
Fikri kembali lagi ke dalam menemani Diana melanjutkan makan siang yang sempat tertunda. Namun, dia melihat pergerakan Diana. "Itu makanannya belum habis sayang, kamu mau ke mana?"
Deg...
Panggilan sayang dari Fikri membuat Diana seketika terdiam mematung berdiri dengan tangan memegang ujung meja makan. Begitupun wanita yang sedang berada di dekat pintu menyaksikan Fikri begitu lembut berucap kepada bosnya.
"Aku sudah selesai mau melihat baby Arka. Kalau kamu mau makan silakan sekalian temani Salma kasihan kalau dia sendirian." Diana tidak memiliki pikiran negatif tentang keduanya. Saking percaya pada Salma dan Fikri tidak mungkin mengkhianatinya, Diana membiarkan keduanya makan bersama karena dia mendengar suara bayinya bangun dari tidur.
Diana yang hendak melangkah tangannya di cekal oleh Fikri dan keduanya berdiri saling berhadapan dalam posisi dekat. Diana yang hanya tinggi sebatas dada Fikri mendongak dan Fikri menunduk.
"Bisakah temani kami makan? Kamu bawa baby Arka ke sini juga. Tidak baik kamu meninggalkan kita berdua." pinta Fikri berharap Diana mau mengerti kalau dia tidak ingin di tinggal berdua saja dengan Salma.
"Aku akan menemani kalian, kok. Lagian tidak baik dua orang berbeda jenis kelamin saling berduaan. Aku hanya akan mengambil Arka saja lalu kembali lagi kesini," jawab Diana tersenyum membuat Fikri juga ikut tersenyum.
Tangannya repleks mengusap pipi chubby Diana. "Makasih ya sudah mau mengerti keadaan." Diana mengangguk lalu melanjutkan tujuannya mengambil baby Arka.
Fikri pun mendudukkan bokongnya seraya tersenyum bahagia Diana tidak menolak sentuhannya. Setidaknya dia bisa leluasa mengambil hati wanita cantik berlesung pipi kiri itu secara halal tanpa takut lagi warga sekitar.
Namun, atensinya teralihkan setelah mendengar suara Salma berbisik di telinganya.
"Senangnya bisa makan bersama kamu, bli," bisiknya lalu memberikan kecupan manis di pipi sebelah kanan Fikri kemudian duduk di sampingnya.
Fikri terkejut mendapatkan kecupan itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak di detik itu juga saking terkejutnya mendapatkan serangan dari Salma dan kembali jantungnya kian berdebar kencang takut jika Diana mengetahui apa yang sama lakukan.
"Apa yang kau lakukan, Salma?" bisik Fikri memperhatikan arah kamar di mana Diana berada.
"Memberikan kecupan manis buat pria yang masih bertahta di hatiku." Salma tidak sedikitpun merasa bersalah atau takut ketahuan oleh pemilik rumah.
Dengan artinya wanita itu mengambil makanan ke atas piring bahkan menuangkan beberapa menu makanan ke piringnya Fikri. Fikri melotot ingin menolak pemberian Salma namun Diana bersuara sampai membuatnya gelagapan dan duduk biasa saja.
"Eh Mbak Salma sudah berada di sini. Ayo makan, Mbak. Mubazir jika tidak di habiskan." Diana tersenyum ramah sembari menggendong baby Arka.
__ADS_1
Salam mengangguk. "Pastinya dong, Mbak. Mana mungkin saya menolak makanan seenak ini. Apa lagi yang menemani orang spesial," balas Salma dengan kalimat ambigu sambil melirik Fikri yang tengah melototkan matanya untuk membuat Salma diam.
"Spesial karena ada aku, ya. Hehehe." Diana tidak sedikitpun curiga. Hatinya terlalu bersih tidak memiliki rasa curiga sedikitpun terhadap perkataan Salma.
"Iya dong, kan Mbak Diana bos super baik dan pastinya cantik pula. Iya, kan bli?" Salma pintar sekali bersikap manis di hadapan Diana padahal hatinya ingin muntah memuji Diana. "Huuuooo, cantik kan saya kemana-mana daripada kau Diana," gumamnya dalam hati.
"Hah, iya." jawab Fikri gelagapan menunduk mengaduk-aduk makanan di atas piring.
Diana yang melihat sikap Fikri dibuat heran. "Kenapa makanannya cuman diaduk saja? apakah kamu tidak menyukai makanannya atau rasanya berbeda di lidah kamu?"
Fikri mendongak, "Tidak, sayang. aku suka makanannya pun enak. Hanya saja ku merasa canggung makan bareng orang yang bukan mahram kita," sindirnya pada Salma secara halus.
Sebenarnya Fikri tidak sepenuhnya berbohong, dia memang merasakan kecanggungan yang luar biasa duduk bersebelahan dengan mantan calon istrinya di hadapan istrinya. Apalagi ke Jepang singkat yang sama berikan membuat jantungnya berdebar kencang. Berdebar bukan karena cinta melainkan karena takut Diana mengetahui kelakuan Salma tadi.
"Kan ada aku yang menemani kalian. Jadi tidak perlu canggung begitu," balas Diana tersenyum tulus mengusap punggung Fikri.
Fikri sampai tertegun dan mendongak menatap wajah cantik Diana. "Aku bersyukur kamu ada di sini."
******
Jakarta
Siang itu Danu tengah berbaring di kasurnya. dia memikirkan tentang perasaannya kepada Diana. Perasaan yang semakin hari semakin tumbuh meski tidak ada orang di sampingnya. Danu tidak habis pikir cintanya kepada Diana sebesar ini daripada cintanya kepada Vanessa saat dia berkuliah dulu di Turki.
Danu sampai rela di putuskan Vanessa dan tidak sampai mengejarnya lagi meski pada saat itu dia begitu mencintainya. Tetapi kepada Diana, Danu sampai menyampingkan terlebih dulu menengok bapaknya saking ingin mencari keberadaan mantan istri yang ternyata teramat ia cintai.
Mengingat hubungannya dengan Diana, Danu ingin menyuruh seseorang untuk mencari informasi keberadaan wanitanya. Lalu dia pun mengotak-atik ponselnya menelpon orang yang ingin Ia hubungi.
"Hallo, tolong kau cari keberadaan wanita bernama Diana Maheswari. Pastikan kalian menemukan tempat keberadaannya saat ini. Saya akan mengirimkan fotonya lalu kalian secepatnya harus bertindak hingga nanti malam batas waktu informasi yang ingin saya dengar.
"Baik, kami akan mencarinya sesuai yang Anda perintahkan."
__ADS_1
"Ok. Saya tunggu kabar baiknya." Lalu setelahnya Danu mematikan ponselnya. Dia kembali menatap langit-langit kamar.
"Semoga nanti malam aku bisa mendapatkan info mengenai keberadaan kamu, sayang." Harapannya begitu besar kepada detektif yang ia perintahkan. Lalu Danu bangun kemudian pergi dari sana menemui Iqbal.
******
Bali
Tok.. tok.. tok..
Kegiatan Diana menyusui baby Arka teralihkan oleh ketukan dari pintu kamarnya. Diana kemudian bangkit sambil melepaskan salah satu gunung kembarnya dari bibir mungil Arka yang tengah menikmati nutrisinya sambil berjalan menuju pintu lalu membukanya.
Kepalanya langsung mendongak ketika berhadapan dengan lelaki tinggi berkulit hitam manis memiliki lesung pipi yang tengah tersenyum menatapnya dengan tatapan terasa begitu hangat seperti tatapan dan dulu.
"Apa aku mengganggu mu?"
"Tidak. Ada apa, bli?" Diana membuka pintu kamarnya secara lebar
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin melihat kalian berdua saja." Fikri memperhatikan wajah bayi mungil itu penuh seksama. "Ganteng sekali baby Arka. Dia mirip orang arab ya?
"Mungkin juga. Karena ayahnya memang terlihat seperti orang Arab." Diana pun masuk lagi di ikuti oleh Fikri dari belakang.
"Oh pantesan."
Namun, baru saja mereka melangkahkan kakinya dua langkah terdengar teriakan Salma.
"Akkkhhh... tolong... tolong..."
Diana dan Fikri saling pandang terkejut atas teriakan minta tolong Salma.
"Salma kenapa...?"
__ADS_1