Talak Aku!

Talak Aku!
Kenapa Ini Terjadi?


__ADS_3

"Jangan pernah kalian menuduh anakku," sergah Karin geram dan sakit melihat Diana menangis dengan sorot mata terluka.


Karin, wanita dewasa yang sudah menganggap Diana putrinya tidak terima anak perempuannya di perlakukan tidak baik oleh orang-orang.


Karin juga mendekati Diana lalu berdiri di sampingnya dan merangkul pundak Diana secara posesif jika Diana adalah miliknya sekaligus putrinya. Karin juga menatap bayi lucu masih berkulit merah terlelap dalam gendongan sang ibu.


Wajahnya, alisnya, bibirnya, hidungnya, semua wajahnya begitu mirip dengan Danu kecil. Tidaka ada yang terlewatkan jika bayi itu memang sungguh sangat mirip dengan sang ayah.


Karin terharu bisa melihat cucu pertamanya. Tangannya terulur mengusap lembut pipi merah bayi mungil tersebut. Namun, senyum tipis itu berubah menjadi murung dan marah mengetahui orang-orang memaksa Diana menikah secara paksa.


Karin mendongak menatap silih berganti orang-orang yang ada di sana. "Siapa yang sudah berani menikahkan putriku tanpa sepengetahuan dan tanpa seizin ku, hah? Siapa yang sudah menyebarkan fitnah murahan itu?" Karin tak akan tinggal diam atas apa yang Diana alami.


"Siapa yang memfitnah mbak Diana? Disini tidak ada yang fitnah dia. Ini kenyataannya kalau wanita itu memang berbuat zina dengan Bli Fikri. Jadi kami menikahkannya daripada tempat kami di pake kumpul kebo oleh janda murahan itu."


"Aku sudah bilang kalian salah faham. Aku dan bli Fikri tidak pernah melakukan tindakan bodoh seperti yang kalian tuduhkan. Aku dan bli Fikri tidak pernah berbuat zina." Diana bersuara membela dirinya. Meski semuanya percuma dan sia-sia karena kini mereka sudah menikah, tapi Diana harus meluruskan segalanya agar tidak ada fitnah lain yang menyerangnya.


"Tapi kami melihat kau dan bli Fikri berciuman di depan rumah bli. Dan itu membuktikan jika kau sedang berbuat zina," wanita bertubuh gempal itulah yang sering berbicara di bandingkan wanita yang bertubuh langsing.


"Kalian salah paham. Aku dan Mbak Diana tidak lah berbuat zina. Kami tidak sengaja saling memeluk karena pada saat itu Diana mau terjatuh dan saya tidak sengaja menarik pinggangnya tapi malah bibir kami tak sengaja bersentuhan." Fikri bersuara menjelaskan apa yang terjadi.


Namun Diana melotot tak percaya pria yang kini sudah menjadi suaminya itu bicara berbeda. Dia tidak pernah mau jatuh, justru Fikri menarik tangannya dan memaksa mengecup bibirnya.


"Kalian dengar, anakku tidak mungkin melakukan tindakan hina seperti itu. Dan kau wanita bertubuh gemuk, saya akan melaporkan tindakanmu karena sudah mencemarkan nama baik Diana. Saya tidak akan main-main dan saya tidak terima itu." Karin menunjuk wajah wanita itu lalu menatap silih berganti semua orang yang ada di sana.


"Tapi kan saya..."


"Diam kau gendut! Kau bisanya cuman menuduh orang tanpa bukti yang kuat. Jadi saya pastikan keluarga kau menerima akibatnya." sentak Karin marah.


"Sudah sudah, semuanya sudah terjadi dan pernikahan pun sudah selesai di laksanakan. Jadi untuk apa di permasalahkan lagi? Toh semuanya sudah terjadi." lerai pak penghulu menengahi perdebatan mereka.


"Percuma di permasalahkan karena nikahnya juga sudah sah secara agama. Dan kalau pun ingin di permasalahkan, salahkan mereka berdua yang sudah memfitnah kita. Dari awal juga saya sudah bilang kalian salah faham tapi ibu-ibu itu terus saja mendesak hingga memutuskan menikahkan kota berdua," timpal Fikri yang juga sama-sama menjadi korban fitnah ibu-ibu rempong. Namun, tak dipungkiri jika Fikri menerima ini semua karena memang dia ingin sekali menjadikan Diana istrinya.

__ADS_1


Entah egois, entah cinta, entah obsesi, tapi yang pasti Fikri bahagia bisa mendapatkan Diana dan berjanji dalam hati akan membahagiakannya dan menerima setiap kekurangan Diana, itulah pikirnya.


"Tapi tetap saja saya tidak terima Diana di fitnah seperti itu." Karin tak main-main dengan ucapannya. Dia menelpon seseorang dan pergerakan itu membuat dua ibu-ibu yang mengompori terlihat ketakutan.


"A-apa yang akan kau lakukan? Jangan berbuat macam-macam sama saya, ya?" wanita jangkung dan wanita gemuk itu gemetar takut jika keduanya akan di penjarakan.


Karin hanya melirik," Saya ingin melaporkan tindakan pencemaran nama baik. Saya harap Anda segera melakukan pemeriksaan terhadap dua orang wanita yang sudah memfitnah anak saya." Karin tidak memperdulikan raut wajah kedua wanita itu yang sudah terlihat pucat. Baginya, siapa saja yang sudah menyakiti Diana akan berurusan dengannya.


Karin sudah begitu menyayangi Diana dan menganggapnya putri. Jadi dia akan melakukan apapun itu.


"Jangan laporkan kami, Mbak. Saya minta maaf, saya beneran tidak tahu kalau keduanya tidak melakukan zina." wanita gemuk itu memohon ampun pada Karin setelah mendengar dirinya dilaporkan ke polisi.


"Mending kalian keluar dari sini. Mengganggu waktu istirahat saja," usir dokter yang jadi saksi pernikahan Diana dan Fikri.


"Tapi dok..."


"Keluar, keluar!" dokter itu mendorong halus beberapa orang yang ada di sana meninggalkan Diana, Karin, Cici dan Fikri.


"Mbak, jangan laporkan saya ke polisi Mbak. Saya mohon." Dua wanita yang menjadi dalang di balik nikah dadakan ini terus meminta Karin untuk tidak melaporkannya.


"Sayang, maafkan Mama datang terlambat tidak bisa mencegah pernikahan kamu." Karin memeluk Diana yang tengah terisak dalam pelukan Cici.


"Kenapa ini terjadi padaku, Mah? Apa salah Diana sampai harus mengalami peristiwa seperti ini?" baru saja dia merasakan bahagia namun kini kembali di uji oleh kenyataan yang membuatnya mau tak mau harus menerima.


Diana sudah menolak tegas namun mereka tetap kekeh pada pendiriannya sampai mengancam akan menyakiti anaknya jika tidak menikah hari ini juga.


Diana dan Fikri tidak bisa menolak jika bayi mungil tak berdosa itu menjadi sasaran ancaman.


FLASHBACK


"Duduk di sana, pak. Saya sudah siap untuk menikah hari ini juga." Fikri memerintahkan pak penghulu duduk di hadapannya dengan Diana duduk di atas brangkar sambil menggendong putranya.

__ADS_1


"Tidak mau. Bli, jangan memaksa saya untuk tetap menikah dengan Anda. Apa Anda ingin pernikahan kita dilandasi keterpaksaan? Saya tidak ingin itu terjadi karena hanya akan ada kesedihan di dalamnya." Diana menolak tegas pernikahan dadakan ini.


Barulah Fikri terdiam memikirkan perkataan Diana yang ada benarnya juga jika mereka menikah terpaksa hanya akan saling menyakiti.


Namun, wanita bertubuh gemuk itu malah bertindak sesuka hatinya di kala Fikri bimbang. Dia justru mengambil bayi mungil itu yang sedang terlelap di samping Diana dan membuat mereka yang ada di sana terkejut atas tindakan spontan itu.


"Kembalikan anakku, Mbak. Jangan kau sakiti dia." Diana meringis menahan sakit di daerah intinya yang baru saja selesai melahirkan dan baru saja di jahit. Jadi masih terasa perihnya.


"Saya tidak akan mengembalikan bayi ini sebelum kalian menikah hari ini juga."


"Mbak Tami, kau jangan berbuat gila. Pernikahan bukanlah untuk main-main saja. Kembalikan bayi itu." Fikri juga berusaha membujuk berharap wanita gendut itu mengembalikannya.


"Kalian nikah dulu baru saya kembalikan. Saya tidak ingin desa saya mendapatkan kutukan karena ulah kalian. Cepetan!" sentak Tami membuat mereka terlonjak kaget.


Diana menangis menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin anaknya kenapa-kenapa namun juga tidak mau menikah dalam keadaan terpaksa begini. "Jangan Paksi saya, Mbak. Saya mohon."


"Mending kalian nikah saja daripada kampung kami dapat azab atas tindakan kalian. Dan anaknya Diana pasti akan kembali pada ibunya." saran pria yang berpakaian ala penghulu namun terkesan seperti ustadz.


"Di desa kami kalau ada yang berbuat zina harus segera di nikahkan. Kalau tidak maka desa kami akan terkena azab." sambung wanita berperawakan tinggi sedikit menjelaskan tentang peraturan di desanya. Tempat dimana Diana saat ini tinggal.


"Tapi saya..."


"Baiklah, saya setuju menikahi Diana. Asalkan bayi itu tolong di kembalikan pada Diana," ujar Fikri mengambil keputusan cukup memberatkan dirinya.


Dan setelah drama yang di lakukan Tami, Diana dan Fikri pun menikah secara dadakan karena Diana juga tidak bisa menolak di saat dirinya justru tertekan dari berbagai pihak.


FLASHBACK END


"Kenapa ini terjadi padaku, Mah. Kenapa?" tangis Diana tiada henti dan terdengar pilu.


Karin mengepalkan tangannya memeluk erat serta mengusap punggung Diana. Dia tidak menyangka kenapa kehidupan menantunya semakin rumit saja.

__ADS_1


Sedangkan Cici duduk di samping Diana sambil memangku bayi mungil yang sedari tadi anteng tak sedikitpun terganggu oleh kebisingan orang-orang.


Fikri sendiri menunduk terduduk di sofa bingung juga harus bagaimana. Tapi, dia akan berusaha keras menerima takdir tuhan ini dan tentunya akan melakukan apapun demi kebahagiaan Diana.


__ADS_2