Talak Aku!

Talak Aku!
Danu & Diana Flashdback II


__ADS_3

Dia berjongkok memegang ujung rok Diana.


"Kamu mau ngapain?" Diana kaget menepis kasar tangan Danu yang hendak menyingkap ujung dress-nya.


"Kau jangan lancang, Tuan. Saya bisa melaporkan tindakan Anda atas kasus pelecehan," seru Cici tidak menyukai kelancangan pria yang sedang berjongkok tersebut.


"Saya hanya ingin melihat lukanya saja. Saya ingin mengobatinya karena saya tidak mau luka tersebut infeksi." Danu mendongak memandang mata indah nan teduh milik Diana. Seketika dia tidak bisa berpaling dari mata bening tersebut.


"Pak Zio, ini kotak kesehatannya." pak Satpam memberikan apa yang di pinta Danu. Danu menengok lalu mengambilnya.


"Makasih, Pak. Boleh minta air mineralnya?"


"Boleh, Pak." Satpam tersebut sudah tahu siapa Danu di karenakan Fakhri sudah memberitahukan jika akan ada dosen baru ke sana dan Fakhri juga menunjukan fotonya.


"Hmmm Anda tidak usah repot-repot, saya bisa sendiri." Diana menolak tegas di kala tangan Danu kembali membuka ujung roknya. Diana merasa risih atas perlakukan Danu.


"Saya mohon biarkan saya mengobatinya. Ini salah saya tidak berhati-hati dan kamu menjadi korbannya. Please?" Danu menatap mata Diana dalam.


Diana tak berkutik sedikitpun di saat mata tajam namun meneduhkan mampu membuatnya terdiam.


Danu pun sedikit menyingkap ujung bajunya lalu membersihkan lukanya menggunakan air mineral. Diana meringis perih mencengkram erat tas selempangnya.


Danu meniupi lutut Diana berharap rasa perihnya berkurang. Dian juga menuangkan alkohol ke kapas lalu menekan-nekan pelan ke luka yang ada di lutut Diana.


"Ssttt aw... pelan-pelan. Ini perih banget."


"Maaf," balas Danu meniup kembali lukanya.


Diana memperhatikan perhatian kecil pria yang ada di hadapannya. Danu pun mendongak dan mata keduanya saling memandang terkunci satu sama lainnya.


"Kenapa jantungku berdegup kencang begini?" batin Danu.


"Ya Allah, kenapa dadaku dag dig dug ya?" batin Diana.


"Astaga Diana...! Kita sudah terlambat setengah jam masuk jam pelajaran." Pekik Cici di saat matanya melotot kaget memandangi jam tangan.


"Apa..!? Apa yang harus kita lakukan? Pasti pak Bambang marah dan akan menghukum kita." Pekik Diana langsung berdiri namun karena kakinya masih sakit, tubuhnya tidak seimbang dan ingin jatuh.


Untung ada tangan kekar yang segera menarik pinggang Diana sampai gadis itu terjatuh ke pangkuan Danu dengan kedua tangan berpegangan di pundak. Dan mata mereka kembali bertatapan.


"Aduh Gusti, malah ada adegan romantis di saat genting begini. Diana buruan kita masuk kelas." pekik Cici menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Hah." Diana gelagapan dan pipinya sudah bersemu merah. Dia perlahan berdiri. "Maaf."


Lalu dengan tertatih menggapai tangan Cici yang terulur. "Ayo Diana."


"Makasih." Diana menoleh sebentar kemudian bergegas pergi dengan kaki terpincang-pincang menahan sakit di lututnya.


Danu menyunggingkan senyuman misteri sembari menatap Diana.


Dari sejak pertemuan itulah Danu berusaha mendekati Diana. Berbagai macam cara ia lakukan demi bisa menarik perhatian gadis cantik itu.


Dia sampai rela menunggu kepulangan Diana dari sekolahnya hanya untuk bisa mengambil hati gadis cantik tersebut. Usahanya tidak sia-sia. Perlahan namun pasti, Diana mulai membuka hati dan luluh atas sikap baik yang sering Danu tunjukan padanya.


Seperti yang di lakukannya saat ini dimana Danu sedang menunggu Diana keluar dari kampus.


"Diana." panggilnya kala melihat Diana keluar gerbang berbarengan dengan Cici.


"Pak Zio."


"Ehemm yang di tungguin ayang mbeb tuh," ledek Cici.


"Apaan sih." Diana menunduk tersenyum malu.


"Tapi aneh ya, kok Pak Zio tidak pernah menunjukan perhatiannya di kampus? Dia terkesan sembunyi-sembunyi saat mendekatimu. Kalau di luar kampus saja pasti gencar deketin." bisik Cici sambil berjalan menemani Diana mendekati Dani yang cukup jauh dari area kampus.


"Cie yang manggilnya udah Mas Danu. Di kampus saja manggil Pak Zio. Di luar Mas Danu," ledek Cici kembali menggoda Diana.


"Kamu ikut aku, ya? Ada hal yang ingin ku sampaikan sama kamu. Tapi Cici tidak bisa ikut."


Diana dan Cici saling pandang. Tidak biasanya Danu mengajak jalan berdua.


"Hal apa?"


"Ini penting, Dee. Kali ini saja, mau ya?" Danu sampai memohon berharap Diana mau di ajak pergi berdua.


"Udah, kalian pergi saja. Aku kan ada supir yang nungguin, tuh." tunjuk Cici pada kendaraan beroda empat yang sedang menunggu.


"Gak apa-apa aku tinggal sendiri?" Diana tidak enak hati.


"Santai aja kali. Aku tidak apa-apa kok. Udah pergi saja. Siapa tahu ada hal spesial yang pak Zio siapkan untukmu."


Danu sudah berada di atas kuda besinya menunggu Diana naik. Setelah mendapat izin dari Cici, dia pun mengangguk menaiki motor Danu.

__ADS_1


"Aku tinggal dulu ya, ci." Cici mengangguk melambaikan tangan.


Danu menyalakan motornya, dia juga memegang tangan Diana menariknya ke perut menandakan jika Diana harus berpegangan.


"Peluk aku, Dee. Takutnya kamu jatuh." Danu memperhatikan wajah kemerah-merahan Diana di balik kaca spion. Gadis itu nampak menunduk menyembunyikan rona merahnya sembari berpegang ke pinggang Danu.


"Kau masuk jebakan ku Diana," batin Danu menyeringai. Dia pun menjalankan motornya membawa Diana ke suatu tempat.


******


Tibalah mereka berdua di cafe namun berada di ruangan VIP.


"Kenapa kita masuk cafe mahal ini? Kan uangnya sayang, Pak."


"Stttt..." Danu menempelkan jarinya ke bibir Diana. Dia berdiri di hadapan gadis itu dengan jarak cukup dekat.


"Jangan panggil aku Pak! Kita berada di luar kampus, sayang." Diana menunduk malu, jantungnya pun berdebar-debar.


"Kita sudah lama dekat, Dee. Aku belum pernah mengutarakan perasanku padamu. Hari ini, aku sengaja membawamu ke sini untuk menanyakan perihal hubungan kita. Apa ku menyukaiku?"


Diana langsung mendongak menatap dalam mata Danu. "Aku..."


"Aku menyukaimu, aku mencintaimu dan mau kah kamu menikah dengan ku?" Tiba-tiba saja Danu berjongkok menunjukan cincin yang telah ia siapkan untuk melamar Diana.


Diana terbelalak menutup mulutnya terkejut tidak menyangka Danu melamarnya. "Ini...!"


"Aku ingin serius sama kamu. Aku tidak ingin berpacaran karena yang ku inginkan menikah. Diana, aku bukanlah orang kaya, aku hanyalah pengajar biasa dengan gaji alakadarnya. Tapi aku sungguh mencintaimu dan ingin menikah denganmu dan menua bersamamu. Izinkan aku menjadi imam mu sekaligus menjadi pelindung mu dan menjadi tempat terakhir kamu pulang. Maukah kamu menikah denganku?" Danu berkata serius menunjukan keseriusannya.


Diana yang saat ini sudah terlanjur mencintai Danu begitu saja menerima lamaran pria di hadapannya dia mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Aku mau menikah denganmu."


Danu tersenyum senang karena rencananya berhasil. Dengan ini dia akan lebih leluasa menyakiti dan membalaskan dendam atas kematian adiknya dengan cara halus.


Danu berdiri lalu memasukkan cincinnya ke jari manis Diana kemudian memeluknya.


"Terima kasih kamu sudah menerima ku. Aku janji akan selalu membahagiakan mu."


"Aku mohon jangan kecewakan aku," pintanya membuat Danu diam.


Flashback end.


Danu memeluk erat sprei bekas malam pertama mereka. Bukti jika dialah orang pertama yang sudah mengambil kesucian Diana dan dia juga orang pertama yang menyakiti hatinya.

__ADS_1


Danu meringkuk memeluk kain tersebut seraya menangis diam tidak bisa menahan sesak yang ia rasa di saat kehilangan orang orang ia cintai di saat semuanya sudah terlambat.


"Kenapa rasa ini masih ada di saat kamu sudah pergi entah kemana? Aku mencintaimu, Dee. Sangat mencintaimu. Kehilangan kamu dan anak kita jauh lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan adikku. Kamu dimana Diana? Aku merindukanmu, sayang," lirihnya terisak memeluk kain sprei.


__ADS_2