
"Pria itu sudah kami bawa ke kantor polisi. Dan wanita yang kau maksud ada di rumahnya. Tapi bersama dua orang paruh baya yang katanya itu orangtuanya si pria. Apa perlu kita beraksi malam ini juga untuk membawa dia pergi?" ujar seorang pria tengah mengabarkan perihal penangkapan terhadap pria yang di benci Fikri. Dia atasan dari dua orang polisi yang menyeret paksa Danu.
Fikri tersenyum senang merasa puas telah melaporkan pria yang sudah memukulinya ke kantor polisi. Ini rencana yang ia susun untuk menjauhkan Danu dari Diana.
"Bagus, kalau begitu bawa istriku ke hadapanku. Dan pastikan pria itu mendekam di penjara! Untuk dua orangtuanya, jika mereka melakukan perlawanan lawan saja!" titah Fikri pada seorang pria yang ada di hadapannya.
"Dan ambillah uang ini atas kerja kalian yang sudah mau membantu saya menangkap dia secara cepat. Dan pastikan mulutmu tidak berbicara jika saya menyuap aparat kepolisian guna mempersingkat waktu agar pria itu segera cepat di penjara." Fikri melemparkan satu gepok uang di dalam amplop coklat ke atas meja.
Pria itu tersenyum lalu mengambil uangnya dan melihat isi dari amplop itu.
"Wow, kau rupanya tidaklah main-main memberikan kami uang sebanyak ini. Cukup banyak, thanks you." Pria yang masih berseragam polisi itu mencium amplop coklatnya.
"Dasar aparat mata duitan. Bukannya menegakkan keadilan malah kau mau ku suap. Kau itu polisi beneran atau polisi, gadungan?" tutur Fikri mendelik jengah ada polisi mau kena sogok.
"Polisi juga butuh uang. Kalau hanya menuruti negara saja mana bisa kaya. Kan kalau begini terus-terusan bisa dapat uang jauh lebih besar dari gaji yang di miliki." Pria itu tidak memperdulikan uang yang ia dapatkan dari mana. Yang dipikirkannya adalah dapat uang sebanyak mungkin. Inilah salah satu kelemahan orang, uang. Semua orang butuh uang dan tahta. Banyak yang melakukan korupsi, penipuan, dan macam cara dilakukan serta dihalalkan demi sebuah tujuan yang ingin tercapai. Termasuk mau disuap oleh orang-orang yang memang memiliki pikiran picik.
"Ok, sekarang saya menunggu langkah selanjutnya. Diana harus saya dapatkan dan tidak boleh hadir di persidangan. Hanya dia saksi kuat yang ada di sana dan salah satu korban. Maka dari itu, saya tidak ingin apa yang saya lakukan di bongkar dua ataupun para warga lainnya. Pastikan orang-orang yang tadi melerai tutup mulut agar kasus ini memberatkan pria sialan itu," ujar Fikri seraya berdiri dari kursi yang ada di ruangan polisi.
"Itu hal mudah bagi kami asalkan bayarannya cukup tinggi," balas polisinya meminta kembali uang sebagai jaminan tutup mulut mereka.
"Itu hal kecil bagi saya. Tunjukkan dulu kinerjanya baru uang saya berikan berapapun yang kau minta."
"Ok, saya pastikan pria itu tidak akan bisa keluar dari penjara dan saya pastikan semua orang memihak kepada kau," ujarnya tegas seakan meyakini bahwa mereka akan memenangkan persaingan antara kubu Fikri dan kubu Danu.
__ADS_1
******
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pah? Danu di tuduh majukan penganiayaan terhadap pria gila itu. Padahal dia hanya membela Diana," ujar Karin kebingungan.
"Papa sudah meminta Iqbal datang kemari dan menangani kasus yang sedang terjadi. Saat ini, Iqbal sedang di perjalanan. Ini kasus cukup rumit dan kita harus mencari bukti sebanyak mungkin agar tidak ada saksi palsu yang memberatkan," papar Fakhri sudah merencanakan memikirkan dengan matang apa yang akan dilakukan selanjutnya.
"Pah, Mah, aku minta maaf karena gara-gara aku Mas Danu jadi harus mengalami seperti ini." Diana menunduk sedih masih menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi kepada Danu.
Karin dan Fakhri tidak menyalahkan Diana karena mereka sadar apa yang terjadi sudah menjadi suratan takdir.
"Tidak perlu menyalahkan diri kamu sendiri, lebih baik sekarang kamu istirahat dan jangan banyak pikiran. Kasihan anak kamu," ujar Karin mengusap surai Diana secara lembut.
"Papa mau ke depan dulu ada hal yang akan papa bicarakan dengan seseorang." Fakhri berdiri seraya mengambil ponselnya dan bersiap menghubungi seseorang.
****
"Saya harap kau menjaga putra saya dengan baik selama dia berada di dalam penjara. Saya tidak ingin putra saya mengalami penyiksaan di saat introgasi. Kalau tidak menegakkan keadilan maka jangan salahkan saya untuk menghancurkan keluargamu," ucap papa Fakhri pada seseorang yang ada di seberang telepon.
*****
Di sebuah ruangan cukup gelap, tengah duduk satu orang pria di bawah sorot lampu berwarna kuning. Dia yang sedari tadi diam kini terus di cerca oleh berbagai macam pertanyaan terlontar dari mulut dua orang pria berseragam yang tengah duduk di hadapannya.
Biasanya para tersangka di bawa ke ruangan tempat yang terang dan di mintai keterangan, tapi ini beda dari yang lain sebab Danu di bawa ke ruangan yang cukup gelap. Satu lawan dua. Danu yang berusaha berkata jujur apa adanya tidak di hiraukan dan terus di salahkan.
__ADS_1
"Apa yang menyebabkan kau memukuli pria itu?"
"Karena dia sudah berani menyakiti wanitaku," jawab Danu dingin.
"Jangan berbelit-belit, jawab jujur!" sentak polisinya menggebrak meja.
"Saya sudah jujur tapi kalian terus membela pria gila itu. Ck, polisi macam apa kalian ini? Sungguh tidak adil." Danu kesal karena kedua polisi itu bertanya tapi juga tidak memihaknya dan terus membela Fikri.
"Kau jangan membawa keadilan di sini. Justru kami sedang berbuat adil terhadap orang yang kau aniaya. Jika kau tidak berkata jujur maka hukumannya akan bertambah berat."
"Saya tidak peduli dan saya pastikan akan membuat kalian semua mendekam di penjara. Jadi polisi kok mau-maunya di suap orang gila," ujar Danu menebak jika para polisi itu pasti sudah kena suap. Karena tidak mungkin seorang aparat polisi begitu kekeh membela jika yang dimaksud tersangka sudah berkata jujur.
"Hahaha.. kau mengancam kami?" salah satu dari kedua polisi itu berdiri mendekati Danu dan berdiri di belakang Danu, "Justru kami tidak membiarkan kau bebas secepat itu. Akan kami pastikan kau mendekam di penjara mempertanggungjawabkan perbuatannya," ujarnya dingin dan begitu tegas.
"Ck, kita lihat saja nanti. Hari itu akan tiba, hari dimana kalian para penjahat kalah oleh sebuah kebenaran yang ada."
"Wow rupanya kau tidak takut pada kita? Hmmm lebih baik bawa dia ke sel dan satukan dia dengan para narapidana preman yang kasar dan sangar!" titah pria yang ada di hadapannya Danu. Dan pria yang tengah berdiri itu pun mengangguk mendorong pelan bahu Danu.
"Berdiri dan jalan!"
Danu menoleh kebelakang, matanya menatap benci pria yang sudah mendorong Diana. Dan Danu berdiri masih dalam keadaan menatap pria itu.
Bugh...
__ADS_1