Talak Aku!

Talak Aku!
Kekhawatiran Cici


__ADS_3

Grep...


Fikri tiba-tiba di peluk.


Deg...


"Salma..." tentu Fikri bisa mengenali wajah Salam meski di bawah gelap gulita. Bagaimana tidak mengenalinya wong Salma memakai makeup ketebalan jadi sangat terlihat keputihan meski di tempat gelap sekalipun.


Fikri melepaskan pelukan tangan Salma yang melingkar di perutnya secara kasar. Pria itu mendorong dan menghempaskan tangan Salma.


"Apa-apaan kau ini, hah? Kalau mereka lihat bagaimana? Lagian kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi jadi ku mohon jangan pernah mengusik kehidupanku lagi." Fikri menggeram kesal melototkan matanya berharap Salma tidak melakukan tindakan bodoh seperti tadi.


Fikri juga melirik sekitar takut jika ada Mama Karin ataupun Cici melihat mereka berduaan dan itu bisa mengakibatkan kesalahpahaman.


"Kenapa, bli. Kenapa kamu malah ninggalin aku demi wanita itu? Apa kurangnya aku sampai kamu memutuskan hubungan kita?" Salma menatap dalam pria yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu.


Fikri memutar jengah matanya. "Bukan aku yang memutuskan kamu tapi kamu, Salma. Ingatkah ucapanmu dulu kalau kamu tidak ingin memiliki kekasih kere sepertiku yang hanya tukang servis elektronik? Ingatkah penolakan mu terhadapku karena pada saat itu ada pria lain yang jauh lebih kaya dibandingkan aku? Dan saya mengikuti kemauan kamu untuk melepaskan kamu padahal waktu itu kita sudah berencana untuk menikah."


Ternyata Salma adalah mantan kekasih sekaligus mantan calon istrinya Fikri. Iya, Salma lah yang mengawali semuanya sampai rencana indah mereka berantakan dan hancur hanya karena sebuah materi. Dan sekarang, Salma di tipu mentah-mentah oleh pria pilihannya sampai menjadikan dirinya seorang gelandangan.


"Maafkan saya bli. Saya menyesal telah melakukan itu. Sekarang harta saya semuanya di ambil dia dan saya di usir, bli. Saya mohon kembalilah pada saya, saya masih mencintaimu, bli." Salma menangkupkan kedua tangannya meminta maaf sekaligus memohon untuk kembali pada Fikri.


"Maaf, saya tidak bisa. Saya sudah menemukan wanita yang jauh lebih baik dan tentunya wanita yang saya cintai. Sekarang saya juga sudah menikah jadi saya mohon untuk kebesaran hati Salma supaya tidak lagi mengganggu kehidupan saya." Dengan tegas penuh penolakan.


Deg...


Salma tidak percaya Fikri sudah menikah. Setahunya pria ini begitu mencintainya sampai rela tidak menikah hingga 3 tahun lamanya.


"Kau jangan berbohong bli Fikri. Saya yakin kamu masih mencintai saya dan tidak mungkin menikah secepat itu."


"Ck, persetan Dengan cinta busuk mu itu. Saya tidak lagi menyukai wanita matrealistis dan berwajah ondel-ondel sepertimu. Jauh lebih cantik Diana kemana-mana dari pada kamu." Fikri melengos pergi dari dekat Salma dan melanjutkan niatnya untuk mengambil semua keperluan yang Karin minta.


"Bli, jadi Diana wanita yang sedang kau dekati?" Salma mengepalkan tangannya tidak terima Fikri berpaling darinya. Fikri hanya menoleh tanpa berniat membalas ucapan Salma.

__ADS_1


Namun, tanpa di sadari oleh keduanya, Cici memperhatikan pergerakan dua orang mencurigakan tersebut.


"Ada hubungan apa antara bli Fikri dan pegawai Diana? Sepertinya mereka saling kenal." Cici hanya bisa memperhatikan namun tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"Dee, aku harap kamu tidak terlalu percaya kepada pria ini. Perasaanku mengatakan tidak beres diantara keduanya." gumam Cici berdoa yang terbaik untuk sahabatnya.


"Cici, tolong kamu tidurkan Arka di samping Diana ya."


"Hah, iya Tante." Cici melirik Karin yang sedang berjalan ke arah dapur. Lalu dia beranjak ke kamar Diana. Dan di dalam senyuman manis serta senyum ketulusan ia dapatkan dari Diana yang sedang menyambut kedatangan bayi mungilnya.


"Apa dia rewel? Maaf merepotkan kamu." Diana memperhatikan pergerakan Cici menidurkan bayinya secara perlahan di samping dirinya.


"Tidak, bayinya anteng banget. Mungkin dia tahu kalau ibunya butuh istirahat. Aku jadi senang bisa menyaksikan sendiri keponakanku ini."


"Aku juga senang bisa melahirkannya dengan selamat. Meski tak di pungkiri kalau aku menginginkan mas Danu ada di sampingku menemaniku saat lahiran." wajah Diana kembali murung mengingat itu semua.


Cici tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan yang terbaik buat Diana, Danu dan kehidupan mereka.


Karin yang hendak masuk mengurungkan niatnya menguping pembicaraan dua wanita seumuran tersebut.


"Tante, kenapa berdiri di sini? Ini mau di kemanakah?" tegur Fikri merasa heran melihat Karin berdiri di dekat pintu kamar.


Karin tersadar, "Hah, iya. Kamu simpan saja dulu di sana." tunjuknya ke atas sofa yang ada di kamar Diana. "Nanti saya bereskan semuanya."


Fikri hanya mengangguk sambil berjalan masuk menyimpan berbagai macam alat-alat perlengkapan bayi.


"Diana, saya mau pulang dulu." berasa semuanya masih canggung dan masih belum bisa bersikap seperti layaknya suami istri, Fikri berniat pulang saja kerumahnya. Toh tidak jauh, hanya butuh setengah jam baru sampai ke rumahnya.


"Kenapa pulang? Sekarang kan kamu sudah menjadi suaminya Diana jadi kamu tidur di sini saja sekalian menunggu Diana. Lagian kamar ini luas, kita bisa tidur dalam satu ruangan atau mau tidur di kamar sebelah juga bisa," ucap Karin membuat Cici dan Diana saling lirik.


"Hah bu-bukan begitu. Aku pulang mau ganti baju sekalian membersihkan diri dulu. Nanti balik lagi ke sini."


"Oh gitu. Baiklah, sekalian kamu bawa baju ganti dan tinggal di sini bareng Diana. Sekalian juga kamu yang mengurus toko bunga dulu sampai Diana benar-benar pulih dari masa lahirannya."

__ADS_1


"Tapi..."


"Ini mutlak keputusan saya. Tidak ada yang boleh menolak titik," ujar Karin tegas tidak ingin lagi ada penolakan.


Fikri menghelakan nafasnya. Jika sudah begini mau tidak mau Fikri harus mengikuti aturan Karin. Namun Cici, gadis itu malah menatap sinis tidak menyukai Fikri. Dia memiliki pikiran negatif jika Fikri yang mengurus toko.


"Kamu tidur di sini saja. Saya juga tidak akan keberatan. Kan pak RT/RW dan ustadz setempat sudah tahu kalau kita sudah menikah," balas Diana mencoba menerima semuanya.


"Iya, Diana." Fikri mengiakan tanpa menolak. Toh apa salahnya tidur dalam satu atas di saat mereka sudah resmi nikah agama. Tidak ada yang larang.


*******


Jakarta


Danu terus saja gelisah karena orangtuanya tidak bisa di hubungi. Baik papanya ataupun mamanya tidak satupun dari mereka yang bisa di hubungi.


"Kemana mereka, kenapa sulit sekali di hubunginya. Apa perlu ku menelpon Anita?"


"Ya, Anita. Siapa tahu dia mengetahui keberadaan mama dan papa." Danu pun menghubungi no adik sepupunya itu sampai sambungannya tersambung.


"Halo, Nit. Apa Mama dan papa ada di sana?"


"Loh, kakak bisa nelpon pakai no yang dulu? Bukannya kakak ada di penjara?" bukannya menjawab, Anita malah balik bertanya.


"Kakak bebas bersyarat, Nita. Sekarang dimana papa dan mama?" tanya Danu sembari mondar-mandir bagaikan setrika baju.


"Kalau Om Fakhri kan ke Turki mengurusi perusahaan kakek. Kalau Tante katanya liburan ke Bali."


"Ya Tuhan. Pantas saja keduanya tidak bisa di hubungi. Sama-sama sibuk pada dunianya sendiri ternyata." Danu tidak bisa berkata karena memang mamanya menyukai Bali. Kalau pekerjaan, itu sudah menjadi tanggungjawab Fakhri. Sedangkan dia memang sedari awal di tugaskan di kampus. Dan mungkin saja dirinya akan kembali mengajar ke kampus.


"Kak, Diana ada di Bali..."


Tut...

__ADS_1


Deg...


"Apa...!? Halo... halo..."


__ADS_2