
"Iya kamu..." perkataan Fikri menggantung kala netra mata hitamnya tertuju pada wanita yang sedang berlari begitu tergesa ke arah mereka.
"Mbak Diana, maaf Salma datang terlambat." wanita itu adalah Salma. Padahal waktunya juga sudah lewat Dzuhur. Tapi tanpa rasa malu Salma malah datang ke toko seolah dialah pemilik tokonya. Matanya juga sempat menatap dalam mata pria yang juga memandangnya. Senyum tipis menggoda dan kerlingan mata genitnya ia tunjukan di saat Diana tidak menyadarinya.
"Kemana saja? Tumben datangnya terlambat. Aku kira Mbak Salma tidak akan masuk hari ini." Seperti biasanya, Diana selalu lemah lembut dan tidak memiliki rasa curiga terhadap orang lain. Dia yang selalu baik dan memiliki pemikiran positif tidak pernah menilai seseorang buruk meski orang tersebut kadang menunjukan keburukannya. Tapi Diana selalu positif thinking.
Salma terlebih dulu duduk di meja kasir sengaja bersebelahan dengan Fikri. Pria manis pemilik lesung pipi itu mendadak was was takut Salma nekat berbuat macam-macam. Dia mendelik tajam lalu menunduk lagi tidak berani mendongak menatap mata bening penuh ketulusan milik Diana.
"Tadi pagi ada masalah yang harus di selesaikan, Mbak. Saya..." Salma sengaja menjeda ucapannya melirik dulu sekilas Fikri, lalu beralih melihat baby A yang ada di gendongan Diana.
Fikri semakin di buat gugup. Dahinya mulai berkeringat dingin takut Salma membongkar apa yang terjadi tadi pagi. Dia mengambil air minum yang ada di botol lalu meneguknya.
"Saya di grebek warga di nikahkan dadakan."
Ukhuk... ukhuk...
"Apa...?! menikah dadakan? Kok bisa?" Diana terkejut atas pengakuan Salma dan juga kaget melihat Fikri terbatuk-batuk. Ia jadi teringat saat dirinya juga di nikahkan secara dadakan oleh warga akibat kesalahpahaman yang tercipta.
__ADS_1
Sedangkan Fikri langsung terbelalak kaget Salma ingin membongkar rahasianya. "Hmmm hhmmmm..." dirinya sampai pura-pura berdehem menatap tajam mata Salma memberikan kode agar dia tutup mulut.
Lain halnya dengan Diana yang terlihat khawatir terhadap Fikri. Dia memberikan air minum lalu mengusap punggung Fikri. "Kalau minum hati-hati, bli. Kamu tidak apa?"
Fikri dan Salma melirik Diana. Fikri tersenyum mendapatkan perhatian kecil dari istrinya, sedangkan Salma tidak menyukai cara bosnya memperlakukan Fikri.
"Aku tidak apa-apa, hanya tersedak saja kaget mendengar cerita Salma yang terkesan dadakan itu. Seperti penggrebekan saja nikah dadakan." sindir Fikri atas kejadian tadi pagi.
Diana pun menatap Salma meminta penjelasan mengenai ceritanya. Dia cukup penasaran dengan siapa Salma menikah dan kenapa bisa sampai di grebek?
"Hmmm enggak, hanya nikah dadakan karena dia yang memaksa saya buat mau menerima lamarannya. Dan terjadilah nikah dadakan itu." Salma pandai sekali bersilat lidah dan bersandiwara. Dia juga terlihat begitu pandai menyembunyikan sesuatu.
Fikri dibuat gram atas kelakuan Salma yang selalu memutar balikan fakta dalam berucap segala hal. Dia tidak mengerti jalan pikir wanita ini. Dan anehnya dari dulu dirinya selalu terjebak ke dalam tindakan Salma yang semakin hari semakin membuatnya geram dan juga tak berkutik sekalipun.
"Oh gitu. Mungkin pria itu sudah menjadi jodoh Mbak Salma yang dikirimkan Allah untuk menjadi pelindung sekaligus menjadi teman hidup. Semoga pernikahan kalian langgeng selalu mendapatkan kebahagiaan, selalu tetap bersama hingga akhir hayat. Dan semoga kalian segera diberikan momongan," ucap Diana memberikan doa tulus untuk pernikahan Salma. Tanpa ia sadari jika pernikahan tersebut merupakan pernikahan kedua suaminya. Dan tanpa Diana sadari jika kini dirinya sudah memiliki madu.
"Aamiin yarobbal'alamiin." tentu di amin kan oleh Salma karena memang ini keinginannya. padahal dalam hatinya berkata, "Kau tidak tahu saja kalau suamimu itu suamiku juga. Kita akan bermain di atas pernikahan kalian. Kita lihat saja siapa yang akan menang, kau seorang janda beranak satu, atau aku wanita di masa lalu."
__ADS_1
"Pastinya. Akan ku jaga suamiku dari wanita lain. Kalau perlu, akan kupastikan pria itu menjadi milikku satu-satunya. Tidak akan kubiarkan wanita lain mendekatinya siapapun itu." Salma sampai berkata sambil melirik Fikri. Dia seolah menunjukkan bahwa dirinya akan mengambil Fikri dari siapa saja wanita yang ingin mendekatinya dan mengambil Fikri dari Diana juga.
"Sialan nih wanita. Bisa-bisanya dia terus berkata seperti itu. Pasti sama berencana untuk memisahkanku dengan Diana. Ya, saya yakin itu," gumam Fikri dalam hati.
"Tapi terkadang meskipun kita berusaha menjadi yang terbaik untuk pria kita, berusaha menjaganya dari wanita lain, berusaha agar pria yang ada di samping kita terus tetap memilih dan setia kepada kita, tetapi kita tidak pernah tahu jika di luar sana banyak sekali wanita yang sedang berusaha mendekati suami kita, berusaha menggodanya, berusaha menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan suami kita. Di luaran sana banyak sekali ulat bulu kegatelan yang ingin menempel kepada pria kita. Maka dari itu kita harus senantiasa berhati-hati dalam menjaganya. Tapi, jika prianya masih bisa tergoda juga mesti kita sudah hati-hati, keduanya sama-sama kegatelan dan Allah menunjukkan jika pria tersebut bukanlah yang terbaik untuknya. Kalau aku, pertama akan diam dulu sampai semua menunjukan kebenaran yang akurat, jika sudah terlalu perpisahanlah yang kutuju."
Panjang sekali Dian mengutarakan pikirannya. Dia menasehati memberikan pesan jika suatu hari nanti prianya berkhianat berarti orang itu bukan yang terbaik untuknya dan dia akan menggugat cerai suaminya.
Seketika Fikri terhenyak mendengar pesan dari Diana. Dia jadi berpikir bagaimana kalau dirinya ketahuan telah menduakan istrinya? Langkah apa yang akan Diana lakukan, bercerai atau memberikan kesempatan? Dan hatinya menjadi risau saat memikirkan semua itu terjadi.
"Tidak, saya tidak mau kehilangan Diana. Saya harus melepaskan Salma sebelum Diana menyadari segalanya. Tapi saya juga harus menghilangkan semua foto-foto tidak senonoh kita kamu tidak memiliki lagi membuat sakit hati dan meminta perceraian," gumam Fikri dalam hati.
Sedangkan Salma merasa tersinggung menenai kata kegatelan. "Bukan wanita yang kegatelan, tapi pria yang tidak bisa menjaga mata dan hatinya sampai membuka pintu untuk wanita lain." Salma berusaha membela dirinya sendiri atas ucapannya Diana.
"Dua duanya salah. Tamu tidak akan masuk jika pemilik rumah tidak mempersilahkan. Dan pemilik rumah tidak akan membuka jika tamu tersebut tidak terus mengetuk pintunya. Jadi keduanya sama-sama salah dan saling tidak bisa menjaga diri serta kepercayaan. Mereka bukan tipe setia, tapi egois akan nafsu yang di milikinya," ucap Diana sangat santai dan bernada halus tapi mampu membuat Salma dan Fikri terdiam.
Simple namun memiliki makna yang begitu dalam. Perkataan halus tapi menusuk hingga jantung terdalam. Itulah pesan Diana untuk kedua orang penghianatan.
__ADS_1