Talak Aku!

Talak Aku!
Permintaan Maaf Salma


__ADS_3

Dua orang wanita sedang berada di ruangan yang sama dalam keadaan terdiam tak bersuara setelah dua orang wanita keluar dari ruangan itu. Siapa lagi kalau bukan Diana dan Salma tengah saling terdiam. Hingga suara Diana yang lembut mengubah suasana sepi guna memecahkan keheningan yang terjadi.


"Bagaimana dengan kabar kamu, Mbak Salma?"


"Hari ini cukup baik tetapi tidak tahu kedepannya apa akan baik atau tidak," jawab Salma bingung berkata apa. Dia yang sudah menyiapkan sekarang kata-kata kini hilang entah ke mana. Perkataan yang tersusun rapi lenyap sudah kala berhadapan dengan wanita yang sedang berbaring sedikit duduk dan tengah menyusui baby A.


"Kenapa begitu? Kita harus berdoa yang baik-baik buat kedepannya nanti, karena kita tidak pernah tahu apa yang Allah rencanakan pada hidup kita. Semoga saja semuanya baik dan terus di lindungi dari segala macam marabahaya."


Salma tersenyum tenang tidak ingin memberitahukan perihal sakit yang ia rasa saat ini. Cukup dirinya dan Iqbal yang tahu.


"Kita tidak pernah tahu hal apa yang akan terjadi di masa depan. Semua masih misteri ilahi. Entah kematian datang hari ini, esok, lusa, aku tidaklah tahu. Maka dari itu, selama aku masih bisa bernafas dan hidup di dunia ini, aku hanya ingin menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi ke depannya," ucap Salma begitu tenang dan secara langsung memberikan sebuah tanda jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Diana menghelakan nafas pelan, apa yang di katakan Salma ada benarnya juga. Manusia hanya bisa bersandar dan merencanakan tapi Tuhan yang menentukan.


"Apa yang kamu katakan ada benarnya juga, Salma. Selama nafas masih ada mending kita lakukan kebaikan sebanyak-banyaknya."


"Dari itu aku datang kesini untuk meminta maaf pada kamu atas apa yang pernah ku lakukan padamu. Aku minta maaf, Mbak Diana," ucap Salma begitu tulus meminta maaf sambil menggenggam tangan Diana.


Matanya menatap sedih serta penuh penyesalan dan juga terlihat berkaca-kaca.


"Aku minta maaf atas apa yang pernah ku lakukan, menjadi selingkuhan Bli Fikri di saat masih menjadi suamimu, kadang sering memarahi baby A saat sedang menangis dan kadang suka membenci kamu tanpa alasan. Aku minta maaf."


Diana tersenyum dan berbalik mengusap tangan Salma, "Semuanya sudah berlalu dan sudah menjadi kenangan masa lalu. Jadi saat ini kamu tidak perlu meminta maaf karena aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu minta maaf. Apa yang terjadi padamu semua kehendak-Nya, apa yang kita alami sudah mendaki garis takdir yang telah Allah takdirkan untuk kita."


Salma terharu atas jawaban Diana. Sedari awal bertemu memang Diana selalu baik dan tidak pernah melakukan hal mengecewakan. Tapi dirinyalah yang sering melakukan kesalahan kepada Diana.


*****


"Loh, kenapa kalian pada di luar semuanya? Siapa yang ada di dalam?" seru Danu ketika sudah kembali dari musholla. Dia keheranan melihat Karin, Cici, dan Iqbal menunggu di kursi tunggu yang ada di luar ruangan.


"Di dalam ada Salma yang meminta bicara secara berdua dengan Diana. Kami hanya memberikan ruang interaksi yang nyaman buat keduanya," jawab Mama Karin.

__ADS_1


"Kenapa kalian malah membiarkan itu terjadi. Bukanlah Salma ini wanita selingkuhannya pria gila itu? Berarti dia juga secara tidak langsung menyakiti Diana. Ini tidak bisa di biarkan." Danu khawatir Diana di apa-apain oleh Salma. Dia hendak masuk tapi di cegah oleh Iqbal.


"Jangan dulu masuk, Zio. Biarkan mereka berbicara berdua dari hati ke hati. Salma tidak mungkin menyakiti Diana lagi. Dia sudah berubah dan dalam masa memperbaiki diri."


"Dari mana kau tahu wanita rubah itu sudah berubah pak pengacara yang terhormat? Kita tidak tahu niat dia itu seperti apa dan apa yang di lakukannya 'kan kita tidaklah tau," sahut Cici merasa heran kenapa pria itu begitu kekeh membela Salma.


"Dia sudah bertaubat, Nona. Jadi saya yakin kalau dia tidak akan berbuat hal di luar dugaan."


"Halah, paling juga taubat bohongan. Bilang taubat tapi di ulangi lagi kesalahannya. Ck, ini mah pasti ada apa-apanya," ucap Cici mencebik seraya memutar matanya jengah.


"Maksud kau apa bicara seperti itu, Nona kecil?" Iqbal kurang menyukai perkataan Cici yang seakan menunjukan jika mereka berdua memiliki hubungan.


"Halah, kalian ini malah berantem. Sudahlah aku masuk saja."


"Jangan!" ucap serempak yang ada di sana namun Danu tidak menghiraukannya karena rasa khawatirnya jauh lebih besar.


Danu pun tanpa buang waktu lagi membuka paksa daun pintu dan dia masuk begitu saja.


"Diana kami ba ..." Danu malah terdiam menggantungkan perkataannya ketika melihat pemandangan tak biasa. Diana sedang memakaikan kerudung ke kepalanya Salma.


Salma tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Insyaallah, terima kasih sudah mau menjadi temanku, Diana. Kamu lebih muda 4 tahun dariku jadi ku akan memanggilmu adik Diana."


Danu mendekati kedua orang itu dengan rasa penasaran yang begitu dalam. Tapi,.yang membuat Danu senang itu adalah kesadaran Diana.


"Kalau begitu aku pamit dulu, Dek Diana. Terima kasih atas semua kebaikan yang kamu berikan untukku dan sekali lagi maafkan aku," ujar Salma sebelum berpamitan pergi. Diana mengangguk dan hati Salma terasa lebih tenang setelah meminta maaf. Doa melirik Danu sebentar lalu beralih melangkah pergi. Dan di sana juga sudah ada yang lainnya.


"Mau ku antar?" tanya Iqbal menawarinya karena merasa kasihan. Salma mengangguk karena ia tidak tahu pada siapa lagi dirinya meminta tolong mengantarkan dia ke penjara suci di saat persediaan uang makin menipis.


"Tuh kan, apa yang aku katakan ada benarnya juga jika kalian berdua ini pasti memiliki hubungan," celetuk Cici menyindir Iqbal memberenggut manyun.


Iqbal menggelengkan kepala namun tangan repleks mengacak pelan rambut Cici, "Aku tidak menyukai dia. Kamu tenang saja, nona."

__ADS_1


Deg ....


Cici mematung kala merasakan tangan Iqbal berada di atas kepalanya.


Lain halnya dengan Danu yang terus memandangi wajah cantik Diana. Saat kemarin dia tiada memperhatikan perubahan Diana yang begitu berbeda. Sedangkan kini, ia baru menyadarinya dan ternyata Diana sudah mengenakan hijab dan itu jauh menambah kecantikan wanita itu.


Diana memalingkan wajahnya merasa malu di tatap seperti itu. Tatapan penuh cinta dan kagum begitu terlihat di sorot mata Danu. Sungguh jantung Diana berdebar tak karuan.


"Terpesona, aku terpesona memandang wajah mu yang cantik. Ekheem ..." Mama Karin bersuara mengagetkan Danu yang tengah terpesona. Pria itu gelagapan tersadar dari apa yang ia lakukan..


"Eh, hmmm, maaf, apa kabar, eh, ka-kamu sudah sadar?"


"Gak lihat dari tadi sudah sadar dan duduk anteng begitu? Kemana saja mata kamu ini?" celetuk Karin menggoda putranya yang terlihat salah tingkah di hadapan Diana.


Papa Fakhri mengulum senyum menggelengkan kepala melihat geli kelakuan Danu.


"Hehehe, ada di sini kok, nih masih nempel di tempatnya," balas Danu menunjukan bola matanya namun lirikan mata terus tertuju pada Diana yang tengah menunduk mengusap dada baby A yang anteng di sampingnya.


"Bidadari surgaku," gumamnya.


"Hah ...."


Bersambung ....


Supaya Mimin semangat, jangan lupa LIKE, VOTE, KOMENTAR, dan kasih hadiah dong. Bunga ataupun kopi juga boleh. Apalagi koin.


Dan aku punya rekomendasi buku cerita buat kalian. Ini ceritanya lucu di jamin seru. YUK, BURUAN MAMPIR!!!


Nama Author : BUNGA ALIKA


Judul : GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA

__ADS_1


Di tunggu kehadirannya, ya. 😊



__ADS_2