
"Jangan menangis lagi sayang. Semuanya sudah terjadi. Kamu harus ikhlas menerima garis takdir yang Allah berikan kepadamu. Ini ujian hidupmu dan kamu pasti mampu melewati semuanya." Karin berusaha menenangkan Diana yang masih terisak dalam pelukannya.
"Tapi kenapa ini tidak adil bagiku, Mah? Apa Diana punya salah sampai harus menerima garis takdir seperti ini? Apa Diana punya dosa yang di lakukan di masa lalu sampai aku harus mengalami ini semua?" Diana terus bertanya-tanya mengapa ini terjadi padanya? Kesalahan apa yang ia lakukan di masa lalu sampai dirinya mendapatkan hukuman seberat ini?
Semua hukumannya pun berkaitan dengan fitnah yang tidak pernah ia lakukan. Semua peristiwa yang menimpanya seolah-olah menjadi cambukan bagi Diana untuk terus menjaga dirinya agar tidak terlalu percaya dan terlalu dekat pada orang lain.
Cici pun tak bisa menahan tangisnya. Dia menggenggam tangan Diana memberikan kekuatan jika wanita yang sudah resmi menjadi ibu itu tidaklah sendirian. Masih ada orang lain yang akan mendukungnya dan setia berada di samping Diana menemani setiap suka dan duka.
"Jangan menangis begini Napa? Aku jadi ikutan sedih tahu. Nanti bayi kamu jadi sedih juga. Kamu kan baru saja melahirkan jadi kamu tidak boleh bersedih seperti ini. Lihat deh, anak kamu lucu banget menggeliat dalam gendonganku." Cici mencoba mengalihkan perhatian Diana pada anaknya agar tidak terus-terusan menangis meratapi nasib yang sudah terjadi.
Diana seakan tersadar dari kesedihannya. Dia pun menoleh ke arah bayi yang ada dalam gendongan Cici. Dia sadar ada anak yang harus ia perhatikan daripada sekedar rasa sedih yang di alaminya.
"Anakku." lirih Diana terenyuh melihat putranya. Kini, Diana mengambil alih anaknya. Dia mengecup lembut pipi kemerah-merahan tersebut.
Karin juga memperhatikan keduanya silih berganti. Dia tidak menyangka kini Diana sudah melahirkan di usia 21 tahun. Usia muda yang seharusnya masih menikmati masa remaja. Tapi Diana, harus menjadi ibu dan menjadi seorang istri di usia muda saat ini.
"Seandainya Zio tidak melakukan tindakan bodoh, mungkin kamu masih menjadi istrinya Zio. Seandainya Zio tidak menceraikan kmu, mungkin saat ini kita masih bersama di Jakarta dan kami tidak akan mengalami peristiwa seperti ini," batin Karin menatap sendu wajah cantik Diana meski terlihat sembab.
__ADS_1
Tatapan Karin beralih pada Fikri yang sedang duduk memperhatikan Diana. Dia mendekati pria itu dan duduk di sampingnya.
"Apa kamu mencintai Diana?" tanya Karin serius sampai mengalihkan perhatian Fikri, Diana dan Cici. Kini ketiga orang itu menatap Karin secara bersamaan.
Fikri melirik Karin lalu menatap Diana dengan tatapan mata penuh cinta.
"Aku mencintainya. Itulah sebabnya saya menerima pernikahan ini supaya saya lebih bisa leluasa mendapatkan hati Diana," balas Fikri serius.
Mata Diana dan Fikri saling bertatapan. Keduanya sama-sama ingin melihat dan menelusuri seberapa dalam perasaan keduanya. Fikri ingin tahu jika dia tidaklah main-main dalam ucapannya, Diana ingin tahu benarkah pria itu beneran mencintainya atau hanya karena rasa kasihan saja.
"Seberapa besar kau mencintai Diana? Apa yang kau lihat dari Diana? Dan kenapa kau begitu menginginkan Diana?" Karin kembali bertanya ingin mengetahui jawaban apa saja yang akan diberikan Fikri.
Karin tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar keseriusan Fikri dalam mencintai Diana. Cinta itu anugrah terindah dari Tuhan yang tidak pernah di ketahui kemana cinta itu berlabuh. Keduanya tidaklah salah dan keduanya di satukan oleh takdir yang telah Tuhan gariskan.
"Jika kamu mencintai putriku tolong kamu jaga dia, bahagiakan dia, jangan sakiti dia dan terimalah segala kekurangannya. Kalau suatu hari nanti kamu tidak mencintainya lagi tolong berikan dia pada kami secara baik-baik. Dan jangan pernah sekalipun kamu memukul Diana meski itu tidak sengaja." Karin memberikan wejangan berupa nasihat sekaligus peringatan kepada Fikri untuk tidak menyakiti Diana.
Fikri langsung menoleh pada Karin begitupun dengan Diana yang juga menatap Karin. Hatinya belum sepenuhnya menerima pernikahan ini namun semuanya sudah terjadi. Diana pun harus berusaha menerima dengan ikhlas Haris takdir yang Tuhan berikan untukku.
__ADS_1
Apalagi melihat keseriusan Fikri dalam berucap membuatnya hatinya terenyuh akan keseriusan dia dalam mencintai dirinya.
"Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keberlangsungan kehidupan kalian. Saya hanya berdoa semoga rumah tangga kalian sakinah, mawadah, warahmah. Saya berharap ini adalah pernikahan terakhir untuk Diana. Dan saya berharap kamu mampu menjaga Diana beserta anaknya selama mereka berada di sini."
"Mah..." Diana berucap lirih dengan bibir gemetar tak kuasa menahan desakan air mata. Sedih, harus menikah paksa. Bahagia bisa bertemu orang-orang baik yang menyayanginya, namun juga bingung harus berprilaku seperti apa kepada Fikri, suaminya saat ini.
Karin tersenyum tulus. "Terimalah pernikahan ini dengan lapang dada. Berusaha ikhlas lah dalam menjalankan semua ini. Dan bukalah hati kamu untuk suami mu. Haram bagi seorang istri untuk menyimpan cinta terhadap pria lain dan haram bagi seorang suami untuk mencintai wanita lain. Jadi, Mama harap kalian berdua sama-sama saling membuka hati dan membuka lembaran baru untuk menjalin hubungan bahagia."
"Saya janji akan berusaha membahagiakan Diana dan anaknya semampu saya. Dan saya janji akan menjaga Diana sampai akhir hidup saya," balas Fikri teramat senang jika hubungan keduanya mendapatkan restu dari orangtuanya Diana.
"Aku tidak butuh janji tapi yang ku butuhkan sebuah bukti. Janji bisa kau ingkari kapanpun kamu mau tapi bukti sudah pasti tidak akan kau ingkari karena bukti lebih nyata daripada sekedar ucapan janji belaka." sahut Diana memberikan kesempatan Fikri untuk membuktikan ucapannya.
Percuma dia menolak dan meratapi nasibnya karena Allah sudah menentukan jalan hidupnya. Tinggal kini dia menjalani semuanya dengan berlapang dada dan hati yang ikhlas.
Fikri tersenyum sampai menunjukan lesung pipinya. Dia mengangguk antusias. "Iya, aku akan berusaha menunjukan keseriusanku dalam mencintai kalian berdua," ucapnya begitu yakin dan tegas.
"Aduh gustiii manis sekali Abang ini. Lesung pipinya duh... bikin hati Adek meleleh," seru Cici terpesona pada senyum manis semanis gula yang mampu membuatnya dag dig dug der.
__ADS_1
"Cici..." Karin menggeram.
"Eh... hehehe maaf."