
"Apa yang kau lakukan Salma?" ucapan Fikri mengagetkan Salma yang hendak mencekik leher baby A.
Salma mendongak, "Eh...! Ti-tidak." wanita bermuka dua itu gelagapan melepaskan tangan yang ada di leher baby A.
"Aku hanya ingin mengusap dadanya saja, hanya itu." Salma berusaha menetralkan kegugupannya agar Fikri tidak semakin curiga jika dia tadi hampir kelepasan mencekik bayi mungil ini.
Fikri memicingkan mata tajam menusuk jantung agar Salma takut dan tidak berbuat macam-macam. Dia yang ada di ambang pintu toko mendekati Salma yang sedang berdiri sambil menggendong baby A.
"Kau mau berbuat apa kepada bayi itu? Kau mau mencelakainya? Kau mau membunuhnya? Kau mau mencekiknya? Ngaku kamu!" Fikri membentak Salma agar wanita yang ia benci mengakuinya.
"Saya... saya ti-tidak melakukan apapun, bli. percayalah kalau saya itu tidak mungkin membunuh baby A. Kan dia anakku juga. Anak kita." Salma tidak mungkin mengakui niatnya yang ingin mencekik Baby A, nanti dia malah di ceraikan oleh Fikri.
"Saya tidak percaya sama kamu. Kau itu licik, suka main ngancam dan suka melakukan tindakan yang membuat saya geram." Fikri mendekati Salma dan mengambil alih bayinya.
"Awas, kalau kau sampai mengadu kepada Diana tentang hubungan kita aku akan..."
"Hubungan apa?" suara seseorang mengalihkan atensinya Salma dan Fikri.
Deg...
Keduanya sama-sama terkejut ada Diana di ambang pintu kaca depan toko. Seketika Fikri menjadi gugup dengan wajah memucat dan buliran dingin mulai hadir.
"Di-Diana, kamu sejak kapan di situ?" Fikri berusaha bersikap biasa saja padahal jantungnya berdebar takut.
__ADS_1
"Aku ingin mengambil bayiku. Waktunya dia minum Asi." Diana melangkah pelan meski badannya masih terasa lemah. Namun hatinya gelisah tidak bertemu sang putra hampir setengah hari ini.
"Kamu harus istirahat, sayang. Kamu kan sedang sakit." Fikri merasa khawatir orang yang ia cintai sakit begini.
"Iya, Mbak. Mending sekarang mbak duduk saja di sini." Salma pun mengambil kesempatan untuk mengalihkan perkataannya yang tadi Diana lontarkan.
Diana mengangguk sambil menggendong putranya, lalu ia duduk di kursi dekat meja kasir. Matanya menatap silih berganti dua orang yang ada di sana.
Fikri yang di tatap seperti itu merasa tidak nyaman. Tatapan itu seakan tatapan penuh kecurigaan. Seberapa keras dia mencoba mengalihkan hatinya tetap tidak tenang.
"Tadi kalian bicara hubungan kita. Hubungan apa yang kalian maksud?" Diana langsung bertanya kepada intinya saja. Tadi dia sempat dengar secara samar-samar hubungan kita. Namun, ia tidak tahu hubungan apa yang di maksud keduanya? Hati pun mulai bertanya-tanya.
"Hah, hu-hubungan apa? Kita tidak bilang hubungan kita. Iya kan Salma?" Fikri bertanya pada Salma seraya memicingkan mata untuk memperingatinya supaya tidak membuka mulut.
Diana semakin menangkap ketidak beresan diantara Fikri. Pria hitam manis berlesung pipi itu terlihat sangat gugup sekali. Bagaimana tidak gugup, Fikri takut rahasianya terbongkar dan takut jika Diana meninggalkannya. Dia memang mencintai Diana tapi juga tidak bisa melepaskan Salma karena ancaman Salma yang akan menyebarkan foto mesum dia kepada Diana.
"Ada apa dengan mereka berdua? Kenapa bli Fikri terlihat gugup sekali?" gumam Diana dalam hati merasa ada yang terjadi namun dia tidak tahu apa itu. Hatinya gelisah tak menentu tapi Diana berusaha membuang prasangka buruk itu.
Diana menghelakan nafas berat seraya menunduk memejamkan mata. "Ya Allah, tolong kau tunjukan jalan terbaik untuk diri hamba. Aku merasa tidak nyaman di dalam pernikahan ini. Hatiku masih terpaut kepada Mas Danu meskipun diri ini berusaha menerima Bli Fikri. Apa yang harus ku lakukan?"
Diana mendongak menatap kembali wajah Fikri. Dan Salma, dia kembali ke pekerjaannya merangkai bunga pesanan seseorang.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku, Bli?" entah kenapa pertanyaan itu ingin ia tanyakan kepada Fikri. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan, dan entah kenapa ia begitu penasaran terhadap sosok Fikri yang saat ini.
__ADS_1
Kenapa begitu? Karena sikap dan sifat Fikri yang dulu sangat baik, tidak mudah marah, tidak sampai terlihat ketakutan dan gelisah seperti ini.
"Sembunyikan? Aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu sayang, percayalah." Padahal dalam hati gelisah serta mengiakan.
Diana masih tidak percaya karena Fikri semakin tidak berani menatap dan terkesan ketakutan.
"Jangan berbohong, Bli. Apa yang kamu sembunyikan dari aku? Kita ini ini suami istri, kamu juga sudah mengesahkan pernikahan kita ke pengadilan negeri, jadi kita harus saling terbuka satu sama lainnya. Aku tidak mau ada kebohongan diantara kita. Aku sudah menceritakan semuanya tentang diriku, masa laluku. Kini, tinggal kamu yang harus terus terang padaku, Bli." Rasa takut di bohongi kembali hadir di relung hati Diana. Dia yang dulu pernah tersakiti begitu dalam oleh orang yang di cintainya membuat ia semakin jatuh ke dalam rasa trauma memiliki sebuah hubungan serius bersama pria lain. Meski tak pungkiri jika cinta pertama masih bertahta di hatinya. Namun, rasa takut juga makin besar menjadi.
Fikri menatap mata wanita yang sedang duduk menatapnya. "Percayalah Diana, saya tidak menyembunyikan sesuatu. Saya sudah berkata jujur padamu, semuanya."
"Lalu kenapa wajahmu terlihat khawatir begitu?" masih dalam keadaan memandangi Fikri. Diana ingin mengetahui seberapa kuat Fikri menyembunyikan sesuatu. Karena Diana yakin ada hal yang di sembunyikan.
"Aku tidak kenapa-kenapa." Fikri mengalihkan pandangannya tak sanggup lagi menatap mata bening namun penuh curiga itu.
"Bohong. Kamu berbohong, Bli. Ada sesuatu Nyang kamu sembunyikan. Kamu tidak bisa menjawabnya dan kamu terlihat menghindari tatapan ku. Kamu sedang bohong." keyakinannya begitu kuat akan hal itu. Pengalaman pertama atas pengkhianatan membuat Diana semakin peka oleh keadaan sekitar.
Salma yang tak jauh dari sana terus menguping pembicaraan dua orang di dalam. "Semoga kita ketahuan agar saya tidak perlu lagi berpura-pura di depan Diana."
Diana melirik keluar dimana Salma berada. "Bli, jawab!"
"Apa yang harus ku katakan, Diana? Sedari tadi kau berkata aku menyembunyikan sesuatu padahal tidak. Kamu terus mencurigai ku, aku muak dengan tuduhan itu." Suara Fikri menggema di dalam sana. Dia mulai meninggikan suaranya karena sudah tidak mau membahas tentang pertanyaan Diana dan juga bingung harus berkata apa.
"Kau tidak perlu tahu tentang masa laluku. Yang penting saat ini aku menerima masa lalu mu dan anak yang kau bawa ini. Masih syukur ada saya yang mau menikahi janda sedang hamil." sikap marah-marah nya kembali keluar membuat Diana diam memperhatikan Fikri.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu mau menikahi janda sedang hamil ini?"