Talak Aku!

Talak Aku!
Di Paksa


__ADS_3

"Aaakhh sialan, bisa-bisanya saya gagal membawa Diana kembali padaku. Ini tidak bisa di biarkan, pria itu harus ku singkirkan agar tidak lagi menjadi penghalang diantara ku. Bisa saja Diana terus di hasut oleh pria itu agar tidak mau kembali padaku. Ya, dia harus ku kasih pelajaran." Fikri memukul stir secara keras saking marahnya Danu menghalangi dia membawa istrinya pulang. Dia pun saat ini tengah memikirkan rencana apa yang bisa membuat menyingkir dari kehidupan dia dan Diana. Lantas, tangannya menyentuh wajah babak belur yang terus terkena pukulan dari Danu.


"Aw... Pria itu begitu kuat tidak mudah di kalahkan meski sudah ku buat terluka di perutnya. Sekarang wajah tampanku jadi babak blur begini gara-gara dia." Fikri memperhatikan wajah lebamnya di balik kaca spion yang ada di atas kepala. Dan, seketika sebuah ide brilian muncul di benaknya secara tiba-tiba. Dia tersenyum menyeringai penuh misteri dan penuh teka-teki.


******


Sepulang dari klinik terdekat guna memeriksa kembali luka yang Danu alami, semua orang sedang berkumpul di ruang tengah.


Terlihat Diana sedang mengobati luka dan menggunakan obat yang diterimanya dari klinik. Mama Karin tengah berdiri menimang-timang cucunya dan Papa Fakhri memperhatikan Danu.


"Papa tidak menyangka kalau masalahnya seserius ini. Papa kira hanya melakukan tindakan kekerasan biasa saja, tetapi ternyata pria itu sungguh gila dan sampai nekat melakukan percobaan pembunuhan hingga mengancam keselamatan Diana dan baby Arka."


"Itu yang aku khawatirkan dan aku pikirkan saat ini. Dan aku sedang berusaha membantu Diana lepas dari jeratnya."


Ssttt


Danu mendesis sesekali kala Diana mengoleskan obat salep di bagian mukanya. Kekhawatiran terlihat di wajah Diana sesekali mengusap lembut bagian luka di wajah Danu.


"Pasti sakit, maaf." Diana murung berwajah sendu.


"Aku tidak apa-apa, jangan sedih begitu." Danu mengusap pipi Diana saya menatap penuh cinta.


"Aku sedih karena gara-gara aku kamu jadi terluka begini. Seharusnya aku tidak dekat kamu agar kamu tidak dalam bahaya. Aku minta maaf. Lebih baik aku pergi dari kehidupan kalian," cicit Diana merasa bersalah karenanya Danu seperti ini. Air matanya pun seketika membasahi pipinya. Diana tidak mau ada korban lain lagi setelah ini, begitu pikirnya.


"Kamu ini bicara apa, ini musibah dan tidak ada sangkut pautnya dengan kamu. Apa yang terjadi pada kita atas kehendak Allah dan jangan pernah sekalipun kamu menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi saat ini," ujar Fakhri tidak ingin membuat Diana mengalahkan dirinya sendiri atas semua ini.

__ADS_1


"Iya, Dee. Kamu tidak boleh menyalahkan diri kamu karena sekalipun kamu tidak dekat dengan kita nyawamu dan anak kita pasti dalam bahaya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Pastinya akan ku lindungi orang-orang yang aku cintai dari mereka yang hendak berbuat keji. Tak peduli rasa sakit, tak peduli sekuat apa mereka, tak peduli sekasar apa mereka, yang penting kalian selamat," balas Danu masih memandang wajah Diana seraya menghapus air matanya.


Bolehkan Diana egois tidak ingin lagi kehilangan pria yang ada di hadapannya? Bolehkan dia kembali mencintai dan memberikan hatinya lagi setelah melihat pengorbanan dan untuk dirinya?


"Mas..."


Perlahan Danu membawa Diana dalam dekapannya. Karin yang sedari tadi memperhatikan merasa sedih sekaligus terharu. sedih karena pada saat itu dirinya merestui Diana dan pria itu, terharu sebab saat ini perjuangan putranya untuk menemukan Diana dan menebus setiap kesalahannya dulu kian mulai terwujud. Apa yang Danu lakukan merupakan janjinya terhadap Karin, janji yang akan menjaga Diana ketika di pertemukan kembali dan janji akan melakukan apapun untuk melindunginya.


Tok... tok... tok...


Terdengar suara ketukan pada daun pintu mengalihkan perhatian keempat orang yang ada di situ.


"Siapa yang bertamu di sore hari?" tanya Fakhri heran tapi juga bisa saja terjadi.


Danu melepaskan pelukannya.


"Biar papa saja. Kalian tunggu saja di sini." Fakhri pun berdiri. Setelah dekat pintu, Fakhri membuka pedal pintu. Dan berdiri sesosok kamu tadi undang berdiri tegak. Fakhri menatap heran ada aparat penegak hukum berdiri di hadapannya.


"Permisi, selamat sore. Apa benar ini kediaman saudara Danu?" tanya seorang petugas kepolisian dengan suara tegas tanpa basa-basi lagi dalam berkata.


"Iya, benar. Dan itu nama anak saya. Ada apa, ya?" tanya Fakhri ingin tahu masalah apa yang menyebabkan Danu harus berhadapan dengan kepolisian.


Danu, Diana, dan Karin saling lirik saat kamu itu menyebutkan nama Danu.


"Orang itu menyebut nama kamu, Mas. Dia siapa kira-kira!" tanya Diana dengan hati mulai gelisah tak menentu ada orang yang tiba-tiba mencari ayah dari anaknya.

__ADS_1


"Kita ke depan saja guna melihat siapa yang datang," ajak Karin sudah berdiri lebih dulu.


"Bisakah saya bertemu dengannya?" polisi itu kembali bertanya masih dengan suara tegasnya.


"Ya, saya sendiri. Ada keperluan apa bapak polisi datang ke sini di sore hari?" ujar Danu membalas pertanyaan dua polisi yang tengah berdiri di hadapan Fakhri.


"Sebaiknya Anda ikut kami ke kantor polisi sekarang juga!" ujar polisi begitu tegas mencekal tangan Danu.


Diana, Karin, dan Fakhri terlihat syok.


"Tunggu, tunggu. Ada apa ini? Kenapa saya harus di bawa ke kantor polisi?" Danu dibuat tidak mengerti dengan kejadian ini. Begitupun dengan yang lainnya juga merasa heran kenapa bisa Danu di paksa begini?


"Pak, Anda jangan asal tangkap orang. Mungkin Anda salah," sahut Diana khawatir ini ada hubungannya dengan Fikri.


"Kami tidak mungkin salah menangkap orang. Saudara Danu di laporkan atas tuduhan penganiayaan terhadap saudara Fikri. Jadi sekarang Anda ikut kami!" tanpa banyak ucap lagi, kedua polisi itu terus menarik paksa Danu. Percekcokan sempat terjadi di antara mereka karena Danu merasa tidak salah dan tidak melakukan apapun selain pembelaan.


"Mas Danu!! Pak jangan bawa dia. Dia tidak salah, dia hanya menolongku, Pak." seru Diana panik melihat Danu di tangkap secara paksa.


"Tenang, Diana. Semua pasti baik-baik saja." Fakhri berusaha menenangkan Diana yang tengah menjerit syok.


"Baik-baik saja gimana, Pah. Mas Danu di bawa polisi. Pak tolong lepaskan Mas Danu!" Diana menahan polisi agar tidak membawa Danu pergi.


"Benar, pak. Tolong tunjukan surat penangkapannya dulu baru kalian boleh membawa putra saya," ujar Karin yang juga panik melihat putranya di seret paksa.


"Ini perintah dan kami harus membawanya ke kantor. Buruan jalan!" salah satu polisi nya mencoba melepaskan tangan Diana dari tangan Danu. Karena Diana enggan melepaskannya, polisi itu sampai mendorong tubuh Diana.

__ADS_1


"Hei... jangan kau berbuat kasar padanya!" sentak Danu tidak terima.


"Makanya cepetan ikut kita atau kami akan berbuat jauh lebih dari ini!"


__ADS_2