
"Ciluk ba ... hao hao, iya hao hakeng, ya. Anak Ayah udah besar, udah wangi, siapa sih yang mandiinnya?" Danu berceloteh riang mengajak baby A berbicara saat bayi mungil berusia tiga bulan itu mulai menunjukkan perkembangannya yang mulai bersuara hao hao.
Perkembangan yang membuat kedua orangtuanya begitu bahagia bisa melihat tumbuh kembang di kecil. Bayi mungil bertubuh gempal itu kini tengah menggerakkan tangan dan kakinya seraya menatap sang Ayah sambil berceloteh hao hao dan sesekali bayi itu tersenyum.
"Hao ... hao ... bababa ...."
"Ba, iya ciluk ba. Pintas sekali anak Ayah." Danu yang sedang duduk bersila di karpet bulu itu begitu semangat mengajak putranya berbicara.
Dia yang pada saat itu mengetahui anaknya masih hidup begitu bahagia dan sering berinteraksi dengan baby A. Kebahagiaan Danu bertambah kala pertemuannya dengan Diana di permudah dan kini wanita yang sedang ia tunggu jandanya itu sedang berada di kediaman orangtuanya.
Satu hari sehabis menginap di rumah sakit, papa Fakhri membawa Diana pulang ke kota J dan mengajaknya tinggal di rumah mewah yang baru di ketahui Diana jika Danu merupakan orang kaya.
Saat awal pertama kali menginjak rumah itu, Diana sempat kaget karena yang ia tahu Danu hanyalah seorang dosen saja dan rumah yang dulu di tempati adalah rumahnya. Tapi setelah di beritahukan jika rumah mewah itu milik keluarga, bari Diana mulai percaya dan sekarang tinggal di sana atas paksaan Karin dan Fakhri.
"Seru sekali kayaknya?" tanya Fakhri menghampiri putranya yang sedang mengajak bermain sang cucu. Beliau duduk di samping Danu memperhatikan cucu pertama sekaligus anak pertama dari Danu.
"Lihat deh, Pah. Arka begitu menggemaskan, dia terus ngikutin aku berceloteh. Tangan dan kakinya pun terus bergerak ingin menggapai ini," ucap Danu sambil menunjukan mainan yang ia pegang dan berbunyi.
Baby Arka memang sangat antusias sekali untuk mengambil mainan itu. Sungguh anaknya sangat aktif sekali dan sudah tahu mana ibunya dan mana ayahnya.
"Putramu tumbuh menjadi putra yang sehat, daya tangkapnya sangat kuat bahkan di usianya yang baru tiga bulan saja sudah begitu sangat aktif sekali. Saat kerja Papa jadi kangen terus dan ingin cepat pulang melihat cucu papa ini. Iya 'kan, ya. Opa juga ingin main sama kamu, ya." Papa Fakhri juga mengajak Baby A berceloteh dan bayi itu tersenyum sembari bersuara hao hao.
"Apalagi aku, Pah. Baru saja satu jam di kantor sudah sangat ingin sekali pulang dan melihat anak ku."
"Anaknya atau ibunya?" ledek Fakhri menyindir Danu yang sering pulang cepat dan malah mencari Diana dulu baru mencari putranya.
"Hehehe, kan dua-duanya, dong, Pah. Diana dan putraku."
Kedua pria itu mengobrol sambil mengajak Baby A bermain. Keduanya terlihat bahagia kala bayi mungil itu merespon orang dewasa.
Diana yang hendak memanggil mereka makan malam pun seketika terhenti di dekat pintu. Penampilannya yang berantakan habis bantu memasak tak ia hiraukan dan malah memperhatikan orang-orang yang ia cintai kini tengah tertawa bersama.
__ADS_1
Dia juga tersenyum manis merasakan kebahagiaan itu, "Semoga kamu selalu mendapatkan kasih sayang dari ayah dan nenek, kakek mu, Nak."
Diana sampai menunduk tak bisa membayangkan rasa bahagia yang membuncah di hatinya. Dia berpikir, bolehkan selamanya terus seperti ini? Bolehkan dia berharap bisa bersama orang-orang yang ia sayangi dan kumpul bersama lagi? Hingga lamunan itu buyar di saat seseorang berbisik tepat di telinganya.
"Pasti lagi membayangkan masa depan kita, ya, sayang," bisik Danu lalu menjauhkan wajahnya tapi masih berada di dekat Diana menatap dalam wanita yang ada di dekatnya penuh cinta.
Eh ....
Diana kaget kemudian mendongak dan wajah mereka begitu dekat karena Danu berada di hadapannya.
"M-mas ka-kamu kenapa ada di sini?" tanya Diana sangat gugup berdekatan dengan Danu. Jantungnya berdegup kencang kala mata itu menatapnya dengan tatapan berbeda. Entah kenapa dirinya selalu gelisah saat berdekatan begini.
Danu tersenyum, dia mengulurkan tangannya ke arah wajah Diana dan membenarkan kerudung yang Diana pakai.
"Karena ada kamu jadi aku ada di sini. Dimana ada Diana di situ pasti ada Danu, kita satu selamanya," ucap Danu terdengar begitu mesra lalu tangan kirinya mengusap lembut pipi Diana dan beralih memegang dagunya. Kemudian, Danu mengangkat pelan dagu Diana hingga mata mereka saling beradu pandang.
"Hah, eh, ti-tidak, astaghfirullah ... aku lupa," Diana gelagapan dan mencari papa Fakhri tapi sudah berada di meja makan bersama Mama Karin dan Baby A yang ada di pangkuan Mama Karin.
Dan dia segera berlari menjauhi Danu dengan wajah bersemu merah malu. Tiada pembicaraan apa-apa di saat makan, hanya ada keheningan dengan suara dentingan sendok menghiasi makan malam itu.
*****
"Oh iya, Diana, lusa 'kan hari persidangan kamu dan Fikri. Kita akan kesana saat persidangan perceraian nanti. Kamu sudah siap bertemu dia kembali?" tanya Karin saat mereka sudah selesai makan malam.
"Aku siap, Mah. Dan sekalian aku mau meminta maaf sama Bli Fikri karena tidak bisa menjadi istri yang baik selama menjadi istrinya."
"Masyallah, seharusnya dia yang minta maaf sama kamu tapi malah kamu yang minta maaf padanya. Sungguh calon istri dunia akhirat," sahut Danu mengagumi jawaban Diana yang menurutnya begitu luar biasa.
"Zio, kau ini main sahut saja. Kita lagi ngobrol, nih." Mama Karin protes karena di ganggu Danu.
__ADS_1
"Danu juga lagi ngobrol sama Diana, Mah." suara Danu mode serius. Dia menegakkan duduknya dan memandang Diana secara serius juga.
"Ngobrol apaan dari tadi ganggu kota Mulu," ujar Karin masih protes karena Danu sering menyela ucapan mereka.
"Aku mau memberikan pengakuan atas apa yang ku lakukan dulu. Dendam yang hampir saja membuat Danu kehilangan Diana dan anakku selamanya."
Deg ....
Diana yang tadinya menunduk langsung mendongak dan mata mereka beradu pandang.
Karin terdiam dan dia juga berpikir mungkin inilah saatnya mereka memberitahukan perihal peristiwa 5 tahun yang lalu.
Fakhri yang duduk di samping istrinya menghelakan nafas berat. Lalu Fakhri menyimpan kacamata yang ia kenakan ke atas meja dan serius juga menatap Diana.
"Kalian kenapa terlihat serius sekali?" Diana di buat keheranan karena pasalnya orang yang ada di sana begitu serius menatapnya.
"Dee," panggil Danu dan Diana menoleh menatapnya, "Aku minta maaf atas perlakuan ku dulu sama kamu. Aku mengakui jika pada saat itu niatku menikahimu hanyalah untuk balas dendam saja. Tapi, setelah melewati hari-hari bersama mu aku merasakan sesuatu yang membuatku nyaman dan seakan melupakan tindakan yang ingin ku lakukan. Hingga pada hari itu aku mengajak Anita datang ke rumah dan mengakuinya sebagai istriku. Padahal Anita adalah adik sepupuku," ucap Danu menjeda ucapannya dan melihat Papanya.
Diana yang tadinya menatap Danu kembali menunduk. Jika mengingat hari itu Diana sangat sakit.
"Kami juga minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kamu jika karena anak kami kami harus kehilangan saudara kembar kamu," tutur papa Fakhri mengerti lirikan putranya.
Deg ....
Diana kembali di buat tertegun dan kembali mendongak memandang papa Fakhri, "Ma-maksud nya?"
Karin menggenggam tangan Diana dengan mata yang berkaca-kaca, "Karena anak bungsu kami, Prisil telah mendorong saudara kembar kamu hingga mengalami kecelakaan."
Deg ....
"Apa ...?! Ini tidak mungkin ...."
__ADS_1