
"Beraninya kau memukul ku." Fikri begitu menggebu membalas pukulan Fakhri. Dia tidak terima niatnya membawa Diana di halangi.
Sedangkan dua orang yang bersamanya berniat masuk ke dalam rumah. Tapi Fakhri berusaha menghadang agar tidak masuk sebelum Diana berhasil di ungsikan dari pria gila yang sudah terobsesi terhadap menantunya.
"Ayo Diana, buruan pergi!" titah Karin terus menengok ke arah depan melihat suaminya tengah berjuang sendirian.
Iqbal yang di mintai menjaga Diana tanpa banyak tanya menariknya membawa lari ke luar rumah.
"Ayo, Diana."
"Tapi ...." Diana masih bimbang antara pergi dan tidak. Dia melihat bayi yang ada di gendongannya dan beralih menatap papa Fakhri dan beralih menatap Karin yang memintanya pergi menyelamatkan diri dulu.
Bukan tanpa alasan Karin meminta Diana pergi, karena hanya dia saksi kuat atas apa yang di lakukan Fakhri. Jika Diana tertangkap, kemungkinan Diana tidak akan hadir di persidangan nanti.
"Pergilah! Cari tempat berlindung yang aman dari Fikri. Hanya kamu harapan kami, hanya kamu saksi kuat yang akan hadir di persidangan nanti. Lakukan semuanya demi kami dan demi ayah anakmu, Mama mohon ...." pinta Karin memelas.
Mau tidak mau Diana menuruti perintah Karin meski hatinya tidak ingin meninggalkan. Dia tidak bisa membiarkan ketidakadilan merajalela.
Dan Karin masuk menghampiri Fakhri setelah menutup pintu bagian belakang rumah.
Fakhri mulai kewalahan melawan tiga orang sekaligus. Tenaganya tidak sekuat saat muda dulu. Apalagi dirinya yang baru sembuh pasca kecelakaan tidak maksimal menghadang.
Di saat mulai lengah, Fikri menerjang Fakhri dan dan dia berlari masuk. Sedangkan papa Fakhri masih mencoba menghadang dua orang yang sedang berusaha masuk juga.
"Diana keluar kamu! Kau harus ikut aku!" pekiknya tak memperdulikan rumah siapa yang di serang.
"Kau tidak akan bisa membawa Diana pergi, Fikri," ujar Karin menghadang Fikri tanpa rasa takut sedikitpun. Tangannya sudah memegang alat serang, yaitu sapu.
Fikri tertawa melihat Karin mengangkat sapu, "Hahahaha, kau mau memukul ku menggunakan sapu itu? Tidak salah? Ck, mana mempan."
Namun, apa yang terjadi? Karin tanpa ampun memukuli Fikri, "Hia ... rasakan jurus emak-emak ngamuk ...."
Bug ... gedebag ... gedebug ... brang ... breng ... brong ...
Berbagai macam alat dapur Karin lemparkan ke Fikri tanpa peduli seberapa mahal panci yang ia beli. Sebelum menghampiri keributan, Karin mengambil alat-alat dapur.
"Gara-gara kau saya harus merelakan panci-panci kesayangan saya jadi korban senjata." Karin mencak pinggang di hadapan Fikri yang keoalanya tengah menunduk dan tangannya menghalangi kepalanya dan tubuhnya yang terkena getokkan sapu, lemparan gayung, terkena panci, "Rasakan ini ...." Karin menendang ember hingga ....
Pluk ....
Ember itu masuk tepat ke kepala Fikri.
__ADS_1
"Akkhh ... sialan kau emak peot. Beraninya melawanku," ujar Fikri ingin melepaskan embernya tapi Karin tidak membiarkan itu terjadi. Dia kembali mengambil dua panci dan di adu kan kedua panci itu tepat di depan Fikri.
Trang ... treng ... trong ....
"Anjay, kuping gue sakit emak peot," pekik Fikri merasa puyeng dan telinganya kesakitan mendengar suara panci yang terus di bunyikan.
"Rasakan, beraninya kau melawan emak-emak warga +62. Kau pikir emak-emak ini takut apa? Kau pikir emak peot ini akan menyerah dan akan membiarkan kau membawa anakku? Oh tidak akan, Junaedi. Langkahi dulu emak-emak rempong ini. Hia ...."
Bug ....
Karin menendang ************ Fikri membuat ke empat pria yang ada di sana meringis kesakitan. Fikri tersungkur ke lantai dan Karin kembali beraksi bertalu-talu di atas ember yang ada di kepala Fikri sambil bernyanyi.
"Aku tak mau kalau aku di madu, jeng jreng. Pulangkan saja kepada orangtuaku, hihah hobaa ... tarik mang ... semangka."
Fakhri menepuk jidatnya kala melihat ke bar-bar'an istrinya, "Kumat lagi, dah."
"Alamak, burung kutilang nya terkena tendangan maut emak-emak," ujar salah satu dari anak buah Fikri meringis memegangi burung perkutut nya. Namun terkekeh melihat Karin bersenandung nyanyi dangdut.
"Ishh, pasti itu sakit sekali. Kau mau merasakannya?" tanya yang satunya lagi yang berkepala plontos.
"Kau saja lah, mana mau burung saya kena amarah emak-emak."
Ya, saat mendengar suara berisik dari panci di lempar, ketiga pria yang tengah berkelahi itu malah terdiam saling lirik dan berlari masuk ke dalam melihat apa yang terjadi. Dan ketiganya malah bengong menyaksikan perkelahian antara pria gila melawan emak-emak.
"Kira-kira di antara kedua itu siapa yang akan menang? Fikri si pria gila, atau Karin si emak-emak pemberani?" tanya Fakhri malah mendadak akrab dengan dua orang yang tadi sempat bersitegang dengannya.
"Kalau saya tim emak-emak," ucap pria berkepala plontos.
"Saya mah tetap Bli Fikri, bos kita. Dia kan yang bayar kita."
"Baik, kalau gitu kita taruhan. Siapa yang kalah harus bayar 1 juta kepada yang menang, bagaimana?"
"Ok, deal." Dua orang malah menjadikan perkelahian itu bahan taruhan. Fakhri menatap heran dan merasa aneh.
"Dasar edan," ujarnya dan ....
Bug ... bug ....
Fakhri memukul telak kedua pria itu tepat di bagian hidung dan seketika kepala keduanya terasa pusing dengan darah tiba-tiba mengalir dari hidungnya.
Tuing ... tuing ... bruk.
__ADS_1
Ambruk dah.
Fikri pun merasa pusing dan sangat marah. Dia melepaskan ember yang ada di kepalanya secara kasar dan melemparkannya secara kasar pula. Wajahnya memerah, sorot matanya tajam, dan rahangnya mengeras dengan tangan terkepal kuat.
"Kau ... kau emak peot bar-bar. Saya tidak akan lagi membiarkan kau menang nenek tua!" sentak fikri namun kepalanya terasa puyeng berkunang-kunang.
"Hahaha ayo kalau berani lawan emak-emak ini!" Karin menantangnya sambil bertolak pinggang.
Fikri berdiri dan mendekati Karin dalan keadaan kepala pusing. Tangannya ingin mencengkram leher Karin tapi Karin menghindari dan memukul kelapa eh kepala Fikri menggunakan panci.
Tuk ....
Tuing ... tuing ...
"Banyak sekali bintang di kepalaku?" gumam Fikri semakin pusing dan malah menghitung nya, "Satu, dua, ti ....," bruk....
Fikri terjatuh tak sadarkan diri.
"Hiaa aku menang, aku menang," ucap Karin kegirangan.
"Bini kurang waras," gumam Fakhri menggelengkan kepalanya. Dan ucapan Fakhri terdengar ke telinga Karin hingga membuat wanita itu menoleh menatap tajam.
"Apa kau bilang, bini gila?" ujar Karin melototkan matanya.
Glek ...
Fakhri menelan ludahnya secara kasar kala sorot mata istrinya melotot, "Alamat tidur di luar ini mah."
"Mulai malam ini dan selama satu Minggu kamu tidur di luar kamar dan tidak boleh masuk kedalam gua berhutan rimbun!"
Trang ...
*************
Assalamualaikum teman-teman, aku ada rekomendasi novel yang tak kalah seru, lho. Yuk mampir ke judul DOCTOR and LOVE miliknya kak RYA KURNIAWAN. Di jamin seru dan tak kalah bagus sama dengan yang lainnya.
Ayo, yang jauh merapat yang dekat semakin rekat. Coba dulu, kalau sudah di coba pasti suka dan ketagihan. Tak kenal maka tak sayang, dan kalau udah sayang pasti cinta, dah. CINTA SAMA PENULISNYA and CINTA PADA KARYANYA.
AYO! Buruan mampir!
__ADS_1