Talak Aku!

Talak Aku!
Kekhawatiran Diana


__ADS_3

Turkey


Danu dan Anita sudah menginjakkan kakinya di tanah kelahiran sang Ayah. Fakhri dan papanya Anita adik kakak dan mereka berdua berdarah Turki. Sedangkan sang ibu berdarah Indonesia. Itulah sebabnya Danu berada di Indonesia mengikuti Mama Karin.


"Kita langsung ke rumah sakit yang di berikan om Heru saja." ajak Danu melihat jam waktu Turki menunjukan 2 dini hari.


"Apa kita tidak istirahat dulu? Badan Nita lelah, kak." keluh wanita yang bernama Anita. Wanita adik sepupu Danu namun mengaku istri sirinya di hadapannya Diana atas suruhan dari Danu sendiri.


Mereka memasukkan koper kedalam bagasi mobil lalu Danu menutupnya. "Kau bisa istirahat di mobil atau juga bisa istirahat di rumah sakit. Kakak tidak bisa berlama-lama menunda ke sana. Kakak ingin melihat keadaan papa." Danu masuk kemudian di ikuti oleh Nita yang juga masuk ke dalam mobil.


"Jalan, Pak!" sopir taksi itu pun melajukan kendaraannya sesuai arah yang diberikan Danu.


"Apa mereka tahu kita datang ke sini? Apa Tante Karin tahu juga?" karena setahunya Danu tidak akan pergi malam ini juga memilih mencari Diana. Tapi keputusan itu berubah setelah mengetahui perusahaan Fakhri sedang membutuhkannya.


"Sepertinya tidak. kakak tidak memberitahukan akan datang malam ini juga kepada Mama. Tapi jika Pak Heru yang memberitahukan mungkin saja sudah diketahui oleh mereka." Anita mengangguk. Dia yang merasakan ngantuk perlahan menguap dan mulai memejamkan matanya.


Danu sendiri menyenderkan punggungnya ke kursi sembari memejamkan matanya juga memikirkan Diana. "Diana, setelah dari sini, aku akan mencarimu dan memperjuangkan mu lagi. Tunggu aku jodohku, aku berdoa semoga Allah mentakdirkan kita untuk selamanya. Dan aku berdoa jika kamu sudah menikah ku doakan suamimu selingkuh dan berdoa agar cintamu masih utuh untukku." Doa jelek yang selalu Danu panjatkan saking ingin bersama Diana dan saking ingin menebus segala kesalahannya. Serta ingin menunjukan cinta nyatanya, bukan balas dendam saja.


Tanpa Danu sadari jika doa nya perlahan di Qabul kan oleh Tuhannya. Namun, untuk cinta Diana masih utuh atau tidak itu hanya Diana yang tahu.


******


Rumah sakit


"Papa..." pekik Cici berlari memeluk papanya setelah mengetahui orangtuanya masih selamat dalam keadaan baik-baik saja. Cici sudah khawatir dan pergi bersama Karin ingin memastikan lagi kabar papanya.


"Kau datang ke sini?" papa Cici membalas pelukan putrinya lalu menatap Karin.


"Aku kira papa ada di dalam sana. Kenapa sulit sekali di hubungi no nya?" Cici merasa senang dan bahagia papanya masih di beri keselamatan.

__ADS_1


"Maaf, papa harus mengurus setiap karyawan, klien, dan mengurus semua yang bersangkutan dengan perusahaan." Heru memiliki kerja sama dengan pihak Fakhri sehingga pria itu ikut ke Turki dan berangkat bersama.


"Bagaimana keadaan suamiku di dalam?" Karin terlihat gusar dan panik. Dia memotong pembicaraan ayah dan anak itu untuk mengetahui keadaan suaminya.


"Menurut dokter, Fakhri mengalami kritis. Dia yang mengemudi membanting stir ke kanan untuk menghindari mobil yang sedang melaju kencang untuk menghindarinya. Tapi, Fakhri tidak terkendali sampai mobilnya menabrak bangunan di pinggir jalan." papar Heru menjelaskan kronologi kejadian yang ia ketahui dari penumpang yang selamat bersama Fakhri.


Karin syok membekap mulutnya mengetahui tabrakan tersebut. Dia terhunyung ke belakang namun, ada tangan kekar yang menahannya.


"Tante..." pekik Cici kaget.


Mereka melirik siapa orang itu, terutama Karin yang masih kaget. Dan seketika tangisnya pecah setelah mengetahui jika orang itu adalah Danu, putranya.


"Zio...! Papa... dia..." Karin sulit sekali berkata apa-apa. Mulutnya terasa berat, dadanya terasa sesak mengetahui keadaan sang suami.


"Zio sudah mendengarnya, Mah. Untuk itulah aku datang kesini buat kalian." Danu memeluk erat mamanya yang terisak menangisi keadaan suaminya.


Anita, ikut sedih. Dia mengusap punggung Karin lalu memeluknya. Cici mengepalkan tangannya melihat wanita itu ada di sini. Setahu Cici, dialah istri siri Danu yang menyebabkan Diana terluka lahir batin.


Danu dan Anita melirik Cici, mereka tahu maksud dari ucapan sahabatnya Diana itu. Tapi untuk saat ini, dirinya enggan membahas itu karena yang ingin ia bahas persoalan papanya dan seputar pekerjaan.


******


Indonesia


Hari mulai nampak berganti pagi. Dengan telaten, Diana mengurus keperluan bayinya secara sendirian mencoba untuk mandiri tanpa bantuan orang lain.


"Ba... anak bunda sudah tampan dan harum, ya. Udah mandi, udah wangi." Diana mengajak putranya berinteraksi. Dan itu membuat bibir baby Arka bergerak dan tersenyum tipis meski matanya terpejam dan sesekali menggeliat.


"Tampan sekali, pasti anak bunda senang ya, udah mandi. Sekarang kita menjemur di depan, ya, Nak." perlahan, Diana mengambil baby Arka menggendong lalu membawanya ke luar rumah di bawa berjemur mumpung masih pukul setengah delapan pagi.

__ADS_1


"Mbak Diana lagi jemur bayi, ya?" sapa tetangga kebetulan lewat sana.


"Iya, Mbak. Katanya papar sinar matahari pagi sangat bagus buat kulit dan kesehatan." Dian menjawab ramah sambil tersenyum manis.


"Itu memang bagus, Mbak. Tapi kemana suaminya? katanya udah nikah sama bli Fikri atas hasutan Bu Tamu, ya?" tetangga itu celingukan mencari Fikri.


Deg...


Diana terhenyak, dia juga tidak tahu kemana suaminya pergi. Ponsel tidak bisa di hubungi dan sekarang belum pulang juga. Diana hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka.


"Eh, Mbak. Hati-hati loh, sekarang kan banyak pelakor gencar mendekati suami kita. Saya hanya khawatir bli Fikri kepincut wanita lain. Dan untuk kejadian yang menimpa kalian, murni kesalahan mbak Tami yang kurang waras itu. Dia kan korban perselingkuhan. Jadi Mbak Tami sering menghasut orang yang menurutnya berbuat zina agar mereka tidak melakukan dosa. Dia itu gila, Mbak." bisik tetangga mengungkapkan siapa orang yang sudah membuatnya menikah.


"Astaghfirullah... jadi dia gila?" tetangga itu mengangguk. Diana mendadak murung, bisa-bisanya dirinya di permainkan oleh orang gila. Lalu soal Fikri? Saat ini dia bertanya-tanya kemana pria itu pergi dan kenapa belum pulang juga? Hatinya mendadak risau tidak tenang.


*****


"Aakkhhhh... tolong... tolong..." teriak Salma bangun dari tidurnya sudah ada Fikri di sampingnya dalam keadaan keduanya tanpa busana.


Fikri merasa terganggu, kepala yang masih terasa pusing mencoba membuka mata. Setelah berhasil, dia terkejut dirinya tidur bersama Salma.


"Salma... kau... kau menjebak ku brengsek..." Fikri marah, dia mencengkram rahang Salma dan wanita itu berteriak.


"Tolong... jangan lakukan ini padaku..." teriakan Salma membuat para tetangga kontrakan saling terkejut.


"Apa yang terjadi pada Salma? Ayo kita dobrak pintunya." pekik kaget tetangga sebelah mengajak masyarakat mendobrak pintu.


"Berisik...! Kau rubah sialan, bisa-bisanya kau menjebak ku dengan obat tidur." pekik Fikri masih mencengkram rahang Salma.


Brakk....

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?"


__ADS_2