
Setelah membujuk Diana untuk mau ikut dengannya ke rumah keluarga, Danu kini tengah menatap Diana yang sedang menunduk tidak berani membalas tatapan pria yang ada di hadapannya.
Meskipun hari kian semakin larut malam dan sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, tapi keduanya belum merasakan ngantuk. Yang ada, kedua orang itu tengah merasakan ketegangan, kekhawatiran kebahagiaan serta sebuah Kerinduan semuanya tercampur aduk di hari ini juga.
"Kenapa kamu menyembunyikan tentang kehamilan mu padaku? Dan kenapa waktu itu kamu bilang mengalami keguguran? Segitu tidak maunya kamu memberitahukan aku perihal anak yang kamu kandung? Sebegitu inginnya kamu menjauhkan anakku dengan ayahnya? Apa kau tahu, aku hampir gila karena kehilangan kalian berdua. Kehilangan anak, kehilangan kamu begitu menyakitkan perasaanku dibandingkan kehilangan adikku. Tapi kenapa kamu sampai tega membohongiku dengan cara bilang keguguran segala?" Danu kecewa karena ia merasa di bohongi oleh Diana dan semua orang. Seandainya dulu tahu jika Diana masih hamil, pasti dirinya akan terus memperjuangkan Diana. Meskipun Danu kecewa, tapi hati terdalamnya itu senang mengetahui anak yang sempat ia sangka tiada ternyata masih ada dan tumbuh menjadi bayi mungil menggemaskan serta tampan sama persis seperti dirinya ketika bayi dulu.
Dan di saat itulah Diana memberanikan dirinya untuk mendongak menatap Danu. Keduanya saling memandang dengan sorot mata yang berbeda.
"Kamu pikir, kamu saja yang awalnya mengetahui kalau bayiku masih hidup? Aku pun sama tidak mengetahuinya. Semua orang berkata jika aku mengalami keguguran dan kehilangan calon anakku. Duniaku pada saat itu semakin hancur setelah semua yang terjadi secara bertubi-tubi. Aku tidak tahu kenapa mereka menyembunyikan ini. Apa kamu berpikir jika akau akan menyembunyikan kehamilanku? Tidak, aku tidak memiliki niat seperti itu. Justru aku ingin memberitahukan jika aku hamil saat tepat hari pernikahan kita yang ke-1 tahun. Tapi apa yang ku dapat?" Diana menjeda terlebih dulu ucapannya menghirup dalam udara yang masuk lalu di buangannya. Air matanya sudah mengalir deras seraya terus menatap Danu yang juga menatapnya dengan tatapan yang sama-sama terluka namun juga penuh kerinduan serta tatapan cinta.
"Kamu... kamu mengkhianati ku dengan wanita lain hiks hiks. Kamu membuat kejutan besar dalam hidupku, kamu... kamu memperlakukanku..." Diana tidak sanggup lagi meneruskan perkataannya. Hanya isak tangis yang berbicara mengungkapkan segala macam emosi yang menguasai jiwa.
Danu memejamkan mata mengepalkan tangannya merasa menjadi pria terbodoh dan paling kejam membohongi dan memperlakukan jahat istri yang begitu baik dan sempurna. Dia berdiri kemudian menghampiri Diana lalu duduk di dekat Diana dan memeluk tubuh wanita yang kini tengah menangis.
"Kenapa rasanya masih sakit sekali? Kenapa kamu tega melakukan itu padaku, Mas? Kesalahan apa yang aku perbuat? Kau tau, selama ini aku tersiksa dengan perasaan ku sendiri. Aku sakit hati atas semua yang kamu lakukan tapi kenapa perasaan itu masih ada? Aku bodoh, aku lemah akan perasaan ini. Dan sekarang kamu bilang akulah yang menyembunyikan anak kita? Aku tidak berniat seperti itu. Aku tidak mau dengan adanya anak kita, kamu malah semakin membenciku itulah sebabnya aku menyembunyikan kehamilanku di saat kamu datang bersama wanita lain ke dalam rumah hiks hiks hiks." Diana yang memang sering berkata jujur mengungkapkan segala rasa yang ia pendam sendirian. Dia menangis dalam dekapan Danu menumpahkan sebuah rasa sedih, marah, kecewa, dan sebuah kata rindu untuk pria yang tengah mendekapnya.
Danu semakin erat memeluk Diana, dia juga menangis dalam diam tak bersuara menyesali segalanya. Lantas, apa yang harus ia lakukan sekarang di saat Diana sudah bersuami? Akankah dirinya merebut kembali wanita yang ia cintai dari tangan pria gila itu? Atau mengikhlaskan kepergian Diana karena sebuah takdir yang tak mungkin bisa kembali bersama?
__ADS_1
"Aku disini berusaha melupakanmu tapi aku tak bisa. Aku membencimu tapi aku juga mencintaimu, aku berusaha menghilangkan segala kenangan yang tercipta tapi bayangan kelam itu datang juga. Hingga aku berusaha melupakanmu dan mencoba membuka hatiku untuk pria lain tapi apa yang ku dapat? Sebuah kenyataan jika suami keduaku memperlakukanku secara kasar. Aku ingin melupakanmu, aku tidak mau mengganggu pernikahanmu dengan Anita, aku..."
"Ssstttt... stop jangan bicara lagi!" Danu segera melepaskan pelukannya dan menggelengkan kepalanya menolak atas perkataan Diana. Dia menghapus air mata Diana dan menatap lekat mata indah yang sudah sembab itu.
"Jangan pernah berkata untuk melupakanku dan menghapus rasa cintamu. Biarkan cinta itu ada di diri kamu karena kini akupun sungguh mencintaimu. Tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan untuk membuatmu bahagia bersama anak kita. Maafkan aku, Dee. Maafkan aku." Ucapan tulus penuh pesanan Danu ungkapkan pada wanita di hadapannya.
"Tidak, kita berbeda. Kamu sudah menikah dengan..." perkataan Diana terhenti ketika Danu memberikan sebuah kecupan lembut penuh perasaan di bibir Diana. Ibu satu anak itu mematung terbelalak dengan mata melotot.
Danu melepaskan kecupannya lalu menatap lagi wanitanya. Perlahan mata Diana beralih menatap Danu lalu menunduk malu.
"Anita bukan istriku, dia adik sepupuku. Aku merencanakan semuanya hanya untuk balas dendam padamu atas kematian adikku. Tapi sumpah demi Allah jika aku tidak pernah mencintai wanita sedalam ini terkecuali padamu, Dee. Sumpah demi Allah aku tidak pernah menikah dengan wanita lain selain denganmu dan selamanya hanya ingin denganmu."
Danu memegang dagu Diana dan mengangkat nya sedikit hingga kini wajah Diana mendongak, "Tatap aku, Dee!"
Diana perlahan mulai mengarahkan penglihatannya pada mata Danu hingga keduanya saling berpandangan pada satu titik yang sama, sorot mata.
"Aku mencintaimu, tolong kembalilah padaku," ujar Danu penuh keyakinan dan sangat serius dalam berkata-kata.
__ADS_1
Deg...
"Ma-mas...!" Diana bingung harus berbuat apa? Satu sisi dirinya masih mencintai mantan suaminya. Ya, Diana masih mencintainya karena Danu merupakan cinta pertamanya dan pria pertama yang sudah menyentuh dua dalam segala hal. Tapi di sisi lain, kini statusnya sudah menjadi istri orang.
"Iya, jawab, Dee?" Danu menunggu jawaban Diana.
"Aku... aku sudah bersuami," jawab Diana begitu lirih dan tiba-tiba meneteskan air matanya lagi.
Deg...
Danu melupakan itu, "Tapi, akan ku tunggu jandamu. Apa kamu juga masih mencintaiku? Tolong jawab dengan jujur dari dalam lubuk hatimu!" pinta Danu penuh penegasan.
Diana tidak bisa berbohong, dan dia malah mengangguk kala mata mereka saling bertatapan. Persetan dengan rasa sakit yang dulu Danu torehkan tapi hatinya tak bisa di paksakan jika Diana masih mencintai suaminya. Danu tersenyum lalu memeluk Diana kembali. Hatinya berbunga-bunga mengetahui cinta Diana masih utuh untuknya. Kini, tinggal bagaimana cara dia merebut Diana dari suaminya.
*******
Keesokan harinya.
__ADS_1
Fikri tengah memperhatikan ponsel yang ia genggam seraya tersenyum senang bisa menemukan titik dimana keberadaan Diana saat ini.
"Hahahaha.. kau tidak akan bisa lari dariku, Diana. Kau akan ku dapatkan lagi, aku sungguh tidak ingin kehilangan kamu. Tunggu aku sayang, tunggu aku menjemputmu."