
"Jangan pergi lagi, Dee! Ku mohon." Danu begitu lirih berucap secara halus di telinga Diana seraya menelusukan wajahnya ke ceruk leher Diana.
Deg...
Diana di buat menegang, jantungnya berdebar kencang kala nafas pria itu memburu menerpa kulit lehernya. "Ma-mas, tolong lepaskan aku!"
Dia tidak mau membuat kesalahpahaman terjadi diantara mereka. Keduanya sudah bukan lagi suami istri dan sudah tidak lagi memiliki hubungan apapun selain kata mantan. Apalagi keberadaan mereka di tempat umum membuat Diana dilanda kecemasan.
"Tidak, Dee. Aku tidak akan melepaskanmu lagi setelah ku menemukanmu. Aku sungguh menyesal telah menyakitimu dan tolong beri aku kesempatan lagi untuk bisa memperbaiki semuanya." Pelukan Danu semakin erat seakan takut kehilangan Diana lagi. Saat ini yang Danu pikirkan hanyalah rasa bahagia yang ia rasakan ketika bertemu kembali dengan wanita yang ingin Ia perjuangkan lagi. Tanpa peduli apa yang ada di sekitarnya, hanya sebuah ungkapan kerinduan yang Danu tunjukkan saat ini.
"Ku mohon lepaskan pelukanmu, Mas!" Diana masih bersuara lembut tapi juga penuh penegasan.
"Tidak akan sebelum kamu mau kembali padaku."
"Aku bilang lepaskan!" ujar Diana penuh penekanan, "Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi, dan kita tidak mungkin kembali bersama. Apa kau lupa jika kamu sendiri yang tidak menginginkan aku? Sadarkah kamu jika di sana ada istrimu yang kau cintai? Tolong biarkan aku pergi!" pintanya begitu lirih tak terasa air matanya jatuh begitu saja membasahi tangan Danu.
Kali ini Danu yang diam mematung menyadari kesalahannya dulu. Tapi sungguh dia tidak pernah menghianati Diana dengan menikahi wanita lain. Ya, Danu akui jika dulu dirinya tidak mengakui Diana di depan umum, hampir di lecehkan karena dirinya seakan tidak peduli, dikeluarkan dari kampus dengan tidak terhormat, dan semua itu Danu yang buat.
"Kamu salah paham, Dee. Aku tidak pernah memiliki istri selain kamu seorang. Aku mengakui jika dulu pernah tidak menginginkanmu dan hanya ingin membalaskan dendam atas kematian adikku. Tapi itu setelah ku sadar jika ternyata kamu begitu berarti untukku dan aku sangat mencintaimu, Dee." Danu pun melepaskan kedua tangannya yang memeluk melingkar di pundak Diana lalu membalikkan tubuh wanita nya hingga kini mereka saking berhadapan.
Diana menepis tangan Danu, "Kamu tidak perlu berpura-pura lagi di hadapan ku karena aku sudah tidak percaya lagi segala ucapan manismu itu. Terserah kau mau bilang dia istrimu atau bukan, melakukan semua itu hanya karena balas dendam atau bukan, aku sudah tidak peduli. Karena semuanya sudah hancur tak tersisa termasuk hatiku, kepercayaan ku, harga diriku, dan cintaku yang kau hancurkan secara bersamaan." Diana mundur beberapa langkah menghindari Danu. "Semuanya sudah berbeda."
"Diana maafkan aku," Danu menatap sedih wanita yang tengah menangis tanpa suara. Sebrengsek itukah dirinya sampai wanita yang ada di hadapannya tidak percaya perkataannya? Sejahat itulah dia jika mengingat waktu yang dulu?
__ADS_1
Ya, Danu tak bisa menampik semua rasa penyesalan itu. Bagaimana dia membuat Diana menangis karena membawa seorang wanita ke rumahnya, mempermalukan harga dirinya di depan sama orang atas apa yang ia lakukan di saat menidurinya, tidak mengakui dia sebagai istrinya di depan umum dikala semua orang terus menghina dan mencemooh dia wanita murahan, dikeluarkan dari kampus atas kesalahan yang tidak dilakukannya, hampir dilecehkan seorang pria hanya karena dirinya tidak memperdulikan Diana, dan harus kehilangan calon bayi mereka sebelum tahu kebenaran kehamilan istrinya.
Jika mengingat itu semua hati Danu tersayat perih menyesali segala macam perbuatan yang ia lakukan hanya karena ingin balas dendam tak beralasan. Sampai saat ini dirinya begitu menyesali dan tidak bisa melupakan itu semua.
Danu memejamkan matanya menahan sesak di dala kala bayangan buruknya terhadap Diana kembali melintas di benaknya. Bayangkan itupun kian berputar mengingatkan dirinya pada hal yang paling di sesali seumur hidupnya.
Di saat itu, Diana kembali melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana. Tangannya kanannya menghapus kasar air mata yang sedari tadi mengalir diundang. Tapi, ketika tubuh mulai menjauh ada suara yang menggema.
Oooaaaa... oooaaaa...
Bayinya tiba-tiba menangis membuat Diana panik dan Danu langsung membuka mata.
"Sayang, jangan nangis, Nak. Bunda ada di sini. Maafkan Bunda," ucap Diana berusaha menenangkan Baby A.
Danu memperhatikan keduanya, hatinya bergetar kala mendengar tangisan bayi itu. Suara khasnya terus terngiang di telinga sampai perlahan kakinya melangkah mendekatinya.
"Mungkin ingin mimi. Kamu bisa masuk ke mobil menyusuinya dulu," ucap Danu menyarankan Diana menyusui Baby A di dalam mobil. Tanpa ia sadari jika perkataan itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa berpikir dan mengetahui maknanya.
Diana sempat menoleh dan memikirkannya dulu.
"Jangan banyak pikir, kasihan dia." Danu ingin melihat wajah bayinya namun Diana segera mengangguk dan langsung berjalan menghampiri mobil yang telah di buka oleh Danu. Dan anehnya Diana juga tidak berpikir kenapa Danu menyuruhnya menyusui Baby A
Setibanya di dalam mobil, Diana mencoba memberikan nutrisi pada Arkana. Tapi bayi itu terus saja menangis menolak meminumnya. Diana sampai kebingungan dan sedih harus berbuat apa.
__ADS_1
"Ya Allah sayang, Bunda mohon jangan nangis lagi. Capek, Nak." ucapan lembut serta bacaan sholawat sudah Diana berikan tapi tetap saja tidak berhenti.
Oooaaaa... oooaaaa...
Danu yang mendengarnya merasa kasihan dan mencoba mengetuk kaca pintu mobilnya. Dan Diana membuka pintu.
"Masih belum berhenti?" Diana menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca merasa khawatir dan bingung harus berbuat apa lagi.
Danu pun menjadi tidak tega, dia terus menatap bayinya dan mencoba ingin menggendongnya. "Boleh aku menggendongnya? Siapa tahu dia berhenti menangis." Dengan hati berdebar-debar, Danu terus memperhatikan wajah bayi itu. Rasanya dia sudah tidak asing dengan wajahnya.
Diana mengangguk karena bingung harus berbuat apa lagi. Diapun pasrah memberikan Baby A ke ayah kandungnya.
Tangan Danu perlahan mulai mengambil bayinya dari gendongan Diana. Hingga kini bayi mungil tampan menggemaskan itu berada dalam gendongannya. Hatinya menghangat kala menatap wajahnya.
Oooaaaa... oooaaaa...
"Sayang, anak baik, kenapa menangis, Nak? Kamu merindukan ayah kamu? Sekarang kamu sudah sama Ayah dan jangan nangis lagi ya?" Danu tengah menimang-timang bayinya sesekali mengecup lembut kening bayi itu dan beralih mengecup kedua pipinya. Dan seketika, tangis bayi itu berhenti dalam gendongan Danu dan mata sipitnya mencoba terbuka seraya tersenyum.
Deg...
"Dee, dia...!" pikiran Danu berkecamuk ingin menanyakan tentang bayi ini. Dia merasa memiliki ikatan kuat antara dirinya dan bayi itu. Ada rasa nyaman saat Danu menggendong Baby A. Entah perasaan apa tapi yang pasti Danu merasa bahagia kala senyum manis terbit di bibir mungil bayinya.
Diana terpejam menghelakan nafas beratnya. Sekarang dia mengerti kenapa anaknya menangis. Rupanya sang bayi ingin berada dekat ayahnya. Diana tidak mungkin menyembunyikan semua fakta dari Danu. Cepat atau lambat semuanya pasti akan terbongkar juga.
__ADS_1
"Dia, dia anak kita...." Danu menoleh terkejut.
Deg...