Talak Aku!

Talak Aku!
Usaha Salma


__ADS_3

Setelah kepergian Diana ke minimarket terdekat yang tidak jauh berada di dekat rumahnya, Fikri langsung mengeluarkan unek-unek yang ia rasa atas kelakuan Salma.


"Kau ingin membongkar rahasia kita di depan Diana? Jangan harap! Sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan kau merusak rumah tanggaku dan Diana." Fikri kesal bukan mai pada wanita di hadapannya. Bisa-bisanya wanita itu begitu terang-terangan menggoda Fikri bahkan sudah memberikan kode jika mereka memiliki hubungan di belakang Diana.


Salma berdiri tersenyum manis seakan tidak memiliki rasa bersalah apapun. Toh yang ia lakukan benar, toh yang ia katakan benar, toh sekarang Fikri memang benar menjadi suaminya. Dan itu artinya ke depannya dia akan terus mengungkit-ngungkit masalah rumah tangga mereka di hadapan Diana.


Lantas, apa salah jika salma membuat drama di atas peristiwa yang terjadi? Tentu baginya tidak salah asalkan pernikahannya dengan Fikri terus berjalan. Dan akan ada saatnya Salma mengambil Fikri seutuhnya tanpa harus berpura-pura lagi baik di depan Diana.


Salma berdiri di dekat Fikri meraba dada pria itu. Fikri melepaskannya secara kasar enggan di sentuh oleh Salma. Apalagi ada baby A di dekatnya sedang menggeliat.


"Jangan kau berani mengangkat tangan kotormu itu kepadaku!" ancam Fikri menunjuk wajah Salma dengan tatapan tajam tidak menyukai tubuhnya disentuh.


Bukan sama namanya Jika dia tidak berhasil membuat Fikri bertekuk lutut padanya. "Kenapa? kita ini sudah menikah meski hanya pernikahan siri jadi kita sudah bisa saling menyentuh kan? Lagian dulu hampir setiap hari kita ini selalu main di atas ranjang meski hanya sekedar meraba. Sekarang kita sudah bisa loh sayang." Salma begitu genit mengerlingkan matanya menggoda Fikri.


Pria berlesung pipi itu bergidik ngeri enggan melayani Salma. Dia akan pergi dari sana membawa baby A tapi Salma langsung menarik tangannya membawa Fikri ke pojok dan menyerangnya.


Secara menggebu Salma mencium bibir Fikri penuh nafsu. Ia memberikan sentuhan menggebu agar Fikri terpancing. Fikri mendorong kasar kesal atas tindakan Salma.


"Kau gila, ini di toko." Fikri takut Diana datang padahal baru saja pergi. "Sudah ku bilang jangan pernah berani menyentuhku kau dengar tidak?"


"Saya tidak bisa, Fikri. Saya itu begitu Ingin menikmati suasana itu lagi Aku merindukan setiap belaian tanganmu." Salma sengaja menarik tangan Fikri dan menyimpannya di dada. "Ayo sentuh!" lirih Salma sambil tangannya mengusap bagian bawah Fikri yang sudah mengeras.

__ADS_1


"Saya tidak mau!" dengan sekuat tenaga Fikri berusaha untuk tidak melakukan ini kepada Salma. Karena dia ingin lakukannya kepada Diana.


"Ok, kalau kau tidak mau menurutiku maka jangan salahkan saya memberikan foto ini hari ini juga kepada Diana." ancaman Salma kembali keluar dan hal itulah yang membuat Fikri geram tak bisa berkutik sedikitpun.


"Kau..." tunjuk Fikri dengan rahang kian mengeras karena marah. Dan Salma semakin gencar melakukan tindakan yang ingin ia lakukan dari kemarin-kemarin dengan Fikri.


Wanita berambut pirang di cat itu kembali melahap rakus bibir Fikri sambil tangannya terus mencoba meraba setiap titik sensitif yang Fikri miliki. Namanya juga pria, sekalipun menolak jika dia sudah disuguhkan dengan sesuatu yang dulu pernah ia rasakan pasti akan terbawa nafsu juga. Tanpa sadar Fikri membalas apa yang sama lakukan. Di bangunan pojok dekat kasir, mereka saling bertukar saliva dengan tangan yang saling meraba bahkan saling meremas penuh nafsu.


Salma tersenyum puas kalau usahanya ternyata tidaklah sia-sia. Dia ternyata mampu membuat membuat lawan luluh juga. ini keduanya sudah sampai di atas kata wajar. kenapa? Karena Fikri sudah mulai menaikkan rok yang dikenakan sama meraba bagian dalamnya.


Oooaaaa... oooaaa...


Suara baby A terdengar nyaring mengganggu kegiatan Salma dan Fikri. Hal itu menyadarkan Fikri dari tindakan yang di lakukannya. Fikri sampai mendorong kasar hingga Salma terbentur ke meja sampai terjatuh pula.


"Aw... kenapa mendorong ku?" Salma meringis kaget lalu menurunkan roknya.


Fikri segera menggendong Baby A yang sedang menangis namun bayi itu malah semakin kencang tak bisa berhenti menangis. Fikri yang sedang dilanda perasaan resah dan bersalah begitu besar atas tindakan yang ia lakukan barusan. Tambah kacau saat mendengar baby A terus menangis.


"Baby jangan nangis, kamu mau mimi, nak? Fikri terus menggendongnya. Tapi bayi itu masih saja tidak mau diam memberitahukan Jika ia tidak menyukai tindakan papa sambungnya. Makanya menangis keras.


"Bayi sialan, dia sudah mengganggu aktivitas ku dan Fikri. Bisa-bisanya bayi itu bisa menangis di saat Fikri mulai terpancing birahi," gumam Salma membenci. Lalu dia membereskan lagi pakaiannya agar tidak terlihat berantakan.

__ADS_1


"Berhenti dong bayi, jangan menangis terus! Papa pusing mendengar tangisanmu, ditambah pusing dengan pegawai ibumu ini." Fikri sampai menggerutu karena saking kesalnya tidak bisa membuat baby A berhenti menangis. Dia sampai melupakan pesan Diana jika sewaktu-waktu anaknya menangis beri Asi yang ada di kulkas dengan cara dihangatkan sedikit saja.


"Bisa memberhentikan tangisnya tidak sih? Ganggu saja. Telingaku mendengar suara menyakitkan ini," ujar Salma mengomeli bayi mungil tak berdosa itu.


"Kau yang diam, bodoh. Semua gara-gara kau terus memancing ku sampai menyebabkan tangisan Anak ini menggema di sini dasar wanita murahan." sentak Fikri geram membuat tangis baby A tambah kencang.


"Berisik banget, sumpah. Kemana perginya Diana? Ke minimarket saja sampai bertahun-tahun lama begini. Kalau bukan karena dia bosnya, saya mana mau ke titipan bayi menyebalkan ini." Salma menggerutu marah. Sedangkan Fikri pusing harus berbuat apa.


Diana yang baru tiba di dekat toko terkejut anaknya menangis kencang dan ia segera berlari sambil memegangi perutnya menahan agar tidak sakit. Bagaimana tidak, baru saja seminggu lahiran sudah berjalan membeli setiap keperluan rumah. Fikri bukannya membantu malah diam di toko saja.


"Ya Allah sayang, maafkan Bunda lama." Diana panik sampai menjatuhkan asal barang belanjaannya dan segera beralih mengambil putranya.


"Mbak, kami sudah berusaha meredakan tangisnya tapi jadi tidak mau diam." seperti biasa Diana terlihat baik di depan Salma dan menusuk di belakangnya.


Diana tidak menjawab, dia hanya sibuk menenangkan putranya. Menggendong mencoba meredakan tangisan putra. Sudah panik katanya pun sudah mulai berkaca-kaca tidak tega melihat anaknya memerah sampai menangis tersedu.


"Sayang, maafkan Bunda. Bunda janji tidak akan meninggalkan kamu lagi. Kamu pasti mau sama bunda, ya." Diana berjalan ke tempat sedikit tertutup lalu duduk sambil tangan kanan membuka dua kancing baju paling atas. Kemudian dia mengungkapkan sumber nutrisi yang anak. Bibirnya terus mengucapkan kata maaf sambil menggendong dan sambil berusaha menyusui putranya. Dan barulah baby A diam dengan tangan mungil memeluk dada bundanya.


"Diana saya tidak tahu cara mendiamkannya," lirih Fikri menyesal tidak bisa merawat baik anak Diana.


Diana menoleh ke belakang. "Kau tidak memberinya susu?"

__ADS_1


Deg...


__ADS_2