Talak Aku!

Talak Aku!
Pembicaraan Di Pagi Hari


__ADS_3

Seorang wanita melangkah angkuh mencari keberadaan Fikri di depan rumahnya siapa lagi kalau bukan Salma yang tidak akan menyerah sebelum tujuannya tercapai. Entah apa yang di inginkan Salma sampai wanita itu begitu gigih mendekati Fikri.


Tok.. tok.. tok..


Tidak ada suara menyahut dari dalam sampai Salma berpikir jika pria itu pasti tidak ada di dalam rumah.


"Kemana dia pergi? Apa dia masih mencari Diana lagi? Tidak bisakah pria itu melepaskan wanita yang tidak mencintainya dan tidak pantas ia dapatkan? Sebelum Diana menjadi korban selanjutnya, saya harus melakukan sesuatu agar wanita itu terlepas dari jerat Fikri, si pria gila dengan dua kepribadian ganda."


******


Diana tengah kebingungan saat ingin mandi setelah memasak berbagai macam makanan yang ada di dalam lemari pendingin. Bingungnya, dia tidak memiliki baju ganti dan juga tidak memiliki pakaian untuk ganti baju bayinya.


Dia yang kabur dari rumah tidak membawa apa-apa hanya berbagai macam benda berharga saja, tidak membawa secuil pakaian.


"Aku mau mandi tapi bingung gak ada bajunya," gumam Diana sambil duduk tengah menyusui Baby A. "Arka juga belum mandi dan belum ganti bajunya. Hanya ganti Pampers saja."


Danu yang telah selesai mengganti perban di perutnya menatap heran saat melihat Diana tengah melamun di dapur. Dia sempat melirik meja makan yang sudah tersedia berbagai macam makanan. Dan seketika jakunnya naik turun kata bola matanya memperhatikan sumber nutrisi milik baby Arka yang dulu sering ia nikmati.


"Besar sekali. Astaghfirullah. Apa yang ku pikirkan?" gumam Danu mengusap wajahnya secara kasar saat menyadari pikiran nakalnya terus berkeliaran. Dan seketika bagian inti tubuhnya menegang hanya melihat sumber nutrisi putranya dan semakin tak terkendali kala membayangkan Diana dalam keadaan tak berbusana saat bersamanya.


"Oh ****... malam panas kita sering menggangguku, Dee. Kapan kamu jadi jandanya?" batin Danu menggerutu kesal tak sabar ingin memiliki Diana lagi.


"Hmmmm." Danu berdehem membuat Diana tersadar dari lamunannya dan segera menutupi bagian inti yang sedang di nikmati bayinya menggunakan tangan.


"Ka-kamu, sejak kapan ada di sana?" tanya Diana kaget.


"Baru saja," jawab Danu padahal sudah dari tadi dan juga sudah memperhatikan serta membayangkan yang tidak-tidak.

__ADS_1


Diana menunduk menggeser duduknya membelakangi Danu, lalu mencoba melepaskan mulut Baby A. Barulah membenarkan kancing bajunya setelah di lepaskan.


"Kamu kenapa melamun di dapur sendirian? Ada masalah?" pria itu masih berdiri di tempat memperhatikan dua orang yang paling ia cintai setelah orangtuanya.


"Aku bingung mau mandi tapi tidak ada baju ganti. Arka juga belum mandi dan belum ganti baju," balas Diana kebingungan.


"Arka? Jadi nama anak kita Arka?" Danu baru tahu dan lupa menanyakan nama anaknya sendiri saking fokusnya pada ibu dari anaknya.


Diana mendongak, "Iya, Arkana Alzio Fakhri."


Pria itu pun mendekati keduanya setelah merasa Diana selesai menyusui. Lalu duduk di sampingnya dan memperhatikan bayi mungil yang tengah terlelap di pangkuan sang Ibu.


"Nama yang bagus dan juga sangat indah." Danu beralih menatap Diana, "Makasih sudah menyematkan namaku di belakangnya."


"Sama-sama, karena sampai kapanpun kamu memang ayahnya."


"Kamu tunggu di sini dulu tidak apa-apa kan? Aku tidak akan lama, kok."


"Kemana?" Diana penasaran dan tentunya takut sendirian. Yang ia takutkan Fikri datang tiba-tiba memaksanya kembali.


"Ke depan untuk membeli pakaian buat kalian. Jaraknya tidak lama dari sini tapi, kalau kalian mau ikut ayo." Danu sebenarnya tidak ingin meninggalkan Diana sendiri di rumah. Tapi dia juga tidak ingin membawa Diana keluar rumah dan orang yang semalam masih mencarinya dan takut jika pria itu membawa Diana kembali.


"Aku tunggu di rumah saja. Tapi, beneran tidak jauh 'kan? Jangan lama-lama karena aku takut sendirian." pinta Diana berharap jarak tokonya tidak jauh dari rumah yang di tinggalinya saat ini.


"Iya sayang, tidak jauh kok. Kenapa? Pasti tidak mau berjauhan dengan ku, ya?" Danu tersenyum usil sembari menaik nurunkan alisnya menggoda Diana.


"Issh apaan, sih. Aku hanya takut Bli Fikri datang, dan aku juga takut dia nekat mencari keberadaanku." wajah Diana kembali murung menyadari jika dirinya masih menjadi istri pria itu.

__ADS_1


Danu menghelakan nafas berat menundukan kepalanya lalu kembali mendongak dan berkata, "Dia tidak akan tahu kamu berada di sini. Dee, apa sebaiknya kamu mengajukan surat perceraian kalian?"


"Kan semalam aku bilang sama kamu kalau Bli Fikri belum menjatuhkan talak." Semalam Diana menceritakan semua yang terjadi Selamat tinggal di Bali. Dia juga menceritakan perihal suaminya yang berbuat kasar dan juga berselingkuh.


"Jika alasannya kuat, kamu tidak perlu menunggu talak dari dia langsung datang saja mengajukan surat gugatan perceraian agar segera cepat diproses." Tentunya Danu pendukung hal itu sebab memang itu yang diinginkan dia saat ini, perceraian Diana dan suaminya.


"Biar nanti aku meminta bantuan Iqbal untuk membantu mu lepas dari pria gila itu, bagaimana?"


"Terserah Mas saja, yang penting Diana bisa terbebas dari pria ringan tangan dan jahat sepertinya."


"Istri yang baik," balas Danu sambil berdiri dari duduknya dan mengusap kepala Diana secara halus. Diana menunduk salah tingkah mendapatkan perhatian kecil dari pria yang masih bertahta di hatinya.


"Kalau gitu aku pergi ke depan dulu membeli baju ganti buat kalian. Kamu tunggu di sini dan jangan keluar rumah!"


"Iya, Mas. Dee mengerti."


"Ku tunggu jandamu, Diana Maheswari."


Dan Danu pun beranjak pergi dari sana meninggalkan Diana yang tengah menunduk menetralkan degup jantungnya.


Tanpa Danu sadari, pergerakan mereka tengah diawasi oleh seseorang. Dan orang itu masih berada di tempat enggan meninggalkan tempat itu sebelum apa yang dia inginkan tercapai. Hingga matanya melihat pergerakan Danu yang tengah keluar mengendarai kendaraan beroda empat.


"Akhirnya kau keluar juga. Sepertinya Diana tidak ikut, ini saat yang tepat." Fikri langsung segera turun dan berlari mendekati pintu di saat mobil Danu telah melaju meninggalkan pekarangan rumah.


Dia mengetuk-ketuk pintu rumahnya secara kasar dan tak sabar ingin melihat Diana. Hingga beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka memperlihatkan Diana yang tengah terbelalak.


"Bli Fikri...!"

__ADS_1


__ADS_2