Talak Aku!

Talak Aku!
Berusaha Tenang


__ADS_3

"Ma-maaf, Diana. Aku tidak bermaksud membentak mu. Aku hanya merasa lelah dan emosiku tidak terkontrol. Ada sedikit masalah." Fikri menyesali perkataannya barusan. Dia sampai membentak Diana atas kekesalan dan kemarahan kepada wanita yang sudah menjebaknya. Bagaimana tidak marah, Salma berhasil menjebak dirinya kedalam lubang kehancuran rumah tangga, dan itu sungguh membuat Fikri khawatir luar biasa, takut jika Diana pergi meninggalkannya.


Diana menatap sendu pria yang baru saja menikahinya dalam waktu 3 hari namun sudah berani membentak dirinya hanya karena alasan tidak masuk akal menurut pemikirannya.


"Ada apa? Apakah masalahnya sangat serius sampai kamu tidak bisa mengontrol amarahmu sendiri?" sebisa mungkin Diana mencoba untuk membuat Fikri tenang dan tidak membalasnya dengan kemarahan lagi.


Diana bukan orang yang mudah marah jika ada hal seperti ini, tetapi dia akan mencoba bersabar dulu untuk melihat seberapa jauh kemarahan orang tersebut, barulah dirinya membalas dengan suara yang lebih tinggi juga atau bisa menjadi kasar juga.


Tangan kirinya menggendong baby Arka, tangan kanannya mengusap lembut punggung tangan Fikri membuat pria berwajah manis memilih lesung pipi itu termangu menetap dalam wanita yang ada di samping kirinya dengan tatapan sulit diartikan.


"Diana, apa yang harus ku lakukan agar kamu terus di sampingku dan membuat Salma menjauhi hubungan kita ini. Aku sungguh tidak ingin kehilangan kamu. Ku sungguh mencintaimu sejak kota bertemu." Fikri hanya berani berkata dalam hati tanpa berani berbicara langsung kepada Diana. Saat ini hatinya bimbang, pikirannya gelisah jantungnya terus berdebar tidak karuan dan bingung akan sebuah keputusan apa yang akan ia ambil?


Jika dirinya memilih Diana dan berusaha menghindari Salma, maka Salma akan terus mengganggunya dan pasti terus saja mengancam dia. Dan hal itu tentu akan membuat Diana pergi dari hidupnya. Tetapi jika Fikri diam saja membiarkan tindakan yang Salma lakukan, maka akan semakin banyak lagi kebohongan yang pasti Fikri lakukan untuk menutupi kebohongan yang lainnya. Dia dilema diantara keduanya.


"Bli, apa yang terjadi?" Diana kembali bertanya secara lembut membuat Fikri tersadar dari lamunannya.


"Hah, tidak. Semalam sangat lelah banyak sekali pekerjaannya sampai membuat ku pulang malam. Di tambah tadi pagi ada masalah dengan orang bikin aku kesal. Makanya masih membekas dan terbawa ke sini. Maaf." lirih Fikri semakin tidak enak hati kembali membohongi Diana.


Diana tersenyum manis penuh kelembutan sampai wajah cantiknya memancarkan cahaya indah yang tidak pernah Fikri lihat dari wanita lainnya. Diana wanita berbeda hingga membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Daya tarik Diana mampu menarik perhatian dia yang dulu pernah terluka karena Salma atas pengkhianatan yang dilakukannya.


"Kalau begitu bli makan dan istirahat lah. Semoga pikiran bli jauh lebih baik setelah beristirahat." lalu Diana berdiri membaringkan kembai si kecil pipi chubby putranya di kereta bayi. "Aku mau memindah baby Arka ke kamar. Kalau bli mau beristirahat ayo, tidur bareng baby Arka saja."

__ADS_1


Diana berusaha keras memperlakukan Fikri layaknya suami seperti dulu ia melayani Danu. Dia masih mencoba menerima kehadiran pria yang sudah menjadi suaminya di kehidupannya sekarang, dan masih mencoba menyingkirkan nama yang masih tertulis di hati sanubari. Lantas, apakah Diana mampu menggantikan cinta pertama sekaligus orang yang sudah mengajarinya banyak hal? Jawabannya hanya waktu yang tahu.


Fikri mengangguk kemudian mulai menyantap hidangan makanan lagi. Dia berusaha menghabiskan makanan yang Diana masak di saat suasana hatinya selalu gelisah akan sebuah hal.


Diana lebih dulu masuk ke dalam kamar menidurkan baby Arka. Barulah Fikri menyusul Fikri saat acara makannya selesai. Nampak di dalam sana Diana membaringkan bayinya secara perlahan dan Fikri memperhatikan penuh perasaan.


Pria itu perlahan mendekati Diana dan berdiri di belakangnya memperhatikan bayi mungil tersebut. Barulah di saat Diana berdiri tegak Fikri memeluknya dari belakang membuat wanita satu anak itu terkejut dengan tubuh menegang.


"B-bli...!" gumamnya gugup merasa ada yang berbeda. Ia merasakan sebuah kerisihan saat tangan Fikri memeluk erat pinggangnya. Apalagi wajahnya terbenam di ceruk lehernya.


"Biarkan begini untuk sejenak saja. Aku hanya ingin memelukmu." lirih Fikri seraya menghirup aroma wangi dari tubuh Diana yang membuatnya tenang jika berada di dekatnya.


Untuk sesaat Diana membiarkan Fikri memeluk dia meski jantungnya berdebar karena merasa tidak enak. Padahal seharusnya dia biasa saja saat suaminya memeluk. Tapi ini berbeda, rasanya tidak nyaman. Ada hal yang membuat dirinya merasa tidak enak hati. Entah kenapa, Diana sendiri tidak tahu.


"Diana..." lirihnya lagi dan entah kenapa bibirnya mulai mengecupi leher istrinya.


Diana semakin di buat terkejut dan di saat itu pula anaknya bangun.


Oooaaaa... oooaaa...


Diana segera melepaskan pelukan Fikri dan hatinya seketika merasa nggak bisa terbebas dari pelukan Fikri. "Bli, maaf." ujarnya mengambil baby Arka.

__ADS_1


"Ah, aku yang minta maaf." Fikri gelagapan dan kalau tidak bisa mengontrol nafsu yang ia miliki. Lalu Fikri berbaring di di ranjang dalam keadaan tengkurap menyembunyikan wajahnya yang kacau.


"Hhhfuuh..." helaan nafas lega keluar dari mulut Diana. Dia mengecup pipi putranya berterima kasih karena sudah tanpa sengaja menyelamatkan dia dari dekapan Fikri yang membuatnya merasa takut dan tidak nyaman.


*******


Di rumah berbeda, Salma tengah duduk menikmati keberhasilannya menjerat pria yang ingin memiliki Meski Harus lewat jalur licik seperti ini. Dia tersenyum senang sembari menikmati minuman anggur berwarna merah seraya menghisap sebatang rokok yang tersemat di jari-jarinya lalu meniup asap nikotin tersebut.


"Fikri, kini kau berada dalam dekapan ku, tak akan ku biarkan kau bersama Diana. Kau akan menjadi milikku selamanya." Salma mengambil kertas hasil pemeriksaan palsu yang mengatakan jika ia tengah sakit paru-paru padahal semuanya hanyalah palsu.


"Hahahaha kau rupanya masih bisa kena tipu. Kau mudah percaya pada kertas beginian doang." Salma menyentil kertas tersebut tersenyum menyeringai.


"Lebih baik saya datang ke toko Diana dan melihat hal apa saja yang dilakukan Fikri di sana. Tentunya tidak akan ku biarkan Fikri semakin dekat dengan Diana." lalu Salma bangkit dari duduknya dan segera bersiap berangkat kerja. Meski sudah terlambat kerja, ia tidak peduli.


*****


Di bawah langit yang namun beda negara. Seorang pria sedang serius mempelajari beberapa dokumen tentang perusahaan makanan milik keluarganya. Pria itu begitu serius sampai tidak memperdulikan suara telpon masuk dari detektif yang ia sewa untuk mencari tahu keberadaan Diana.


Hingga kegiatannya di ganggu oleh seseorang yang masuk begitu saja ke ruangan kerjanya.


"Selamat siang, Zio."

__ADS_1


Danu diam tak menggerakkan tangannya ketika merasa mengenali suara itu. Dia mendongak dan seketika terdiam.


"Vanessa...!"


__ADS_2