Talak Aku!

Talak Aku!
Keputusan Akhir


__ADS_3

Grep ....


Fikri menarik tangan Diana dan berdiri di belakangnya. Tangan kanan ia lingkaran ke lehernya Diana dan tangan kiri mengunci kedua tangan Diana di belakang.


"Ikut aku!"


"Diana...!" pekik mereka terkejut secepat kilat Fikri sudah menyandra Diana.


"Jangan ada yang mendekat! Kalau kalian melangkah sedikit saja saya pastikan dia mati hari ini juga!" pekik Fikri murka tiada tara.


"Kau gila, Fikri. Kau membahayakan keselamatan Diana." Danu mencoba mendekati Fikri namun mata Diana memohon untuk tidak ada yang mendekat.


"Tidak akan!" Fikri perlahan menyeret tubuh Diana ke luar gedung di ikuti orang orang-orang yang begitu khawatir terhadap Diana.


"Bli Fikri, apa kaku cinta sama aku?" tanya Diana begitu halus dan lembut.


"Diana, apa yang kamu katakan? Jangan bicara yang aneh-aneh, Dee." ujar Danu tidak mengerti kemana arah pembicaraan Diana. Bukannya meminta melepaskannya malah bertanya tentang cinta.


"Iya, saya itu cinta sama kamu. Saya tidak mau kamu meninggalkanku. Ayo kita pulang." Fikri mengajak Diana pulang dan tanpa di duga Diana mengangguk.


Semuanya terbelalak tak mempercayai jika Diana malah mengangguk mengiakan.


"Dee," ucap Danu begitu lirih merasa kecewa melihat Diana malah memilih Fikri, "Ku tidak ingat apa yang telah Dia berbuat kepadamu? Dia sudah menyakitimu, Dee."


"Benar Diana, kau jangan bodoh mau kembali pulang pada pria kurang ajar itu," sahut Cici menimpali.


"Bli, kita akan pulang kalau kamu melepaskan cengkraman tanganmu. Leher aku sakit, bli." Diana tidak memperdulikan orang-orang yang sedang menatap heran dan sedang memohon untuk tidak ikut dengan Fikri.


"Tapi kamu tidak akan pergi lagi 'kan?" Fikri memastikan kembali.


"Iya, aku tidak akan pergi."


Perkataan Diana yang begitu lembut dan tulus serta halus enak didengar, membuat Fikri seketika luluh dan perlahan mulai menurunkan tangannya.


Di saat itu pula Diana tidak membuang kesempatan untuk menjauhi Fikri. Diana mendorong kuat tubuh Fikri dan berlari ke arah Cici.


Dan saat itu juga para polisi yang memang sudah di beri isyarat oleh Diana lewat lirikan mata agar mau mengikuti rencananya, kini tengah mencoba menangkap Fikri yang hendak mengejar Diana.


"Diana ... kau telah menipuku. Saya tidak terima itu!" sentak Fikri memberontak mencoba melepaskan cekalan para polisi.

__ADS_1


"Daripada kita di sini, mending kita masuk ke dalam saja karena persidangan masih berlangsung," ujar Iqbal mengajak keluarga Danu masuk. Mereka mengangkat dan berbalik ingin masuk.


"Sudahlah, jangan banyak bergerak. Sekarang kau ikut kami masuk ke dalam lagi!" polisi menyeret paksa Fikri dan akan memborgol tangannya. Karena Sidang belum selesai maka akan terus dilanjutkan sampai sebuah keputusan diambil oleh Ketua Hakim.


"Saya tidak mau! Saya akan membunuh kalian semua. Hahahaha, kalian harus mati di tangan saya." Fikri kembali tertawa terbahak-bahak dan seketika raut wajahnya menjadi murung. Tapi sedetik kemudian menjadi marah menendang kedua polisi yang mencekal nya. Tanpa pikir panjang dan mungkin sudah kerasukan setan, Fikri menarik senjata yang ada di pinggang polisinya kemudian secepat kilat mengarahkan kepada Danu.


"Gara-gara kau Diana ku berkhianat. Mati kau sialan ...."


Diana menoleh kebelakang dan terbelalak, "Mas Danu!" pekik Diana yang ada di sebelah kiri berlari ke arah Danu dan memeluknya dari belakang.


Dor ....


Deg ....


"Diana ....!" jerit semua orang saat tahu suara tembakan menggema dan tertuju ke arah Diana.


Tubuh Danu menegang dan segera memegangi pinggang Diana sambil berbalik terkejut.


Bruk!


Ada tubuh seseorang yang juga limbung terjatuh ke tanah bersamaan letusan senjata api.


"Diana! Tidak ... Diana!!!"


Mereka mendekati Diana dalam keadaan penuh keterkejutan dan kepanikan yang begitu luar biasa. Dan Fikri segera di tangkap polisi dan tangannya di borgol kala pria itu lemas dalam keadaan tatapan kosong.


"Mas, maaf membuatmu repot karena masalahku," ujar Diana menatap sayu dengan tubuh mulai melemah. Matanya perlahan kian terpejam.


"Dee, kamu kuat, Dee. Jangan tinggalkan aku lagi, Dee." pinta Danu tak terasa menangis memeluk tubuh Diana. Tangannya tak sengaja merasakan sesuatu basah dari punggung Diana. Danu mengangkat tangannya secara perlahan. Dan matanya melotot melihat cairan berwarna merah berada di tangannya.


"Tidak, Diana," ucap Danu panik.


"Hei kalian, cepat panggilkan ambulance! Buruan!" pekik Fakhri menggeram ketika mereka malah menonton saja.


"Ma-mas, a-aku tidak ku-kuat lagi,' lirih Diana kian matanya mulai tertutup rapat dan tak sadarkan diri.


"Diana ...."


Danu mengepalkan tangannya menatap benci pada Fikri. Dia berkata, "Fikri ... brengsek kau sialan, kau telah membuat Diana ku terluka!" sentaknya marah.

__ADS_1


"Hahahaha ... Diana terluka karena ku, istriku terluka. Sialan kau Fikri, bajingan ...."


Fikri juga tak kalah syok dan berteriak marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi. Dan kini wanita yang ia cintai tengah terluka karenanya.


"Ayo buruan bawa dia ke rumah sakit!" seru Karin panik dan tanpa di banyak tanya Danu langsung membopong tubuh Diana membawanya ke dalam mobil.


"Hei, kau jangan kabur," ujar polisi menahan Danu.


"Kau tidak lihat orang yang aku cintai terluka, hah? Saya tidak akan diam saja melihat dia kenapa-kenapa!" sentak Danu tanpa memperdulikan polisinya.


"Tapi sidangnya belum beres, Zio," ujar Iqbal mencegah Danu kembali, "Setidaknya kau tetap ada sampai sidang selesai digelar. Sebentar lagi Zio, untuk Diana masih banyak yang bisa membantunya sebentar lagi selesai sidang penentuan."


"Iya Zio, mending kau selesaikan dulu biar kami yang membawa Diana pergi," sahut Rio.


Danu yang tadinya kekeh ingin membawa Diana terdiam untuk berpikir sejenak Lalu ia langsung membaringkan Diana di dalam mobil setelah mengiakan saran mereka dan dia segera kembali ke dalam ruangan sidang meski hati terus gelisah tertuju pada Diana.


Untuk Diana, wanita ibu satu anak itu akan mendapatkan sebuah penanganan, untuk Danu, pria itu sedang menjalani sebuah sidang penentuan. Lain halnya dengan Fikri yang saat ini melamun, kadang tertawa, kadang sedih, kadang marah.


"Saya telah melukai Diana. Ini terjadi lagi, ini terjadi lagi," batin Fikri menyesali perbuatannya yang tidak bisa mengontrol emosi.


"Menurut para saksi, bukti-bukti, dan tindakan yang di terima serta di perhatikan, maka saudara Fikri Rizaldy di nyatakan bersalah atas perencanaan pembunuhan terhadap Danu, kekerasan dalam rumah tangga, pengancaman terhadap orang. Maka dengan ini saya memutuskan bahwa Fikri Rizaldy dinyatakan bersalah dan mendapati hukuman seumur hidup. Sedangkan saudara Danu Alzio Fakhri, Anda dinyatakan bebas tidak bersalah," ucap Ketua Hakim sudah memutuskan mengakhiri sidang ini setelah melihat semua bukti yang di terimanya.


Apalagi kesaksian Salma yang menceritakan kejadian beberapa tahun lalu semakin memperkuat Fikri bersalah. Kejadian yang dimana Fikri pernah melenyapkan dua orang yang Salma sayangi.


Tok ... tok ... tok ....


Ketukan palu tiga kali menandakan sebuah pertanda jika semuanya sudah selesai. Di saat itu pula Danu langsung berdiri dan berlari ke luar ingin segera menemui Diana tanpa berpamitan kepada siapapun.


"Akkh ...."


Fikri berteriak sekencang kencangnya dan tak terasa menangis lesu.


********


Assalamualaikum para reader setia. Aku disini punya rekomendasi cerita yang tak kalah seru lho.


JUDUL : TERNYATA FIA JODOHKU


AUTHOR : SOFA MARWA

__ADS_1


Ayo buruan mampir!! dan jangan lupa tinggalkan jejak, ya. LIKE, KOMENTAR, dan VOTE serta HADIAHnya, ya.



__ADS_2