Talak Aku!

Talak Aku!
Mewawancarai Diana


__ADS_3

Siang berubah malam, hati Diana merasa tidak tenang membiarkan mantan suaminya berada di penjara atas kasus yang ia ciptakan. Seharusnya ini tidak terjadi kepadanya, seharusnya masalah ini dia dan Fikri yang hadapi, tidak untuk melibatkan Danu dan dan yang lainnya.


Meskipun orang terus menerus memberikan sebuah wejangan dan memberikan dukungan, tapi Diana tetap saja tidak enak hati. Dia yang tengah berbaring menidurkan Baby A tidak bisa tenang. Hatinya gelisah, pikirannya kesana kemari tidak ingin terjadi hal apapun kepada ayah anaknya.


Diana perlahan bangun dari tidurnya setelah menenangkan baby A. Baru lah dirinya keluar kamar bergabung kembali dengan para orang tua. Tapi, saat sudah sampai, dirinya merasa heran ada pria asing tak ia kenal sedang berbicara serius dengan orangtua.


"Itu Diana. Kemari sini, Nak!" Fakhri meminta Diana mendekatinya dan Diana hanya mengangguk saja lalu berjalan dan duduk diantara Fakhri dan Karin sebab titah dari Karin.


"Iqbal, ini Diana. Dia yang akan menjadi narasumber atas kasus yang kita hadapi saat ini. Dia saksi utama kejadian itu dan sekalian Diana juga ingin mengajukan surat gugatan cerai untuk pria gila itu," ujar Fakhri memperkenalkan sekaligus memberitahukan jika Diana saksi dan juga korban. Fakhri juga sudah menceritakan masalah yang sedang di hadapi Diana saat ini.


Iqbal mengangguk lalu melirik Diana. Dia yang baru saja melakukan penerbangan dari kota J ke B, tidak istirahat melainkan langsung ke tempat Fakhri berada dan mulai mendengarkan bercerita.


"Diana Maheswari, berhubung ini terlalu singkat dan cepat, maka kita juga harus bergerak cepat," ucap Iqbal sambil membuka laptop yang ada di atas meja. Yang di maksud singkat dan cepat itu tentang penangkapan terhadap Danu begitu cepat. Setahunya, proses penangkapan itu butuh waktu karena harus ada surat izin penangkapan dulu. Tapi ini tidak.


"Untuk perihal Danu, tolong kamu jelaskan setiap rincian kejadian, waktu, tempat, dan apa saja yang terjadi di tempat perkara?" Iqbal sudah siap mengetik sesuai yang Diana ceritakan.


Karin menggenggam tangan Diana, Diana menoleh sedangkan Karin mengangguk meminta Diana untuk menceritakan semuanya. Di saat mata Karin menatapnya, Diana pun mengangguk.


Diana mulai menarik nafas dalam kemudian di keluarkan secara perlahan dan barulah dirinya berucap menceritakan.


"Waktu kejadiannya saat pagi hari di ...." Diana mulai menjelaskan apa yang terjadi di pagi itu dari A sampai Z tanpa ada yang ia tutup-tutupi lagi. Dia menceritakan semuanya hingga cerita terakhir kalinya. Dan Iqbal terus mengetik sesuatu dengan keseriusan yang tinggi guna memastikan ketikkan nya tidak salah dan cerita yang Diana ceritakan tersusun rapi.


"Hingga perkelahian keduanya terhenti atas bantuan beberapa orang warga yang melerainya. Baru lah Bli Fikri pergi dari tempat ini," ujar Diana mengakhiri ceritanya sejenak.


Iqbal mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan bisa menyimpulkan segalanya. Karin dan Fakhri terdiam mendengarkan tetapi juga merasa geram.


"Lalu, ada lagi kejadian yang membuat Mas Danu harus mengalami luka di perutnya," sambung Diana sekalian ingin melaporkan segala macam peristiwa yang terjadi.


"Silahkan kamu ceritakan lagi semuanya!" titah Iqbal kembali bersiap mengetik lagi.

__ADS_1


"Pada malam itu aku tengah berusaha kabur dari amukkan Bli Fikri yang mengancam akan membunuh bayiku. Lalu aku pergi ..." Dan Diana kembali menceritakan semuanya saat kejadian Danu mengalami goresan luka.


"Ternyata ini cukup berbahaya dan harus segera di tindak lanjuti laporan ini. Berhubung saya sudah ada di sini, saya akan melakukan apapun untuk membebaskan Danu dan juga membantu kamu bercerai dari pria itu. Tentunya akan memastikan jika pria itu bakalan di bui selama mungkin. Tapi, apa kelengkapan surat pernikahan nya ada?"


"Ada, aku bawa semua barang-barang penting milikku." Tentu Diana tidak melupakan satu itu, karena ia yakin pasti membutuhkan surat nikah yang ia terima dari Fikri sebagai salah satu bukti dan syarat untuk mengajukan gugatan.


"Besok saya akan membantu kamu menggugat cerai pria itu dan saya pastikan dalam kurun waktu 3 bulan kalian sudah resmi bercerai," ujar Iqbal santan meyakinkan. Seharusnya proses perceraian itu membutuhkan waktu paling lama 6 bulan. Berhubung Iqbal sudah menjadi pengacara keluarga Fakhri selama 4 tahun belakangan ini, maka Iqbal akan melakukan yang terbaik untuk kliennya.


"Dan untuk Danu, saya pastikan dalam waktu satu bulan segera di bebaskan," ujarnya kembali di karenakan proses persidangan pidana kemungkinan membutuhkan waktu. Ada yang berbulan-bulan bahkan ada yang tahunan. Tergantung berapa saksi yang dihadirkan dan berapa lama penyidikan yang di lakukan. Tapi Iqbal akan memastikan dalam satu bulan Danu bakalan keluar.


Karin, Fakhri, dan Diana mengangguk mengerti.


*****


"Bos, apa kita perlu turun saat ini juga?" tanya satu dari dua orang anak buah yang Fikri suruh untuk menculik Diana.


"Sekarang lah, masa tahun depan. Saya tidak mau di saat persidangan nanti Diana datang dan menjadi saksi. Dan saya tidak ingin kehadiran dia menjadi penghalang saya untuk menjebloskan pria itu ke dalam penjara." Fikri sudah memikirkan segalanya dan ia akan menyekap Diana agar tidak buka mulut. Dan tentunya tidak akan melepaskan Diana lagi.


Kedua orang itu turun dan Fikri pun tentu ikut turun. Pria berkulit hitam manis berlesung pipi itu kembali mengetuk pintu.


Sesi wawancara yang di lakukan Iqbal sudah selesai dan semuanya sudah di catat dan di save sebagai bukti dan sebagai bahan pembelaan di persidangan nanti. Karena mereka sudah meyakini jika perkara ini bakalan di bawa ke meja hijau. Maka dari itu Fakhri mengantisipasi hal ini secepatnya.


Tok ... tok ... tok ....


Mereka yang ada di dalam saking lirik, "Ada tamu malam-malam begini," ujar Karin.


"Biar papa yang buka," kata Fakhri berdiri mendekati pintu. Ketiga orang yang sedang duduk itu memperhatikan pintu dimana Fakhri berdiri.


Pas di buka, suara Fikri menggema dan mendorong kasar tubuh Fakhri.

__ADS_1


"Diana ayo keluar!" pekik Fikri mengagetkan Diana.


Fakhri yang kesal pada tingkah Fikri juga menyeret keluar tubuh pria itu kemudian mendorongnya.


"Bli Fikri," gumam Diana melirik Karin, "Dia datang lagi, Mah." Seketika dirinya panik dan Karin juga langsung berdiri.


"Iqbal, tolong kau bawa Diana pergi dari sini sebelum pria itu menangkap Diana. Kalian pergi lewat jalan belakang. Mama tidak ingin kamu di bawa dia pergi."


"Tapi, Mah. Bagaimana kalau dia menyakiti kalian?" Diana tidak mungkin meninggalkan orangtuanya Danu begitu saja di saat keadaan dalam genting begini.


"Tapi kalian jauh lebih bahaya. Buruan bawa baby A sekarang juga!" Karin menarik Diana ke dalam kamar agar segera membawa cucunya pergi, "Iqbal, Tante minta bantuan kamu. Tolong kamu bawa Diana ke tempat yang paling aman!"


Iqbal yabg tengah membereskan barang penting miliknya dan tentunya berisi semua informasi yang ia dapatkan mengangguk, "Baik Tante. Tapi apa kalian bisa mengatasi mereka?"


"Kau jangan pikirkan itu karena kami mampu menghadapinya. Diana buruan!"


"Diana keluar kamu! Atau aku akan menghabisi nyawa orang-orang yang ada di sini!" pekik Fikri bersuara tegas penuh perintah.


Bugh ... Bugh ....


"Berisik brengsek! Lebih baik kau pergi dari sini atau saya akan memberimu pelajaran." Fakhri menghajar Fikri dua kali pukulan saking kesal dan marah pada pria itu yang sudah menyebabkan Diana menderita dan sudah membuat putranya terluka.


"Sialan kau tua bangka. Geledah rumah ini dan bawa istriku sekarang juga!" titah Fikri pada dua orang yang ia bawa bernadakan tinggi dan emosi


"Siapa, Bos."


Tapi Fakhri menghalangi mereka masuk ke dalam. Sedangkan Karin tengah menyuruh Diana keluar dari pintu belakang.


"Mah, bagaimana dengan kalian?" Diana sudah berderai air mata khawatir dengan keadaan orangtuanya.

__ADS_1


"Kami akan baik-baik saja, sekarang kalian pergi. Iqbal cepat bawa Diana! Tante percayakan putriku dan cucuku padamu."


"Baik Tante."


__ADS_2