Talak Aku!

Talak Aku!
Bersiap Pulang


__ADS_3

"Apa Mama harus ke Bali?" Karin meminta sebuah jawaban dari Fakri guna meyakinkan hatinya untuk kesana atau tidak.


"Tidak perlu, Mah. Kalau Mama ke Bali Papa dengan siapa? Papa tidak mau ya di urus sama wanita lain selain Mama seorang. Masa suami seorang Karina Nugraha di urus oleh orang lain, tidak banget." Di saat serius begini Papa Fakhri masih saja menyelipkan candaan. Tapi yang di katakannya ada benarnya juga jika dia tidak ingin di urus selain oleh istrinya sendiri.


"Kita bisa tinggal di rumah yang ada di sana, Pah. Sekalian juga bisa melihat Diana dan cucu kita. Besok kita ke sana, ya? Sekalian masa pemulihannya berdekatan dengan cucu. Apa papa tidak mau dengan susu papa?" Karin berusaha membujuk suaminya agar mau tinggal di Bali. Dia akan merasa tenang jika berada dekat dengan Diana dan cucu tercintanya.


Fakhri diam memikirkan ajakan Karin.


"Ayolah, Pah. Jangan banyak pikir, deh. Besok kita kesana ya?" Karin memastikan kembali agar suaminya mau mendengarkan dirinya.


"Satu Minggu lagi kita kesana. Apa Mama tidak kasihan melihat Papa bolak-balik di saat kondisi kaki Papa masih dalam masa pemulihan? Baru saja kita pulang dari Turki, sekarang malah Mama mengajak pergi lagi. Tubuh Papa masih lemas butuh istirahat serius, Mah." bukan Fakhri tidak ingin tapi memang tubuhnya butuh istirahat dulu setelah melakukan perjalanan Turki dan Indonesia. Dirinya juga lagi dalam masa pemulihan jadi butuh waktu istirahat total.


Karin menghelakan nafas berat, dia menunduk sedih tidak bisa membujuk suaminya pergi.


"Baiklah, Mama ikuti saran Papa saja. Tapi mudah-mudahan lusa Papa sudah jauh lebih sehat dan kita akan ke Bali." Pada akhirnya Karin mengikuti saran suaminya yang akan


"Iya, doakan saja semoga Papa sehat."


Namun, hati Karin terus gelisah tak menentu.


*****


"Kak Zio" pekik Anita begitu tergesa menghampiri ruangan kakak sepupunya dengan tergesa-gesa.


Danu yang sedang memeriksa laporan mendongak, "Kenapa kamu lari-larian gitu? Di kejar orang gila?" tanya Danu bingung kenapa Anita tergesa.


Anita berada di sana karena memang rumah orangtuanya ada di negara itu. Jadi Anita bebas datang kapan saja kekantor keluarga mereka.


"Bukan, Kak. Ini soal pemindahan kantor pusat ke negara kita," ucap Anita masih dengan nafas yang ngos-ngosan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Bukankah seluruh staf, manager, dan seluruh karyawan sudah mengadakan meeting? Jadi mereka sudah tahu pasti jika kita akan pindah kantor ke negara kita. Lalu ada apa? terjadi sesuatu?" Danu bertanya sambil melihat sang sepupunya yang sedang mengatur nafasnya.


Anita duduk di hadapan Danu.


"Terjadi masalah di luar sana, Kak. Sebagian orang demo, katanya sebelum pindah harus membayar mereka dulu." Anita menjelaskan masalah yang sedang terjadi di hadapannya meteka.


"Kenapa seperti itu? bukannya kita selalu memberikan mereka gaji full?" Danu menghentikan sejenak kegiatannya, dia dengan serius menanggapi masalah yang sedang di hadapinya.


"Aku tidak tahu. Tapi sudah banyak keluhannya. Mending Kakak keluar saja lihat apa yang terjadi."


"Ini aneh, perasaan kita tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran karyawan. Kalau gitu Kakak kesana sekarang! kita harus menyelesaikan masalahnya secepat mungkin, aku tidak mau mereka sampai mengamuk dan membahayakan perkerja lainnya!" ucap Danu, dia membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja lalu menutup laptopnya.


Danu beranjak keluar ruangan, lalu Anita mengikutinya dari belakang. Gadis itu sudah cekikikan sendiri berhasil mengerjai Kakaknya.


Setibanya di luar ruangan, Danu justru di kagetkan oleh banyak suara.


"Happy birthday to you... happy birthday to you..."


Senyuman manis terlihat dari bibir Danu, namun senyum itu kembali luntur kala ia teringat kembali pada kenangan bersama Diana yang juga sering memberikannya kejutan.


"Selamat ulang tahun kakak." Anita bersuara seraya memberikan kue ulang tahun yang sudah di hiasi lilin. Danu memperhatikannya lalu tersenyum.


"Nita tahu jika Kak Zio sedang dalam masalah. Untuk itu, kami di sini akan senantiasa berusaha keras menjaga kantor ini. Di hari ulang tahun kak Zio yang ke 28, Anita akan turun tangan ikut mengurus PT. INDOFOOD. Kakak tidak perlu risau lagi mengenai keadaan di sini. Anita akan mengurus semuanya dan Kakak juga bisa pulang secepatnya mencari Diana. Anita sudah menyiapkan tiket untuk Kak Zio pulang hari ini."


Perusahan mereka bergerak di bidang makanan seperti ringan, minuman ringan. Kantor pusatnya ada di Turki dan Danu berencana untuk memindahkan kantor pusat ke negaranya dan membangun cabang baru di Indonesia. Itulah sebab nya dia bekerja keras agar semuanya cepat selesai.


"Kamu yakin akan mengurus semuanya?"


"Aku yakin, Kak. Ada papa juga yang akan bantu. Sekarang tiup lilinnya, minta sesuatu yang kak Zio inginkan lalu kakak hari ini juga pulang."

__ADS_1


Danu tersenyum senang dan diapun mengikuti arahan Anita. Acara dadakan itu pun selesai di akhiri oleh Danu yang berpamitan kepada semua karyawan yang telah berjasa mau membantunya mengerjakan semua pekerjaan.


"Sebelumnya saya berterima kasih karena kalian sudah mau membantu saya dalam mengurus semua pekerjaan ini. Tanpa kalian perusahaan ini tidak akan berdiri hingga bertahun-tahun lamanya. Maaf jika selama saya bekerja memiliki kesalahan. Sekali lagi terima kasih atas kerjasamanya. PT. INDOFOOD, sukses."


"Sukses," mereka semua membalasnya secara bersamaan.


*****


Ckiiiitttt.......


"Astaghfirullah!!!" Danu terlonjak kaget seorang sopir menginjak rem mobil secara tiba-tiba. Ternyata ada kucing yang datang entah dari mana melintas ke hadapan mobilnya.


"Dari mana kucing itu datang?" tanya Danu.


"Kurang tahu, pak. Kucing itu lewat sendiri."


Danu beroh ria dan tanpa sengaja bayangan Diana melintas di benak Danu, "Diana," lirih Danu memegang dadanya. Dia merasakan perasaan tidak enak ketika mengingat nama Diana


"Ya Allah, lindungilah dia di manapun di berada," batin Danu berharap wanita yang ia cintai baik-baik saja.


Setelah hatinya merasa tenang, mereka kembali melanjutkan perjalannnya. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke bandara.


******


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Fikri khawatir melihat keadaan Diana yang tak sadarkan diri.


"Saya sudah mengoleskan salep di sekitar lehernya. Pastikan saat dia bangun meminum obat yang saya berikan ini," dokter itu menyimpan obat di atas meja samping tempat tidur. Lalu dokter itu menatap tajam Fikri.


"Penyakitmu kambuh lagi? Kali ini kau membahayakan nyawa orang lain."

__ADS_1


Fikri mengangguk, "Saya lepas kontrol, dokter. Amarah saya sangat tidak terkendalikan dan malah menyakiti istri saya. Saya menyesali perbuatan saya. Saya tidak tahu kenapa saya memiliki kepribadian ganda ini." Fikri duduk di samping Diana mengelus pelan rambut istrinya.


"Ini berbahaya."


__ADS_2