Talak Aku!

Talak Aku!
Keterkejutan Danu


__ADS_3

"Apa..?! Diana di Bali?!" pekikan penuh keterkejutan dari suara seorang pria, mengalihkan pembicaraan orang-orang yang ada di sana.


Mereka semuanya menoleh ke arah dimana suara itu berasal. Dan terkejut melihat pria tampan berada di sana tengah berdiri memandangi mereka dengan raut wajah keterkejutan yang tiada tara.


"Zio...!" mereka semua serempak memanggil nama pria yang ada di dekat pintu.


"Kau pulang? Kenapa tidak memberitahukan mama dan papa? setidaknya Jika kamu memberitahu kami kamu bisa menjemputmu di bantara." Karin mendekati Zio lalu putranya menyalami tangan ibu yang sudah melahirkannya.


Tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang-orang yang ada di sana terutama kepada orang tua, mengalami terlebih dulu Papanya, dan Rio. Tapi tidak dengan Cici yang hanya menatap sinis tidak menyukai pria yang sudah menyakiti Diana.


"Tadi kalian bilang Diana ada di Bali. Apa benar dia di sana saat ini?" Danu kembali bertanya mengenai kata yang sempat tadi ia dengar saat baru memasuki ruangan tempat di mana orang-orang berada.


Dia yang baru saja tiba di depan rumah orang tuanya sempat heran karena pintu rumah terbuka begitu saja. Sehingga Danu langsung masuk mengucapkan salam ataupun tanpa menekan bel rumah. Dan alangkah terkejutnya dia saat mendengar nama Diana disebut dan kaget ada Bali.


Karin, Fakhri, Rio saling lirik. Mereka bingung harus berkata apa. Apakah mereka harus memberitahukan perihal keberadaan Diana pada Danu atau tidak.


"Pah, Mah, jawab! Apa Diana ada di Bali saat ini? Jangan ada lagi dusta diantara kita dan jangan menutupi apapun lagi dariku?" Danu terus mendesak orang yang ada di sana untuk memberitahukan perihal Diana.


"Danu... kita..."


"Atau jangan-jangan kalian juga yang selama ini merencanakan memisahkanku dengan Diana? Kalian buat Diana pergi dari kehidupanku agar aku tidak bisa menemukannya dan kalian sengaja menutupi keberadaan dia agar aku tidak lagi bisa memilikinya? Jawab!" Danu mulai mencerna Setiap peristiwa demi peristiwa yang ia alami dan mengaitkannya dengan kejadian saat ini di mana ia mengetahui sesuatu yang membuatnya terkejut bukan main, keberadaan Diana.


"Danu, Papa minta maaf sama kamu. Pa..." belum lagi selesai bicara lagi-lagi dan sudah bersuara memotong berkat dan Papanya.

__ADS_1


"Jadi dibalik semua ini adalah Papa? kalian semua bersekongkol?" Danu tidak habis pikir kenapa orang-orang yang ia sayangi tega membohonginya dan membiarkan dia bagaikan orang gila mencari Diana kesana kemari. Tapi ternyata, orangtuanya lah yang menyembunyikan semua ini.


"Kami terpaksa melakukan ini untuk memberikan kau pelajaran agar kamu itu mengerti dan bisa menghargai orang yang selama ini mencintaimu. Mungkin dengan ketidakadaannya Diana di sisimu, hal itu menyadarkanmu jika kau juga mencintainya bukan?" ujar Fakhri mengungkap sebuah alasan di balik ia terpaksa memisahkan Diana dari putranya sendiri. Hal itu ia lakukan demi putranya supaya bisa sadar tentang perasaannya.


"Tapi tidak dengan harus mengajukan perceraian pengadilan agama. Dan kalian semua sudah menyebabkan aku dan istriku bercerai." Danu malah marah tidak menerima semua kebohongan yang orangtuanya lakukan. Meski ia akui jika dirinya juga salah tapi dia sama sekali tidak memikirkan jika hal ini ada sangkut pautnya dengan orang-orang yang ia sayangi.


"Apa kau lupa jika kau sendiri yang telah menceraikan Diana hingga menyebabkan dia mengalami kecelakaan dan keguguran?" sahut Cici geram atas perkataan Danu yang terkesan menyalahkan orang tuanya atas perceraian mereka.


Deg...


Dan Danu terhenyak terdiam tanpa bicara dan menyadari akan peristiwa itu. "Saya menyesal," lirihnya setelah beberapa saat terdiam sejenak.


"Tidak perlu kau sesali karena semuanya sudah terjadi. Dan sekarang kami tidak mungkin menyembunyikan Diana lagi, kau sendiri sudah tahu di mana dia sekarang," sahut Karin.


"Iya. Tapi dia..." ucapan Karin kembali menggantung saat Danu malah langsung berlari lagi.


"Zio kau mau kemana lagi? Kamu baru sampai mau pergi lagi?" Karin memekik ingin mengejar tapi di cegah eh Fakhri.


"Biarkan dia pergi menemui Diana. mungkin ini salah satu jawaban dari pertanyaan Rio tadi siapa yang akan ke sana? Dan ternyata Danu lah yang kemungkinan bakalan menyelamatkan Diana. Papa tidak memungkinkan ke Bali dalam keadaan duduk di kursi roda. Rio juga tidak mungkin kesana karena sedang sibuk masalah kerjaannya, Cici tidak bisa di pastikan kuliah, dan Mama juga tidak mungkin karena harus mengurus Papa di sini." Panjang lebar Fakhri mengatakan alasan logis kenapa mereka tidak memungkinkan ke Bali. Dan berhubung Danu sudah ada, maka Fakhri mempercayakan Diana pada Danu.


"Tapi bagaimana jika Danu tidak bisa menemukan Diana?" rasa khawatirnya kembali muncul lagi. Hati seorang ibu yang tengah mengkhawatirkan keadaan sang putri.


"Semuanya akan baik-baik saja. Kita doakan yang terbaik buat mereka bersama. Semoga saja ada seseorang yang mau menolong Diana keluar dari rumah itu dan bisa terlepas dari suami keduanya agar Diana, Danu kembali bersatu." Harapan Fakhri menyatukan keduanya begitu besar dan selalu berdoa agar mereka jodoh bersama.

__ADS_1


"Aamiin yarobbal'alamiin." Mereka serempak mengatakan amiin.


******


Bali


"Sudah berapa kali aku membujuk mu makan tapi kamu tidak mau terus. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau makan, sayang?" kali ini Fikri terkesan baik dan penuh perhatian. Sikap kasarnya pun tidak ada dan berubah menjadi pria lembut penuh kesabaran seperti awal pertemuan mereka.


Hal itu pun membuat Diana keheranan terhadap sikap Fikri yang mudah berubah menjadi dua kepribadian yang berbeda. Baik dan jahat.


Diana hanya menunduk seraya menggendong baby A dalma dekapan yang tengah tertidur. Rasanya telinga dia terasa panas kala kata sayang terucap dari mulut pria kasar di hadapannya.


"Diana, makan dulu, ya?" Fikri terus mencoba membujuk Diana makan. Padahal, tanpa sebab pengetahuan Fikri Diana sudah makan makanan yang ia masak saat pria itu keluar rumah.


Sudah dua hari satu malam ini, Diana terus dikurung di dalam rumah, dikunci tak dibiarkan keluar. Sedangkan keperluan makanan dan bahan-bahan yang lainnya termasuk bayi sudah ada stok buat satu bulan. Sehingga hal itu tidak membuat Diana kesulitan dalam keadaan begini.


"Saya tidak lapar, kami boleh simpan dulu makanan itu di meja!" barulah Diana bersuara karena Fikri terus menerus berusaha memberikan satu sendok nasi ke depan mulutnya.


"Kalau aku menyimpannya, kamu tidak akan makan. Aku suapin, ya?" Fikri kembali menyodorkan satu sendok berisi makanan ke depan mulutnya.


"Kalau dia tidak mau makan jangan di paksa!" Diana dan Fikri pun menoleh melihatnya.


Deg...

__ADS_1


"Salma...!"


__ADS_2