Talak Aku!

Talak Aku!
Terpaksa


__ADS_3

Brakk....


"Apa yang kalian lakukan?" teriak para tetangga kontrakan yang mendengar Salma menjerit minta tolong. Mereka terbelalak mengetahui bagaimana keadaan dua orang berbeda jenis kelamin itu berada satu kamar, dan dalam keadaan tak berpakaian hanya terhalang selimut saja.


Bli Fikri melototkan mata terkejut, syok sekaligus kaget. Kenapa banyak orang berada di sana memergoki dirinya dalam keadaan seperti ini?


"Ka-kami tidak melakukan apapun. Wanita rubah sialan ini telah menjebak ku." Fikri berusaha membela karena memang dia merasa tidak melakukan apapun. Hanya semalam dirinya merasa ngantuk berat dan tertidur di ruang tengah. Tapi anehnya keadaan kini berbeda, dia tidur dalam satu kamar dengan Salma dan dalam keadaan tak mengenakan busana.


"Bohong... dia berbohong. Dia sudah memperkosaku. Dia datang dalam keadaan mabuk dan memaksaku melakukan ini semua. Saya di paksa dia. Brengsek kamu, kau ba ji ngan telah melakukan tindakan pemerkosaan ini." teriak Salma menangis histeris seraya mengeratkan selimut yang menutupi bagian tubuhnya menunjukkan ketidakberdayaan, kesedihan, serta perasaan kecewa layaknya korban asusila.


"Kalian..."


"Kau yang berbohong wanita rubah, saya tidak pernah memaksamu. Justru kau yang memaksaku melakukan semua ini dan kau menjebak ku menggunakan minuman bercampur obat ngantuk. Ngaku kau...!" sentak Fikri tidak terima di tuduh seperti ini. Dia kembali mencengkram leher Salma untuk mengakuinya.


"Ngaku sialan!" bentaknya lagi ingin membuat Salma mengaku..


Salma melotot terkejut Fikri sekasar ini padanya. "Ka-kau yang be-berbohong," lirihnya pelan berusaha melepaskan cengkraman tangan Fikri di lehernya.


Para warga di sana segera bertindak melepaskan cengkraman Fikri. "Kalian sudah ketahuan berbuat zina. Kalian harus menikah secepatnya tanpa di tunda lagi. Dan kau Salma, setelah menikah mending kalian pergi dari sini! Kami tidak mau ada tukang zina di sini."


Fikri terhenyak mendengar keputusan para warga untuk menikahi Salma. Dia tidak akan biarkan itu terjadi. "Saya tidak Sudi menikah dengan wanita rubah ini. Kalian saja yang menikahinya!" sentak Fikri melepaskan kasar tangan para warga yang sedang mencekal nya.


"Kau jahat hiks hiks, setelah kau memaksaku sekarang kau mencampakkan ku. Biadab kau, bli..." sergah Salma memperkeruh suasana agar Fikri mau menikahinya di hadapan semua orang. Salma juga melancarkan air mata biawaknya agar para warga iba terhadapnya.


"Dari pada kalian bertengkar mending hari ini juga kalian nikah!" ucap ketua RT yang kebetulan pemilik kontrakan memutuskan segalanya demi kebaikan kedua pasangan tersebut.


"Saya..."

__ADS_1


"Kami beri waktu kepada kalian buat memakai baju. Keluar semuanya!" bapak RT kembali bersuara memerintahkan Fikri maupun Salma dan menyuruh semua warga keluar memberikan kesempatan mereka berdua untuk berpakaian.


Di saat semua warga sudah keluar dan pintu sudah tertutup rapat, Fikri berdiri menyibak selimut memperlihatkan tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Fikri mengambil helai demi helai baju kemudian mengenakannya.


"Jangan harap saya menikahimu karena tidak ada hal yang terjadi di antara kita!" Fikri menatap tajam penuh kebencian seraya mengancingkan kancing bajunya.


"Silahkan saja kalau kau menolak. Maka video dan foto kita berdua akan terkirim ke Diana." Salma mengambil ponselnya lalu menunjukan gambar dan video mesum mereka dan bersiap mengirimkannya ke Diana.


Fikri terbelalak melihatnya. Dia mengacak-acak rambutnya prustasi bingung harus berbuat apa. "Sialan, kau licik, Salma." umpatnya menendang ranjang saking marah dan kesal.


"Jangan kau coba-coba mengirimkan foto itu atau kau akan ku habisi." ancaman fikri ingin membuat Salma takut tapi, Salma semakin tertantang untuk mendapatkan Fikri.


"Baik lah, kalau begitu gambar ini saya kirim." Salma bersiap mengirimkannya.


"Jangan...!" pekik Fikri mencegah. "Baiklah, saya..."


Di sepanjang duduk menunggu toko bunga, Diana terus memikirkan Fikri belum pulang juga padahal sudah jam 11 siang. Dia khawatir pada pria itu dan Diana juga sedang bertanya-tanya kenapa Salma belum masuk.


Sembari mengasuh baby Arka, Diana juga melayani para pembeli dan merangkai setiap bunga demi bisa membelikan baju buat putranya.


"Ini harganya 1 juta 50, bli. Ini bunga yang sedang ramai saat ini, janda bolong. Dan yang itu bunga Kamboja asal Turki." papar Diana menunjukan berbagai macam bunga pada pelanggan nya secara ramah.


"Oh, jadi ini bunga janda bolong itu. Saya pesan ini saja satu, sama bunga sedap malam."


Diana tersenyum mengangguk, "Baik, bli." diapun mulai membungkus pot bunga berisi tanaman hias agar terlihat rapih dan menarik.


Si saat tengah sibuk melayani pembeli, Fikri nampak baru saja tiba. Diana sempat melirik pada motor Fikri. "Ini bunganya, bli." ujarnya memberikan barang jualan kepada pembeli.

__ADS_1


"Terima kasih, Mbak. Ini uangnya." interaksi penjual dan pembeli tersebut di perhatikan oleh Fikri.


Wajah pria itu nampak sendu menatap dalam Diana yang kini sudah menjadi istrinya. "Apa yang akan kamu lakukan jika kau tahu kalau aku sudah menikah siri dengan Salma? Pasti kamu akan kecewa. Baru saja semalam ku berjanji untuk membahagiakan mu dan tidak mengkhianati mu tapi kini, saya malah melakukan itu. Maafkan saya, Diana." gumam nya dalam hati merasa bersalah pada istrinya.


Diana mendekati sambil mendorong kereta bayi. "Bli dari mana saja? Saya khawatir sama keadaan Bli. Apa bli sudah makan? Saya sudah memasak buat kamu makan." Dengan nada khawatir Diana menanyakan perihal kemana Fikri pergi.


Pria itu semakin merasa bersalah saja dan dia menjawab, "Maaf, semalam saya pulang larut malam ke rumah. Saya tidak tega membangunkan kamu jadi saya pulang ke rumah saya saja." lagi-lagi kebohongan yang Fikri lakukan untuk menutupi kejadian sebenarnya.


"Oh. Ya audah, sekarang Bli masuk dan makanlah. Ayo?" ajak Diana tanpa merasa curiga lalu menarik tangan Fikri. Pria itu tertegun atas perhatian Diana yang mulai menunjukan keseriusannya dalam menerima pernikahan dadakan ini.


"Ah, iya." hanya sedikit kata yang terucap tanpa ingin membahas perkataan yang lainnya. Fikri pun duduk di kursi meja makan. Pria itu memperhatikan cara Diana yang mau melayaninya makan. Untuk pertama kalinya Diana mulai menunjukan perhatiannya sebagai seorang istri.


"Oh iya, bli. Salma kemana, ya? kok dia tidak masuk kerja? Apa dia sakit? Aku cukup kerepotan menunggu toko sendirian." tanya Diana sambil duduk lalu mengambil baby Arka ke gendongannya sebab bayi tersebut bersuara.


"Saya tidak tahu," jawabnya singkat malas membahas wanita ubah itu.


"Kan bli teman Salma, siapa tahu tahu keadaannya."


"Saya bilang tidak tahu." sentak Fikri kesal di saat momen seperti ini malah membahas wanita yang membuatnya kacau.


Deg...


Diana terhenyak kaget di bentak seperti itu. "Bli..." lirih Diana berwajah sendu.


Deg...


Kali ini Fikri yang terhenyak menyadari kesalahannya sudah membentak istrinya. "Ma-maaf."

__ADS_1


__ADS_2