
Penjelasan, Wanita hamil yang berpisah dengan suaminya karena talak atau karena ditinggal mati, masa iddahnya adalah sampai dia melahirkan.
“Wanita yang tidak haid lagi (monopause) di antara istri-istri kalian, jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) wanita-wanita yang tidak haid. Sementara wanita yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. At-Thalaq: 4)
Lalu apakah boleh wanita dalam keadaan nifas di nikahi?
Menurut Syaifullah, jawabannya adalah boleh. Tidak mengapa jika seorang perempuan dalam keadaan haid atau nifas dinikahi. Namun perlu menjadi perhatian bahwa laki-laki yang menikahi perempuan yang sedang dalam keadaan nifas atau haid tidak boleh menggauli istrinya hingga sang istri suci dari nifas atau haid.
Jadi, jika mendengan beberapa penjelasan dari ayat-ayat di atas, masa Iddah Diana sudah berakhir sejak ia melahirkan dan boleh di nikahi oleh pria manapun meski dalam keadaan nifas dengan syarat tidak boleh di gauli sampai suci. Mohon maaf jika ada yang salah, mohon koreksinya.
*******
Jakarta
Zio berdiri menatap bangunan rumah sederhana yang dulu ia dan Diana tempati. Dia tak kuasa menahan air mata di saat kenangan-kenangan manis serta kenangan buruk mampir di benaknya.
Iqbal sang sahabat sekaligus pengacara keluarga Zio menepuk-nepuk pundak pria berperawakan tinggi berwajah blasteran itu.
"Kau mau masuk kedalam atau mau ikut pulang ke rumah saya?" Iqbal menawarkan bantuan karena ia tahu jika mampir ke rumah lama Zio pasti pria itu tidak akan mampu menghilangkan bayangan indah yang pernah terjalin diantara dia dan Diana.
Zio menghapus air matanya tersenyum kecut di saat ke brengsekkannya berseliweran di benaknya.
"Aku istirahat di sini saja. Sekalian mau bernostalgia pada kenangan dulu tentang kita. Di sini banyak kenangan indahnya daripada kenangan pahitnya. Dan saya yakin jika ku mampu melewati semuanya. Lagian aneh banget no mama dan papa sulit di hubungi." Zio melangkah masuk membuka pagar sederhana kemudian dia duduk di kursi kayu yang ada di teras depan.
Iqbal pun mengikutinya dan ikut duduk.
Troktok...
__ADS_1
Bahkan kursi kayu tersebut sudah tidak lagi kokoh dan sudah berbunyi seperti ingin roboh. "Kursinya udah sangat lama dan sepertinya akan roboh," ucap Iqbal meneliti kursi kayu tersebut.
"Gimana gak keropos kan sudah 10 bulan di tinggalkan dan tidak di huni. Pasti banyak yang sudah mulai rapuh."
"Serapuh hatiku tanpamu, Diana. Kamu dimana? Aku merindukanmu," batin Zio sangat berharap bertemu dengan mantan istrinya dan ingin kembali memperjuangkan Diana kembali.
"Ya, kau benar. Berhubung kau memutuskan pulang kemari, aku mau pulang dulu. Masih ada pekerjaan yang harus di siapkan buat besok." Iqbal pun berdiri, dia menyugar rambutnya ke belakangan seraya berpamitan pada klien sekaligus sebagai temannya.
Zio mendongak menatap Iqbal lalu mengangguk. "Thanks ya, bro. Kau sudah mau membantuku selama ini. Kalau bukan atas bantuan mu mungkin gue masih berada dalam jeruji besi."
"Sama-sama, gue hanya membantu sebisa gue dan selebihnya kau yang melakukannya. Perubahan dan kebaikanmu semasa di dalam tahanan mampu membuatmu keluar lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Dan saya sarankan untuk tidak lagi berbuat gegabah dalam bertindak." Iqbal pun menepuk-nepuk pundak Zio tersenyum ramah.
"Semoga kau cepat di pertemukan dengan Diana dan bisa kembali menjalin hubungan lagi dengannya. Semoga kau memang berjodoh dengannya. Itu pun kalau Diana tidak menikah lagi."
Deg...
"Eh, kok gue jahat punya pikiran seperti itu.Tapi gue memang tidak rela Diana menikah lagi. Ya Allah, semoga hati Diana tetap untukku aamiin yarobbal'alamiin." doanya dalam hati.
"Ya mana kita tahu. Tapi semoga saja Diana masih sendiri. Dan tinggal lah kau yang berusaha mencari dia dan memperjuangkan dia. Gue pamit dulu." Kali ini Iqbal beneran pamit pergi meninggalkan Zio sendiri dalam lamunan yang membuatnya kacau balau.
"Tidak, Diana tidak boleh menikah lagi. Aku harus mencarinya dan segera menemukannya lalu ku nikahi kembali. Diana hanya milikku, Diana hanya tercipta untukku, dan Diana jodohku." Zio segera bangkit dari duduknya mencoba membuka kunci pintu rumah lalu masuk ke dalam.
Lagi-lagi rasa sesak yang ia rasakan di kala ruang itu masih tersusun rapi seperti saat mereka tinggal bersama. Zio menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara kasar. Dia harus bisa melewati hidup tanpa Diana di sampingnya.
"Kami bisa Zio. Kamu bisa." Dia berusaha menguatkan dirinya sendiri di saat desakan air sebening embun kian mampir di pelupuk matanya.
Zio terduduk lesu di sofa menundukkan kepalanya lalu memegangi kepalanya dengan sikut berada di atas paha.
__ADS_1
"Aakkkhhhh... kenapa kehilangan mu sesakit ini sih? Seandainya waktu itu aku tidak menyakitimu mungkin saat ini kita masih bersama, Dee. Seandainya aku tahu perasaanku lebih dulu mungkin kamu masih bersamaku. Seandainya aku tidak menceraikanmu mungkin kamu masih disini. Aku mencintaimu Diana, aku mencintaimu..." pekik Zio mengacak rambutnya prustasi dan menyesali setiap perbuatannya.
******
Deg...
Jantung Diana berdebar lebih kencang di kala hatinya merasakan ada yang memanggil dirinya. "Mas Danu..." ucap batin Diana berbarengan dengan kata sah terdengar di telinganya.
"Sahhh...." Dan di saat itu pula pintu terbuka.
"Diana..."
Diana menoleh, dia semakin terkejut ada Cici dan mama Karin berdiri menatap bingung ke arahnya.
"Mama, Cici. Dan seketika air mata Diana menetes begitu saja. Dia menyesali kenapa keduanya datang terlambat di saat dia sudah sah menjadi istri orang. Setidaknya jika keduanya datang tepat waktu mungkin pernikahan dadakan itu tidak akan terjadi begitu saja.
Karin memperhatikan sekitar dia juga menatap pria yang sedang berjabat tangan dengan pria dewasa seperti ustadz.
"Ada apa ini? Kenapa seperti ada pernikahan di sini?"
"Iya, Diana. Apa yang terjadi?" balas Cici juga penasaran.
"Jadi kalian saudaranya Mbak Diana? Syukurlah, jadi kami terpaksa menikahkan janda muda ini karena dia sudah berbuat zina," seru wanita bertubuh gempal kekeh pada penilaiannya.
Diana menggelengkan kepalanya seraya memeluk putranya. Cici menghampiri Diana memeluk sahabatnya. Dia percaya jika Diana tidak akan berbuat seperti itu.
"Jangan pernah kalian menuduh anakku," sergah Karin geram dan sakit melihat Diana menangis dengan sorot mata terluka.
__ADS_1