelum Danu melamarnya kembali dia sudah melakukan istikharah meminta sebuah petunjuk terbaik dari Allah. Hingga keputusan yang ia ambil atas dasar petunjuk sang ilahi Rabbi.


*****


Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMENTAR, dan beri hadiah, ya. Biar aku tambah semangat.

__ADS_1


Salam sayang dari Author.


__ADS_2