Talak Aku!

Talak Aku!
Semakin Tidak Terkendali


__ADS_3

Di dalam perjalanan, mobil beroda empat melaju cukup kencang melewati berbagai tempat perkampungan, perumahan, hingga persawahan.


"Laju kendaraannya bisa lebih cepat tidak, Rio?" tanya papa Fakhri kepada Rio yang menjalankan kendaraannya.


"Iya Rio, takutnya sidang keburu selesai dan kita tidak bisa hadir menyaksikan persidangan tersebut. Saya ingin lihat siapa yang akan menang di persidangan ini?" balas Karin yang juga tidak sabar ingin segera cepat sampai.


"Ini cukup kencang, lagian sidangnya kemungkinan baru sesi pertama dan pastinya versi kedua belum digelar. Yang penting saat Iqbal meminta Diana hadir menjadi saksi kita sudah sampai di sana."


"Semoga kita segera sampai sebelum sidang selesai dan bisa membantu membebaskan Pak Zio," sahut Cici yang duduk diantara Diana dan mama Karin.


Semalam, Fahri dan Karin diberitahukan Diana berada. Malam itu juga keduanya langsung menuju tempat yang dimaksud Iqbal untuk menjemput sekaligus membawa Diana pulang.


Hal yang membuat orang-orang begitu terkejut sekaligus takjub saat melihat penampilan Diana yang kian berubah jauh lebih cantik lebih anggun dan terlihat lebih menyejukkan bila dipandang mata. Bagaimana tidak, Diana kini memantapkan hatinya untuk berhijab dan beristiqomah dalam mengenakan hijabnya.


"Kami harap juga begitu, dan semoga tidak ada tuduhan memberatkan Mas Danu."


"Aamiin."


******


"Salma!!" Fikri mematung bergeming tak percaya Salma berada di sana. Dirinya bertanya-tanya apa yang akan Salma lakukan dan apa yang akan Salma ucapkan? Kenapa bisa wanita itu kenal dengan kubu Danu dan menjadi salah satu anggota yang membela Danu.


Danu sendiri mengurutkan keningnya sebab tidak mengenal siapa wanita itu. Tetapi hatinya bersyukur jika Ternyata Iqbal sudah menyiapkan segalanya tanpa memberitahukan apa yang Iqbal rencanakan. Ini sungguh di luar dugaannya dan tidak pernah menyangka sama sekali.


"Apa kau mengenal orang itu?" bisik pengacara Fikri pada Fikri sendiri. Tetapi pria itu masih dalam keadaan bergeming dengan wajah terlihat begitu panik.


"Sialan, kenapa dia ada di dalam pengadilan? Kalau Salma buka suara rahasia yang ku simpan busa terbongkar di sini," gumam batin Fikri begitu panik.


Danu melihat pergerakan Fikri, "Wow, rupanya kau terlihat kekhawatir. Saya yakin jika wanita ini ada sangkut-pautnya dengan kehidupanmu, Fikri."


Senyum mengejek penuh kemenangan terpancar di wajah Danu. Dia semakin yakin akan menang dan sekaligus bakalan menjebloskan pria itu ke penjara.


"Saudari Salma, apa Anda mengenal siapa pria yang ada di sebelah sana?" tanya Iqbal mulai bersuara setelah sama berada di tempat panas bagai saksi.


Salma memperhatikan Fikri, "Iya, saya mengenalnya dan sangat jauh lebih lama mengenal dia daripada Diana."

__ADS_1


"Baik, lalu kesaksian apa yang akan Anda berikan di persidangan ini?" tanya Iqbal kembali.


"Saya hanya ingin bersaksi bahwa saya melihat dengan mata kepala saya sendiri jika pria bernama Fikri Rizaldi sering melakukan perbuatan keji terhadap wanita bernama Diana. Pria itu menyekap istrinya sendiri, memperlakukan kasar istrinya sendiri dan selalu mengancam ingin melenyapkan putra dari istrinya."


"Maaf Yang Mulia, izin membela," ucap pengacara Fikri, "Darimana Anda tahu jika saudara Fikri sering melakukan tindakan seperti yang Anda sebutkan barusan? Karena menurut pengakuan klien kami istrinya tidak bisa menghargai suami sampai saudara Fikri memberikan sedikit pelajaran kepada istrinya."


"Pelajaran seperti apa yang kau maksud? Memukul Diana dan menyiksanya?" saut Salma membela Diana, "Anda tidaklah tahu apa-apa tentang pria yang menjadi klien Anda. Yang Mulia pak Hakim dan Pak Jaksa, saudara Fikri merupakan mantan narapidana yang memiliki kepribadian ganda. Dia pria gila yang selalu terobsesi kepada wanita yang ia cintai dan mampu melakukan bermacam segala cara untuk mendapatkan wanita itu. Bahkan membunuhnya pun mampu asalkan tidak ada yang bisa mendapatkan wanitanya," baper Salma begitu menggebu menatap benci pria yang tengah kebingungan serta tengah merasakan kegelisahan.


Danu di buat terkejut atas perkataan Salma. Dia masih setia mendengarkan pembelaan yang di lakukan Salma untuknya.


Brak!


Fikri menggebrak meja hingga orang-orang yang ada di sana terlonjak kaget.


"Bohong! Kau berbohong Salma, saya tidak gila. Saya masih waras dan tidak memiliki kepribadian ganda. Wanita itu bohong, dia berbohong, Yang Mulia!" sentak Fikri meninggikan suaranya. Kini amarahnya mulai terpancing kala mendengar semua yang dibicarakan Salma.


"Maaf Yang Mulia, saya punya bukti jika dia salah satu penghuni rumah sakit jiwa," ucap Salma memotong perkataan Fikri.


"Kau ..."


"Tidak Yang Mulia, kami tidak melakukan tuduhan atau fitnah semata, kami memiliki bukti kuat. Saksi selanjutnya masuk!" pinta Iqbal pada seseorang.


Dan Fikri semakin di buat terperangah kala matanya menatap pria yang selama ini menjadi dokter pribadinya.


"Do-dokter Gandi!"


"Yang Mulia, beliau adalah dokter Gandi, dokter pribadi saudara Fikri. Beliau ini salah satu Dokter syaraf yang menangani gangguan kejiwaan saudara Fikri. Saudara Gandi, dipersilahkan bicara!" titah Iqbal.


"Terima kasih. Saya di sini akan bersaksi dan mengatakan yang sebenarnya tanpa ditutup-tutupi. Saya di bayar oleh saudara Fikri untuk terus memantau perkembangan syarafnya. Setiap saudara Fikri kambuh, dia menjadi seorang pria kasar dan selalu melakukan apapun termasuk membunuh."


"Stop! Jangan kau teruskan lagi sialan! Saya tidak gila, saya masih waras. Kalian yang gila dan tidak waras sudah membiarkan Diana ku pergi. Kalian semua brengsek, akh ...."


Fikri berteriak kala kepanikan menyerangnya. Dia juga melemparkan barang yang ada di atas meja saat semua orang memihak musuh yang ingin ia jatuhkan. Rencana yang telah di dusun rapi kini malah menyerang balik. Dan yang membuatnya heran adalah kenapa bisa Salma dan Dokter pribadinya kenal mereka.


"Tenang, tenang, tenang. Semuanya harap tenang!" Pak Hakim meminta mereka tenang di saat situasi mulai tidak beraturan dan semakin memanas saja.

__ADS_1


"Kau tenang saja dulu, Bli. Semua pasti terselesaikan," ucap pengacaranya meminta Fikri duduk. Tapi pria itu menepis kasar tangan pria itu.


"Saya tidak bisa tenang brengsek, semua orang menyudutkan saya!" sentaknya kembali berdiri.


Fikri malah berlari mendekati hakim dan tiba-tiba menarik kerah bajunya. Tindakan Fikri membuat semua orang terkejut dan beberapa anggota kepolisian segera mencekal Fikri.


"Cepat hukum dia atau kau ku habisi!" ancaman Fikri begitu nyata karena pria itu menodongkan senjata tajam yang entah darimana ia dapatkan. Pastinya di bawa dan berada di saku yang ia sembunyikan.


"Lepaskan saya!" pinta pak Hakim ketika lehernya terasa sakit kala Fikri begitu kuat mencekam bagian kerah bajunya.


"Hei, lepaskan Ketua Hakim!" seorang polisi mencoba menghalangi tindakan Fikri.


Di saat sedang terjadi kekacauan, rombongan Diana baru tiba di depan gedung pengadilan. Mereka semua turun dari mobil.


"Ayo, kita harus segera masuk. Kita sudah telah 15 menit dari waktu yang di tentukan Iqbal," ujar papa Fakhri dan diangguki yang lainnya.


"Diana, biar baby A Mama yang gendong." Karin meminta Diana menyerahkan putranya kepada dia agar Diana tidak kerepotan saat di dalam.


"Iya, Mah." Diana pun memberikan Baby A


Di dalam tengah terjadi saling tarik antara polisi dan Fikri. Sedangkan pihak Danu malah diam menyaksikan keributan yang terjadi.


"Dia sungguh beneran gila?" tanya Danu.


"Sepertinya iya," balas Iqbal.


"Akh ... kalian semua pasti bekerja sama dengan pria gila itu. Saya akan menghabisi dia!" dia yang dimaksud Fikri adalah Danu. Fikri sedang mencoba melepaskan diri dari polisi yang tengah mencekalnya. Hingga mata dia tertuju ke pintu masuk dimana orang yang ia cari kini berjalan masuk.


Dengan sekuat tenaga Fikri mengamuk hingga menendang dua polisi itu dan berlari mendekati orang yang ingin ia temui.


Grep ....


"Akut aku!"


"Diana...!"

__ADS_1


__ADS_2