
"Tadi salah satu warga menemukan anak sekolah tergeletak di jalan dan wajahnya sangat mirip dengan adik ini karena saya juga ikut menyaksikannya." papar satpam sekolah memberitahukan peristiwa tadi sore.
"Apa...!?" Diana dan Marni terkejut mendengar kembaran Diana tergeletak di jalan. Keduanya shock Dan panik tanpa terasa air mata Marni menetes begitu saja.
"Se-sekarang dimana keberadaan anak saya, pak?" tanya Marni khawatir.
"Ita, pak. tolong kasih tahu di mana kembaran Saya sekarang berada?" Diana tak kalah panik serta khawatir.
"Setahu saya dia di bawa oleh salah satu pengendara mobil yang menemukannya di jalan ke rumah sakit Citra Medika." Jawab Pak satpam memberitahukan alamat rumah sakitnya.
"Dee, adik kamu..." Marni tidak bisa lagi berpikir jernih. Dia takut sesuatu terjadi pada anaknya.
"Bu, kita berdoa semoga Diandra baik-baik saja. Sekarang kita ke rumah sakit ya, Bu." Diana memeluk ibunya berusaha menenangkan sang Ibu agar tidak panik dan khawatir sedangkan dirinya juga sedang dilanda kekhawatiran yang luar biasa.
"Ayo, kita kesana." Marni mengangguk ingin segera ke rumah sakit.
"Tapi, Bu. Rumah sakit Citra Medika itu lumayan jauh apa kita punya ongkosnya? Tadi kan uangnya sudah kita gunakan ke sini dan tinggal sisa tiga puluh ribu lagi," tutur Diana kebingungan.
Mereka berasal dari keluarga sederhana. Marni hanya penjual gado-gado. Diana dan Diandra juga sering membantu ibunya berkeliling menjual aneka masakan matang. Uang simpanannya sudah menipis digunakan untuk keperluan kepala rumah tangga yang telah meninggal dunia.
Satpam di sana merasa kasihan dan juga merasa iba ada orang yang jauh lebih susah dibandingkan dengannya. Dia merogoh saku mengambil uang di celananya.
"Kalau kalian ingin ke rumah sakit gunakanlah uang ini, setidaknya ini bisa membantu menaiki angkutan umum hingga dua balikan untuk dua orang. Ambillah!" satpam itu mengulurkan tangannya memegang satu lembar uang merah. Dengan hati ikhlas dan tanpa pamrih, satpam itu tulus membantu Diana beserta ibunya.
Diana dan Marni melihat lembar bawang merah itu dengan mata yang berkaca-kaca. lalu mereka beralih menatap pada satpam baik hati di hadapannya.
"Anda yakin memberikan uang ini untuk kami? Ini cukup besar bagi kami."
"Saya yakin. Sekarang terpenting kalian bisa cepat sampai ke rumah sakit dan menemui salah satu anggota keluarga kalian. Ambillah."
"Bu..." Diana menatap Marni berharap ibunya menerima. Karena ini merupakan hal yang darurat membuat keduanya mau tak mau menerima. Dan tentunya sangat berterima kasih jika ada orang mau membantu mereka dalam kesulitan.
Marni menerima uang itu dengan tangan gemetar seraya menangis terharu masih ada orang yang begitu baik hati kepadanya. "Terima kasih, Pak. Uang ini kami terima, semoga Allah menggantikan uang ini dengan rezeki yang semakin berlipat ganda."
"Aamiin. Sekarang pergilah temui keluarga kalian." Bukan maksud mengusir melainkan supaya mereka segera cepat-cepat tiba di rumah sakit sebelum angkutan umum sulit ditemukan.
__ADS_1
Diana dan Marni mengangguk. Lalu keduanya berpamitan dan segera pergi ke rumah sakit.
Butuh perjalanan sekitar 1 jam untuk sampai ke rumah sakit yang dimaksud jika menggunakan kendaraan umum. Bukan Tanpa alasan melainkan karena padatnya kendaraan membuat mereka harus mengetem dan juga menunggu angkutan lewat.
Setibanya di depan rumah sakit, Diana dan ibunya berlarian menyusuri koridor secara tergesa ingin segera mengetahui kabar dari Diandra. Lebih dulu mereka menanyakan keberadaan korban tabrakkan sesuai yang diberitahukan oleh satpam tadi.
Setelah mengetahui ruangannya Mereka pun kembali berlari menuju ruang UGD. Dalam hati terus berdoa demi keselamatan Diandra. mereka tidak ingin kehilangan orang yang mereka sayangi lagi untuk yang kedua kalinya.
"Ini ruangan UGD nya, Bu." Diana dan Marni tiba di sana. Dan di sana juga ada orang yang sedang duduk di bangku tunggu. Dia memperhatikan wajah keduanya dan sempat terkejut melihat Diana sama persis dengan orang yang ia bawa ke rumah sakit.
"Kalian siapa?" karena penasaran, dia menanyakan langsung pada dua wanita beda usia itu.
Diana dan Marni menoleh, "Kita keluarga dari Diandra Maheswari korban tabrakkan di jalan Prapatan raya," jawab Diana mencoba tegar. Sedangkan Marni sudah lemas memegangi dadanya dan khawatir mengenai keadaan putrinya.
Sedangkan di dalam, tim medis sedang melakukan tugasnya masing-masing, mereka terus berusaha mencegah darah yang terus mengalir di kepala Diandra.
Nafas Diandra tersengal-sengal, matanya melotot, tubuhnya kejang-kejang. Rasa sakit yang ia rasakan akibat hantaman keras mengenai mobil truk tidak sebanding dengan rasa sakit yang saat ini sedang ia rasakan di mana nyawanya perlahan dicabut.
"Dok, jantungnya kian melemah." salah satu tim medis melihat alat pendeteksi jantung.
Namun, Tuhan berkata lain. mata Diandra yang tadinya melotot seketika terpejam dengan tubuh perlahan terbujur kaku terasa dingin tiada suku hangat terasa di kulit tubuhnya.
Tit....tiiiiiiiiitttttt...
"Dok...!" Dokter dan timnya menghelakan nafas lesu.
"Innalilahi wainnailaihi rojiun. Dia sudah tiada."
Sedangkan di luar.
"Saya Fakhri, orang yang menemukan gadis itu tergeletak dalam keadaan berlumuran darah. Maaf jika saya langsung membawanya kesini."
Diana dan Marni mengerti itu. Dan keduanya mengangguk. Lalu tak berselang lama, orang mengenakan baju hijau di tutupi masker keluar dari ruangan UGD.
"Keluarganya..."
__ADS_1
"Kami keluarga gadis berseragam putih abu-abu, Dok." sahut Marni menahan sesak di dada mencoba kuat menghadapi segalanya.
Dokter itu menunduk menyembunyikan kesedihannya. Dengan berat hati dia harus mengumumkan kabar buruk ini.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan keluarga kalian. Tapi Allah berkehendak lain. Mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya, dia sudah meninggal dunia," ucap dokter lesu.
Deg...
Diana dan Marni mematung tak percaya salah satu anggota keluarganya kembali tiada. Keduanya terasa lemas, air mata tanpa suara berjatuhan mengaliri wajah mereka. Marni semakin tak kuat menahan sesak dan sakit di jantungnya.
"Diandra..." Marni tak kuat memegang jantungnya. Diana dan orang yang ada di sana panik saat Marni tiba-tiba terjatuh.
"Ibu... hiks hiks ibu kenapa?" barulah tangis Diana pecah di saat kedua orang yang di sayangnya dalam keadaan tidak baik-baik. Diana memangku kepala ibunya. Air mata nya mengalir deras.
"D Dee... ja-jaga dirimu. I-ibu mo-mohon sekolah yang be-benar. Ga-gapai ci-cita-cita mu. I-ibu... sa-sayang ka-kamu..." Marni tak kuat lagi membuka mata. Dadanya semakin sakit, napasnya terus menerus sesak.
"Ibu... ibu jangan bicara seperti itu. Ibu... Dokter, tolong selamatkan ibuku Hiks Hiks." Marni perlahan terpejam terkulai lemah tak berdaya.
"Ibuuuuuu...." teriak Diana memeluk seraya menangis.
Fakhri dan dokter memeriksa keadaan Marni. "Innalilahi wainnailaihi rojiun." ucap keduanya tertunduk sedih.
Deg....
Runtuh sudah pertahanan Diana, dia syok, dia menangis sesegukan dengan jeritan histeris. Mulutnya terasa kelu, seakan terkunci tak mampu untuk berkata lagi. Semuanya hilang saat bersamaan.
FLASHBACK END
Tes...
"Ibu, Diandra, Ayah." sebulir air mata jatuh di pelupuk mata.
"Jangan menangis, nanti cantiknya hilang."
Diana mendongak, "Kamu..."
__ADS_1