Talak Aku!

Talak Aku!
Sandiwara Diana


__ADS_3

"Iya, aku menemukannya." Diana ingin tahu reaksi seperti apa yang ingin di tunjukan Fikri saat dirinya mencoba berkata seperti itu. Diana hanya ingin melihat apakah Fikri akan berkata jujur mengenai obat itu atau akan mengelak. Matanya terus menatap lekat wajah pria yang ada di hadapannya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.


Deg...


Jantung Fikri seakan berhenti berdetak hari itu juga. Dia mematung tidak percaya Diana menemukan obat terlarang itu dari saku jaketnya. Hal yang paling ia takutkan di saat ketahuan seperti ini.


"Me-menemukan apa?" perkataan nya pun terdengar terbata dengan kegugupan yang luar biasa.


"Benda yang kamu cari." Dengan santai Diana menjawabnya dan tidak menunjukan Keterkejutan padahal hatinya tercabik perih.


"A-apa?" Fikri mendongak menatap Diana berharap istrinya beneran tidak menemukannya. Sungguh Fikri di buat gelisah atas kelakuannya sendiri. Sungguh dia di buat tidak karuan atas apa yang telah ia perbuat.


"Uang lembar dua ratus ribu. Aku menemukannya di saku celana kamu. Kamu itu kenapa sih gugup banget keliatannya? Aneh deh." Diana sudah yakin jika pria itu memang menyembunyikan sesuatu darinya. Maka mulai hari ini dirinya akan mencari tahu apa yang terjadi dan dengan siapa Fikri memiliki hubungan.


Seketika pria itu bernafas lega jika ternyata dugaannya salah kalau Diana menemukan pil itu. "Eh, tapi kamu tidak menemukan benda lain selain uang kan?" Fikri baru menyadari akan hal itu dan tidak mungkin obatnya hilang begitu saja dan kenapa juga ada uang? Karena setahunya ia tidak menyimpan. uang dalam saku.


"Tidak, hanya uang saja yang ku temukan. Mungkin kamu sudah menyimpan benda lainnya sehingga aku tidak bisa menemukan benda yang lain," ujarnya lalu beranjak keluar kamar. Tapi sebelumnya Diana kembali berkata, "Ayo kita sarapan bersama. Terkecuali kamu mau sarapan dengan yang lain, aku tidak akan mengajakmu," ucapnya terkesan bertanya-tanya di benak Fikri lalu kembali melangkah.

__ADS_1


"Yang lain? Sarapan bersama yang lain? Apa maksudnya?" Fikri mengerutkan keningnya bekum mengerti pada sindiran yang Diana ucapkan.


*****


Diana dan Fikri sudah berada di meja makan menyantap sarapan yang sudah Diana masak untuk makan mereka. Tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut keduanya hanya suara dentingan sendok yang bersuara. Sedangkan Baby A Diana letakkan di dalam box bayi.


"Tumben masakan mu sangat enak sekali dan banyak beraneka ragam makanan. Gak biasanya masak banyak dan mengajakku makan bersama di pagi hari seperti ini," ujar Fikri mulai bersuara seraya mengunyah makanannya. Sebelumnya, Diana memang jarang mengajak Fikri makan bersama di pagi hari.


Diana hanya sering berkata sarapan dulu tanpa sarapan bersama. Kesibukannya mengurus rumah sering membuat mereka tidak makan pagi barengan. Tapi kali ini, Diana menyempatkan diri untuk sarapan bareng.


"Hanya untuk menyenangkan suami emangnya salah? Mungkin kamu juga tidak akan protes karena mungkin di tempat lain juga ada yang menyediakan kamu makanan di pagi hari," jawab Diana menyentil sedikit urusan sarapan bersama wanita lain untuk memancing reaksi Fikri akan seperti apa. Diana yakin jika mungkin saja Fikri suka makan bareng wanita itu karena selama ini pria manis berlesung pipi itu tidak pernah protes mengenai sarapan pagi.


Wanita ibu satu anak itu menghelakan nafas berat seraya menunduk lesu. "Dugaanku makin kuat Bli Fikri selingkuh. Aku harus cari cara untuk mengetahui siapa selingkuhannya," batin Diana memikirkan tindakan apa lagi yang akan ia lakukan untuk mencari tahu siapa wanita yang menjadi selingkuhan Fikri.


"Aduuh, Bli. Kenapa bisa sampai tersedak begitu? Kalau makan hati-hati dong, Bli." Diana memberikan segelas air putih dengan raut wajah seakan terlihat khawatir namun hati mah biasa saja. Dia melakukan ini demi sandiwara yang akan ia lakukan demi kelancaran proses pencarian tentang wanita selingkuhannya Fikri.


Fikri pun meminum air yang di berikan Diana sampai habis tak tersisa kemudian melirik menatap lekat penuh selidik ke arah Diana seakan pikirannya bertanya-tanya, apakah istrinya mengetahui sesuatu atau tidak? Fikri masih di buat bingung akan hal itu. Tapi jika di lihat dari cara Diana memperlakukannya, wanita cantik pemilik mata bening itu tidak menunjukan gelagat aneh mencurigakan dan tidak menunjukan jika dia mengetahui sesuatu. Justru Diana terlihat mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu berpikir ada orang lain yang menyediakan ku makanan di pagi hari? mana mungkin aku seperti itu," ujar Fikri terlihat gugup seraya menyendokkan nasi ke mulutnya.


"Kan cuman asal bicara." Diana berdiri dari duduknya membawa piring bekas ia makan. "Aku akan mencari tahu sendiri," gumamnya dalam hati.


Fikri pun menyelesaikan makanannya dengan pikiran mulai berkecamuk kesana kemari. "Diana, seandainya ada orang terdekat di dekatmu yang melakukan pengkhianatan apa yang akan kamu lakukan?" tiba-tiba Fikri bertanya seperti itu. Dia ingin tahu jawaban seperti apa yang akan Diana berikan.


Diana menoleh sebentar, kemudian melanjutkan kegiatannya mencuci piring bekas mereka makan.


"Memaafkannya. Karena Allah saja maha pemaaf kenapa kita sebagai umatnya tidak bisa memaafkan. Tapi, untuk percaya lagi dan lebih dekat lagi dengannya aku tidak bisa. Kemungkinan akan ku jauhi dan ku tinggalkan siapapun dia. Karena aku paling tidak menyukai pengkhianatan." Ya, Diana tidak menyukai pengkhianatan karena menurutnya itu adalah hal yang paling di benci olehnya. Pengkhianat hanyalah orang-orang yang tidak pernah bersyukur akan karunia Allah yang di berikan, dan sampai kapanpun seorang pengkhianat kemungkinan akan terus berkhianat sampai orang tersebut mendapatkan sebuah karma nyata dengan cara yang Allah berikan.


Sungguh Fikri di buat tertegun, pria itu berpikir apa Diana akan menjauhinya dan kemungkinan pasti akan menggugat cerai dirinya. Dan hal itu membuat Fikri harus segera melakukan sesuatu agar pernikahan mereka baik-baik saja.


"Hmmm kalau gitu aku pergi kerja dulu." Fikri tidak ingin membahas ini lagi, dia ingin berbuat sesuatu demi keutuhan rumah tangganya.


Diana hanya mengangguk seraya menatap tubuh Fikri yang hilang di balik pintu. Barulah setelah Fikri pergi, Diana mulai ingin mencari tahu. Dia membawa Baby A ke suatu ruangan khusus cctv yang ada di setiap sudut rumah dan toko. Sedari tadi ia ingin memeriksa semua itu.


Dengan langkah sedikit tergesa sambil mendorong kereta bayi dan jantung yang berdebar tak karuan, Diana masuk ke ruangan rahasia yang ada di rumah itu.

__ADS_1


Setibanya di dalam, Diana langsung memeriksa benda persegi yang ada di hadapannya. Tangan lentiknya bergerak lincah hingga matanya terpaku pada sesuatu yang menyesakkan dada.


"Salma, Bli Fikri...!"


__ADS_2