
"Salma, Bli Fikri...!" Diana tercengang melihat apa yang ada di rekaman Cctv tersebut. Tangannya menutup mulut saking terkejutnya menyaksikan bagaimana Salma dan Fikri saling bertukar saliva di dalam toko, bagaimana Salma terus menggoda Fikri sampai Fikri tak berkutik melayani kecupan Salma.
Tubuhnya terasa lemas, dunianya kembali hancur dalam sekejap mata atas pengkhianatan suaminya. Pernikahannya kembali ternoda oleh dusta yang dilakukan sang pria. Kepercayaannya ternyata di nodai, ketulusannya menerima pernikahan ini ternyata di khianati oleh suaminya sendiri. Lantas, untuk apa arti kata cinta yang sering di lontarkan Fikri untuknya? Lantas, kemana setiap janji yang di ucapkan bahwa pria itu tidak akan mengkhianatinya dan juga akan berusaha membahagiakan nya? Apa ini yang di sebut akan setia dan akan menjaga rumah tangga mereka?
Tubuh Diana terduduk lesu menangisi kisah perjalanan rumah tangganya sendiri. Pikirannya kacau, hatinya pun kacau balau dengan pikiran terus saja banyak tanya.
"Mereka...! Mereka memiliki hubungan? Ini tidak mungkin. Ada hubungan apa diantara keduanya?" Diana terus bertanya-tanya seakan belum mempercayai gambar yang ada di sana. Tidak ada tindakan lainnya hanya sebatas berciuman saja namun itu tetap saja membuatnya merasakan sakit hati meski dia sendiri belum mencintai.
Seketika air mata yang sedari tadi ia tahan meluncur sudah membasahi pipi cantiknya. Diana terisak dalam diam merasakan kekecewaan yang mendalam. "Lagi dan lagi suamiku melakukan kesalahan. Kesalahan yang sama memiliki hubungan dengan wanita. Apa wanita pemilik pil kontrasepsi itu Salma?" gumam Diana menerka-nerka belum sepenuhnya menunjukan jika pil itu milik Salma. Namun hatinya merasa jika itu Salma. Tapi, Diana tidak akan begitu saja menuduh sebelum bukti kuat ia dapatkan.
Diana menghapus air matanya secara kasar, ia menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan.
"Kamu harus kuat, Dee. Kamu jangan lemah, kamu harus cari tahu lagi lebih dalam mengenai ini semua. Jangan bertindak gegabah." Perlahan ia mulai berdiri meski lutut masih terasa lemas. Tangannya pun masih gemetar memegangi kereta dorong bayi.
Kini, ia beralih mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk kuat selanjutnya. Diana mengedarkan pandangannya di sekitar kamar guna mencari sesuatu yang mungkin tertinggal di sana.
Hingga netra matanya menatap nanar benda pipih yang tertinggal di atas meja rias miliknya. "Ponsel? Ya, aku harus mencari tahu lewat ponsel. Aku harus bisa menyadap ponsel Bli Fikri."
Langkah selanjutnya dia akan mencoba menyadap pesan masuk pada ponsel Fikri. Tapi dia harus menunggu Fikri pulang dulu barulah dia bisa bertindak ke langkah selanjutnya.
Namun, ia tak sengaja melihat pesan masuk dari no baru ke no miliknya. Diana mengambil benda pipih itu kemudian membukanya. Lagi-lagi Diana di buat terkejut oleh isi pesan yang ia terima.
__ADS_1
Unknown : "Saya akan merebut suamimu, Diana. Sampai kapanpun Bli Fikri adalah milikku. Bahkan sebelum dengan mu kami sudah sering melakukan hubungan badan. Jika kau ingin tahu siapa saya datanglah ke alamat ini, xxxx."
Ada alamatnya juga di sana fan isi pesan tersebut sebagian berisi sebuah gambar tak senonoh Fikri dengan seorang wanita sedang saling peluk dalam keadaan setengah tak berbusana.
"Astaghfirullah...! Bli Fikri..!" Diana sampai menjatuhkan ponselnya terkejut melihat foto-foto vulgar itu. Tangannya semakin gemetar dan ia merasa berdosa telah melihat foto tersebut. Untuk pertama kalinya ia memandangi sebuah foto vulgar dan itu membuat Diana syok memejamkan mata dengan air mata kembali keluar secara tiba-tiba.
"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Ya Allah, kenapa begini? Ampuni hamba telah menonton gambar tak senonoh." Tubuh Diana sampai luruh kelantai terduduk lesu terisak kecil. Ia merasa bersalah sekaligus merasa sakit hati.
"Ya Allah, kejutan apalagi yang akan kau tunjukan kepada ku? Apa ini jawaban atas semua doaku yang meminta kau menunjukan siapa pria yang menjadi suamiku saat ini," lirihnya terisak seraya memeluk kedua lututnya.
"Mama, Papa, kenapa ini harus terjadi lagi kepada ku?" Bukan ini yang Diana inginkan, bukan begini rumahtangga yang di harapkan, bukan seperti ini kisah hidup yang Diana ingin jalani. Tapi Allah selalu menguji kesabaran hambanya dengan cara yang luar biasa. Diana menunduk menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan yang ada di lutut.
"Aku harus datang ke alamat itu. Ya, aku harus tahu siapa dia." Dengan keyakinan dan tekad yang kuat, Diana bangkit dari duduknya mengambil Baby A lalu mengambil gendongan serta tas dan tak lupa ponselnya ia bawa.
Diana menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. "Bismillahirrahmanirrahim, aku kuat dan aku bisa."
******
Salma tersenyum menyeringai, tangannya terus memperhatikan benda pipih yang ada di genggamannya.
"Diana, pasti saat ini kamu sedang syok melihat foto dan video yang ku kirimkan. Hahaha aku tidak akan membiarkan kalian terus bersama dan akan ku pastikan Bli Fikri hanya menikah denganku saja. Dan rumah ini..." Salma memperhatikan setiap sudut ruangan rumah yang ia tinggali. Rumah tempat tinggal Fikri hasil dari kerjanya sebagai tukang servis elektronik hingga kini menjadi sukses di Bali. "Ini akan menjadi milikku seorang. Tidak akan ku biarkan kamu memiliki semua ini dan tidak akan ku biarkan Fikri jatuh kedalam pelukanmu."
__ADS_1
Salma berjalan pelan dengan tangan kanan meraba setiap benda yang ada di sana. Bibirnya tersenyum puas bisa mengirimkan pesan pada Diana dan itu akan membuat hubungan Fikri dan bosnya berantakan. Hingga teriakan Fikri membuatnya kaget.
Wajah Fikri sudah terlihat merah menahan amarah. Dia tidak ingin lagi berada di bawah ancaman Salma dan akan membuat keputusan dalam hidupnya. Lebih baik kehilangan Salma daripada kehilangan Diana, begitulah pikiran Fikri saat ini.
"Salma keluar kau...!" suara Fikri terdengar begitu besar dan sangat marah. Dia sampai membuka kasar pintu rumahnya menggunakan kaki dan derap langkah terkesan tergesa.
"Salma..." pekiknya lagi menggema membuat Salma datang tergesa.
"Bli, ada apa?"
Grep...
Fikri langsung saja mencengkram pipi Salma sampai membuat wanita itu terbelalak melotot sempurna merasakan sakit yang luar biasa. Fikri mendorong kasar tubuh Salma hingga wanita itu terjatuh ke atas sofa dan ia menindihnya dengan cara menduduki kaki Salma.
"Saya tidak akan lagi mendengarkan setiap ancaman mu, Salma. Saya tidak lagi peduli dengan apa yang kamu lakukan. Mulai hari ini juga saya kamu TALAk!" suara Fikri menggema di sana membuat Salma semakin melebarkan mata seraya berusaha melepaskan cengkraman tangan Fikri yang begitu kuat.
Salma menggelengkan kepalanya enggan menerima perceraian ini. Dia mencoba untuk melepaskan Fikri. Namun tenaganya sangat kuat sehingga ia sulit sekali untuk lepas dari Fikri.
"Tapi, sebelum ku mengakhiri hidupmu layani saya dulu, jal@ng." Fikri menyeringai menarik paksa setiap baju yang di kenakan Salma.
"Ma-maksud mu?" Salma ketakutan jika jiwa pembunuh Fikri kembali datang di saat begini.
__ADS_1
Darah Fikri mendidih hebat penuh amarah dan ingin menghabisi nyawa Salma hari ini juga. Dia mengambil pisau lipat yang ada di balik saku celananya lalu mengarahkannya kepada Salma.
"Kau harus mati..."