
"Se-se-setan..." teriak semua orang menyangka Diana setan karena mengenakan mukena putih, wajahnya pucat namun masih terlihat cantik.
"Aakkhhh... Setan mana yang telah singgah di sini?" teriak Nurma menjerit kaget.
Diana mengerutkan keningnya menatap heran orang-orang itu. Mana ada setan di kediamannya? Tapi kalau mereka takut akan dia itu ide bagus juga. Setidaknya mereka tidak berani mengganggu Diana di saat seperti ini.
Sebagian orang udah ada yang ngacir duluan saking terkejut melihat orang berkain putih dengan wajah pucat bagaikan mayat hidup.
Nurma yang tadi koar-koar macam orang gila pun mendadak gemetar ketakutan dengan kaki gemetar. "Se-setan, jangan ga-ganggu saya. Mending ga-ganggu bli Niko saja. Sa-saya tidak akan ga-ganggu Mbak Diana lagi. Suer setan," ucap Nurma gemetar menunduk seraya mengangkat tangannya menyerupai huruf v. Sebagian orang sana mempercayai jika orang-orang di sana memiliki penunggunya masing-masing.
Lalu Nurma perlahan berbalik dengan tubuh gemetar. Dia pun perlahan mulai melangkah menjauhi Diana yang memang terlihat menyeramkan seperti hantu baju putih yang suka tertawa di malam hari hihihihi hihihi.
"Hmmmmm..." Diana menggeram menakuti Nurma. "Hihihihihihihi..."
Nurma melotot sempurna mendengar suara hantu yang paling ia takuti. "Setaaaaaan..." teriaknya ngacir berlari meninggalkan motor yang dibawanya.
Diana melipatkan mulutnya menahan tawa agar tidak pecah. Dia dan bli Niko serta tukang ojek masih memperhatikan Nurma yang sedang ngacir.
Nurma melepaskan sandalnya kemudian kembali berlari hingga beberapa kali terjatuh. "Jro ada setan kuntilanak..." pekik Nurma.
Brukk....
Dia terjatuh tersungkur ke sawah dengan wajah nyungsep ke tanah. "Adudue apes kali malam ini." umpat Nurma berusaha berdiri dari sawah kemudian menengok kebelakang.
Matanya melotot takut melihat orang berbaju putih gentayangan di rumah Diana. Mungkin karena efek takut serta kepala puyeng habis tersungkur dan ulah jahatnya sehingga apa yang di lihat berasa berterbangan.
"Setaaaan..." Nurma kembali berlari kocar kacir meninggalkan sandalnya.
Di saat itulah Diana tertawa ngakak melihat kekonyolan wanita bertubuh gemuk itu. Tukang ojek pun ikut tertawa terbahak.
"Hahahaha syukurin kecebur sawah. Emang enak, itu karma nyata di bayar kontan dari dewa. Hahahaha," ujar tukang ojek menertawakan Nurma.
"Mbak Diana sangat cantik jika memakai kain tertutup," celetuk Bli Niko terus menatap kagum wanita itu.
__ADS_1
Diana melirik dan memberhentikan tawanya. Lalu dia menutup pintu lagi secara kasar.
Blug...
Rasanya enggan sekali bertemu orang-orang aneh bin nyata.
"Ajigile, kaget kali jantung ku ini. Cantik-cantik tapi garangnya minta ampun." pekik tukang ojek terkejut langsung memegangi dadanya.
Bli Niko menghelakan nafasnya. Diapun naik motor Nurma lalu beranjak pergi.
"Hei bli, bayarannya mana? Masa tidak bayar," teriak tukang ojek lalu menyalakan motor kemudian mengejarnya.
"Ngutang dulu," balas bli Niko berteriak dari atas motornya.
*******
Jakarta
"Aduh mah, perut ku pusing sekali. Rasanya kepala mual banget." Zio masih mengeluh tentang keanehan tapi nyata. Dia masih berada di tempat kesehatan tahanan. Masih di jaga oleh aparat kepolisian dan tentunya di temani oleh Karin.
Karin mengerutkan keningnya. "Kau ini bicara apa sih? Sejak kapan kepala pindah ke perut, perut pindah ke kepala? Ngawur banget kalau ngomong."
"Ah iya, itu pokoknya. Bantuin Zio napa, Mah. Cari obat mujarab atuh biar Zio cepat pulih. Rasanya sangat luar biasa banget," keluh Zio menyenderkan kepalanya ke bahu wanita yang melahirkannya.
"Apa yang harus mama lakukan supaya mual dan pusing kamu ini hilang? Kamu ingin sesuatu apa?" Karin kasihan pada Zio. Dia pun sedikit mendorong kepala putranya kemudian beralih memijat kepala Zio.
Zio menikmati pijatan lembut dari mamanya. "Hmmm Zio ingin makan karedok leunca, terus tahu gejrot, tumis pare, terus ingin Papa kesini," pinta Zio berharap bisa melihat itu semua.
Karin memberhentikan pijatannya lalu menurunkan tangannya. "Itu makanan yang kamu tidak sukai. Emangnya yakin mau makan itu semua?"
"Zio yakin, Mah. Buruan pesankan! Suruh saja Papa atau Iqbal yang beli." Zio menatap Karin memelas penuh harap.
"Tapi ini malam hari. Mana ada orang yang jualan itu semua." Karin pun melirik jam di ponselnya yang menunjukan pukul 7 malam.
__ADS_1
"Tapi aku maunya sekarang, Mah. hwweek... Hwweek..." Zio kembali mual keinginannya tidak di penuhi.
Karin membuang nafas secara kasar. "Baiklah, Mama akan menyuruh Iqbal ataupun Papa membawa makanan yang kau inginkan." Karin pun mengirimkan pesan kepada kedua orang itu. Ini merupakan ngidam yang harus di laksanakan.
"Semoga dengan dilaksanakan keinginan Zio, cucu mama tidak ngeces," batin Karin tersenyum tipis tidak sabar menanti kelahirannya anak Zio dan Diana.
*******
"Gak salah Mama meminta ini semua? Ini kan makanan yang paling tidak disukai saya," gumam Fakhri merasa heran. "Tapi kata Mama ini keinginan Zio yang sedang ngidam. Diana yang hamil dan Zio yang ngidam. Hmmm baiklah, demi cucu akan papa laksanakan." lanjutnya membalas pesan istrinya.
Fakhri baru saja selesai mandi dan beribadah isya, dia langsung bergerak mencari sesuatu yang di inginkan Zio. Demi cucu pertama, Fakhri akan melakukan apapun itu.
Semenjak Zio masuk penjara, Fakhri lah yang menggantikannya mengurus dan mengajar kampus peninggalan keluarga. Sehingga dia di sibukan oleh kegiatan sekolah dan tentunya di sibukan oleh kerjaan di Turkey sebagai salah satu pengusaha makanan. Dan mungkin saja dalam waktu dekat Dia akan kembali ke Turki tanpa istrinya.
******
Butuh waktu lama menemukan makanan yang di inginkan Zio. Namun, Papa Fakhri berhasil menemukannya meski harus berkeliling kota dan meminta seseorang untuk membuatkan makanannya. Siapa lagi kalau bukan tukang masak.
Dia menjinjing tiga plastik berisi makanan berbeda kemudian masuk kantor polisi menghampiri anak istrinya.
"Nah itu Papa datang," seru Zio tak sengaja menoleh ke arah pintu dan langsung melihat papanya.
"Ini makanan yang kau inginkan, Zio." Papa Fakhri menyimpan plastik tersebut di dekat Zio. Kemudian duduk di samping Karin.
Zio nampak berbinar melihatnya. Dia membuka semua bungkus itu dan menatanya di atas meja. Karin dan Fakhri menggelengkan kepala melihat keantusiasan Zio.
"Semua ini sungguh menggugah selera. Hmmmm harumnya saja sangat luar biasa." Zio menghirup dalam-dalam aroma ketiga makanan tersebut sambil memejamkan mata menikmatinya.
"Kalau kau suka makanlah! Siapa tahu pusing dan rasa mual-mual mu bisa hilang oleh makanan ini," ucap Karin.
"Benar, buruan makan! Mumpung masih segar-segar," timpal Fakhri karena memang membuat dadakan.
Zio menatap Fakhri dan Karin. "Papa saja yang makan! Aku sudah kenyang."
__ADS_1
"Apa...!"