Talak Aku!

Talak Aku!
Terkesan Baik Namun Munafik


__ADS_3

"Kau tidak memberinya susu?" pertanyaan itu Diana lontarkan di saat ia melihat bagaimana putranya menyusu kuat seperti kelaparan sambil tangan mungilnya memeluk erat benda kenyal nutrisinya.


Deg...


Fikri baru menyadari kalau dia lupa memberikan susu pada baby A. Bagaimana tidak lupa, dia malah asyik bercumbu mesra dengan istri kedua. Sedangkan baby A di diamkan begitu saja dalam keadaan tubuhnya yang sudah bergerak tidak nyaman. Dan menangis kencang saat Fikri dan Salma hampir kebablasan.


"Aku..."


"Aku kan berpesan kepada kamu untuk memberikan baby A susu yang ada di kulkas lalu hangatkan. Dan kenapa enggak kamu kasih? Kenapa juga baby A sampai menangis kejer begini? Apa yang kamu lakukan padanya?" Diana mencerca Fikri dengan berbagai pertanyaan. Dia yang menjadi ibu dari anaknya merasa tidak tega putranya menangis sampai kejer seperti yang tidak di perhatikan dengan baik.


"Hmmm Mbak Diana, mungkin bli Fikri lupa akan hal itu. Tadi banyak yang datang, iya kan bli?" Salma bersuara untuk membela Fikri agar tidak terus di tanya dan di tatap mencurigakan.


Diana melirik Salma. Tatapannya pun tak kalah bening namun menusuk. "Mbak Salma juga kenapa tidak melakukan apapun sampai anak saya menangis begitu? Bukankah Mbak lebih dewasa dari saya dan Mbak juga pasti tahu cara mengurus bayi. Tapi kenapa kalian berdua malah diam saja dan malah bertengkar?" Diana terus saja banyak bicara ingin mengetahui kenapa kedua orang tidak bisa mendiamkan baby A. Tadi dia juga sempat mendengar Fikri dan Salma bertengkar dan bilang 'anak ini berisik sekali.'


Lagi-lagi kedua orang itu gelagapan bingung harus berkata apa. Keduanya merasakan khawatiran jika Diana mengetahui apa yang mereka lakukan. Fikri takut istrinya minta cerai, Salma takut dia di keluarkan. Kedua memiliki alasan masing-masing untuk bertahan di Diana dalam hal apapun.


"Anu, tadi, kami bukan bertengkar tapi sedang membicarakan orang yang bertengkar," elak Fikri berusaha menjelaskan sesuatu yang tidak terjadi. Sungguh pandai bersilat lidah Fikri ini.


"Ah iya, itu cerita aslinya, Mbak. Sudahlah, jangan di bahas lagi masalah tadi. Kan baby A sudah berhenti menangis. Sekarang kita lanjut lagi kerja." Salma menghindari tatapan Diana dan berjalan ke depan toko memisahkan daun-daun bunga yang layu dari tangkainya.


"Diana, saya minta maaf." Fikri merasa bersalah atas tindakan yang ia lakukan, semuanya. Sungguh dirinya menyesali perbuatan itu.


'Diana, jika kami tahu apa yang ku lakukan apa kamu akan memaafkanmu?' batin Fikri.


Diana menghelakan nafas berat tak tahu harus apa. "Iya."


*******

__ADS_1


"Selamat Zio, kamu berhasil memenangkan proyek ini. Selamat, ya." papanya Cici memberikan ucapan selamat setelah mereka mengadakan meeting bersama para klien.


Zio mampu menenangkan kerjasama antar perusahaan sehingga kini perusahaan milik keluarganya berhasil di pulihkan kembali. Ya, alasan Fakhri ke Turki sebenarnya untuk membantu papanya memulihkan perusahaan mereka yang bergerak di bidang pembuatan makanan seperti makanan ringan.


Fakhri mendapatkan kabar jika salah satu orang kepercayaannya korupsi besar-besaran sehingga dia turun tangan langsung ke lapangan dan tidak memberitahukan kepada istrinya ataupun kepada anaknya. Fakhri hanya memberitahukan masalahnya kepada adiknya, papanya Anita. Dan juga papanya Cici yang juga merupakan pekerjanya.


Dan jika Danu berhasil menenangkan tender, maka perusahaan keluarga bisa kembali di selamatkan dan para karyawan bisa kembali bekerja tanpa harus keluar kerja.


"Terima kasih om atas bantuannya. Ini saya lakukan atas bantuan Anda juga." Danu tersenyum ramah sedikit mengangguk dan menerima jabatan tangan dari Rio, papanya Cici.


"Meskipun kau berhasil tapi saya tidak akan memaafkan kesalahanmu terhadap anak saya, Diana." Papanya Cici kembali pada mode biasa tidak seramah saat kemarin-kemarin. Dia yang sudah menganggap Diana anaknya tidak terima Danu mempermainkannya.


Dan senyum ramah Danu berubah menjadi keterkejutan dan wajahnya berubah masam. Dia mengakui kesalahannya atas kelakuan dia kepada Diana.


"Saya tahu kesalahan saya tidak mungkin bisa di maafkan. Tapi saya janji akan memperbaiki semuanya. Kalau boleh saya tahu, dimana Diana saat ini?" mumpung pria yang ada di hadapannya membahas Diana, Danu mengambil kesempatan itu untuk mendapatkan informasi mengenai Diana.


"Om..." Danu menunduk lesu menghelakan nafas panjang. "Apa kabar dengan Diana? sedang apa saat ini dia di sana?" batinnya.


*******


Dan saat ini Diana sedang merasa tidak enak badan. Mungkin karena kurang tidur, sering mengerjakan tugas rumah, ngurus bayi, ngurus suami, mungkin juga kelelahan sering menjaga toko.


Akhir-akhir ini dia sering sendirian mengerjakan tugas semuanya. Salma jarang masuk setelah kejadian waktu satu minggu yang lalu saat baby A nangis kejer dengan alasan suaminya sering minta di rumah. Dan dengan percayanya Diana tidak mempersalahkan itu.


Fikri jarang ada di rumah dengan alasan sering ada kerjaan. Sikapnya pun kadang baik, kadang cuek, terkadang sering marah gak jelas. Seperti hari ini, sikap Fikri terlihat perhatian sama Diana.


"Kamu istirahat dulu yang benar. Toko bunga biar aku yang handle, dan urusan rumah pun biarkan Salma yang bantu. Nanti kita bantu kamu dalam segala hal termasuk bantu jaga baby A," ucap Fikri sambil memberikan satu sendok makanan buat Diana.

__ADS_1


"Aku tidak mau makan, bli. Rasanya pahit di lidah." Diana menolak makan karena tidak enak saat di kunyah. Wajahnya pun terlihat pucat, matanya terlihat lelah.


"Sedikit saja, ini juga demi kesehatanmu. Kalau kamu tidak makan kasihan baby A. Makan ya?" Fikri kembali membujuk Diana untuk makan. Dia tidak tega istrinya sakit begini karena kelelahan. "Ayo, a!"


Diana menatap dulu mata Fikri, lalu beralih menatap menatap makanan yang ada di tangan Fikri.


"Ayo buka mulutnya!" Fikri menyodorkan satu sendok makan ke depan mulut Diana. "Untuk anakmu juga."


Diana pun membuka mulutnya karena ia sadar jika dirinya butuh nutrisi untuk menyusui putranya.


"Hanya satu sendok saja, gak lebih." Diana memelas karena tidak ingin terlalu banyak makan yang rasanya hambar tak ada rasa.


"Harus banyak biar cepat sembuh." Fikri terlihat sekali perhatian dan menunjukan kasih sayangnya. Namun, tanpa Diana sadari jika Fikri sedang menyembunyikan pernikahan keduanya dari dia.


"Iish, maksa banget sih."


"Biar kamu cepat sehat."


Lain halnya dengan Salma yang tengah mengumpat karena bayi mungil menggemaskan itu pipis di gendongannya.


"Dasar kau bayi sialan, bisa-bisanya kau mengompol di pangkuanku. Ini itu baju baru, kau tidak punya otak hah?" Salma melototkan mata saat memarahi bayi yang ada di gendongannya seraya satu tangannya terlihat ingin mencekik leher bayi itu.


"Gara-gara kau saya yang di suruh bli Fikri mengasuh mu. Dasar sialan, ingin ku bunuh kau."


"Apa yang kau lakukan Salma?"


Salma mendongak, "Eh...! Ti-tidak."

__ADS_1


__ADS_2