Talak Aku!

Talak Aku!
Rewel


__ADS_3

Hari pun menjelang pagi, Diana terbangun dari tidurnya saat mendengar suara bayi. Rasa kantuknya masih ada di karenakan hampir semalaman dia tidak tidur menimang-timang putranya yang rewel entah kenapa.


Bayi mungil itu menggeliat sembari mengeluarkan suara oooaaa... oooaaa. Suara khas bayi menangis kala mencari sesuatu atau mungkin tidak nyaman terhadap apa yang di kenakannya.


"Sayang kamu kenapa? Haus ingin mimi? Pup, atau pipis?" Diana berceloteh mengambil bayinya lalu memeriksa bagian bokong sang bayi. Tapi tidak basah ataupun tidak bau pup.


"Masih kering tapi kenapa dia menangis?"


Oooaaa... oooaaaa...


Diana kebingungan harus berbuat apa. Ini pertama kalinya dia mengurus bayi sendirian.


"Sayang kamu mau mimi?" Diana berpikir jika putranya ingin minum asi. Lalu dia membenarkan posisi gendongannya dan mengeluarkan salah satu sumber nutrisi Arkana.


Tapi, baby Arka tidak mau menyesap nutrisinya. Dia malah semakin menangis kencang menggerakkan kepalanya menolak asi yang di berikan ibunya.


"Kamu kenapa, Nak? Bunda harus apa? Bunda bingung jika kamu begini terus." Diana merasa sedih ketika anaknya menolak asi pemberiannya.


Diana kembali memasukkan sumber nutrisi milik Arkana ke dalam bungkusnya. Dia mencoba menenangkan sang putra dalam dekapannya penuh perasaan dengan cara mengelus punggung Arkana dan sesekali menepuk-tepuk bokong Arka.


Diana juga mencoba berdiri menenangkan putranya. Hatinya gelisah tidak bisa menenangkan sang anak. Dia bingung harus menggunakan cara apa agar Arka berhenti menangis.


Tangisan Arka terdengar ke luar ruangan kamar. Mama Karin yang sedang memasak di temani Cici terkejut.


"Itu suara Arka bukan? Dia menangis kencang banget, kenapa ya?" Karin sampai menyimpan olahan makanan yang hendak di masak dan langsung mencuci tangannya ingin cepat-cepat menemui cucu dan Diana.


"Iya Tante, itu Arka. Tangisnya kencang banget." Cici lebih dulu berdiri dan segera berlari ke kamar Diana lalu setelahnya di susul oleh mama Karin.


"Diana, apa yang terjadi sama Arka?" Cici bertanya setelah masuk ke dalam kamar.


Diana menengok kebelakang dan matanya sudah berderai air mata. "Cici, Mama, aku tidak tahu Arka kenapa? Dia tidak mau aku susui. Dari tadi nangis terus," ucap Diana terisak kecil saking bingungnya.


"Ya Allah, Dee. Kamu jangan menangis sayang. Arka akan ikut rewel kalau Bundanya juga bersedih. Kamu harus tenang ya sayang." Karin dan Cici mendekati Diana lalu Karin beralih mengambil Arka dari gendongan Diana dan mencoba menenangkan cucunya.


"Aku tidak bisa tenang di saat anakku juga tidak tenang." Diana tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya. Cici mengusap punggung Diana mencoba menenangkan wanita habis melahirkan itu.


"Kamu duduk dulu, Dee. Tenangkan dulu perasaanmu agar anak kamu juga ikut tenang." Cici mengajak Diana duduk di pinggir ranjang.


Karin masih berusaha menenangkan cucunya yang masih saja menangis. Bahkan wajahnya sudah merah.

__ADS_1


"Cucu Oma kenapa menangis? Anak ganteng, Soleh kenapa sayang? Kamu mau mimi?"


"Dia menolaknya, Mah. Malah ujungnya di gigit saking tidak mau mimi," balas Diana setelah lebih tenang tidak sepanik tadi. Tapi tetap saja dirinya masih khawatir pada Arka yang masih saja menangis.


"Mungkin ee atau pipis," ujar Cici.


"Tidak, Ci. Bedongannya masih kering."


Karin dan Cici saling lirik, mereka menjadi khawatir karena anaknya Diana masih saja menangis tak berhenti.


"Coba kamu panggilkan Fikri. Siapa tahu dia tahu cara ampuh untuk menenangkan bayi menangis," ujar Karin.


"Bli Fikri sudah berangkat kerja, Tante. Dia mengantarkan barang pesanan ke pelanggan. katanya Diana yang nyuruh," jawab Cici.


Subuh tadi, Fikri lebih dulu bangun dan menyiapkan segala keperluan Diana mulai dari pakaian serta sarapan bubur yang di belinya dari penjual sembarang jalan rumah.


Fikri juga membersihkan popok Arka dan mengganti setiap pakaiannya agar bayi tersebut lebih nyaman dalam bergerak setelah pupuknya terkena kotoran dan pipisnya sendiri.


"Iya, Mah. Aku yang nyuruh bli Fikri nganterin bunga-bunga ke pelanggan. Aku bingung ahrus minta tolong siapa lagi selain kepadanya. Para pelanggan juga pasti menunggu rangkaian bunganya karena mereka lebih dulu mengirimkan uang. Jadi mau tidak mau Diana menyuruh bli Fikri," ucap Diana menjelaskan perihal kejadian tadi pagi sebelum Karin dan Cici bangun.


Karin nampak menghelakan nafas. "Lalu apa yang ahrus kita lakukan? Mana Arka tidak bisa berhenti menangis. Kasihan wajahnya sudah merah." Karin pun tak kuasa menahan kesedihannya sampai meneteskan air mata tak tega melihat bayi mungil menangis.


"Kesayangan bunda, kamu kenapa menangis sayang? Apa yang kamu rasakan, apa kamu rindu ayah kamu? Apa kamu rindu opa kamu?" Diana asal bicara tanpa memikirkan dulu kenapa mulutnya sampai bisa mengeluarkan pertanyaan seperti itu.


Namun, tak dipungkiri ucapan yang dilontarkannya mampu membuat Arka seketika terdiam tapi kembali menangis lagi.


"Dia diam saat mendengar ayahnya dan opanya. Apa dia merindukan keduanya?" ujar Cici heran.


Diana dan Karin terdiam. Lalu Karin cepat-cepat mengambil ponselnya mencari no Iqbal, orang yang sering di hubungi Karin selama Danu di penjara dan di saat dirinya tidak sedang ada di rumah.


Tuut... tuuut...


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Iqbal, kau baru bangun tidur kah? Bisa Tante minta tolong untuk pergi ke kantor polisi?" Karin melirik Diana sambil mengusap pucuk kepala Arka yang masih menangis.


"Tante itu bayi siapa menangis? Kasihan?" bukannya menjawab Iqbal malah balik bertanya.


"Kamu tolong pergi ke kantor polisi. Sekarang juga, Iqbal."

__ADS_1


"Ngapain, Tante mau bicara sama Zio? Tante tinggal telepon saja ke nomornya dia kan sudah bebas bersyarat."


"Apa?! Sudah bebas!" Karin terkejut, dia baru mengetahui putranya baru saja keluar dari penjara. Ketika mendengar Zio bebas, Jaring langsung menghubungi nomor yang dulu putranya miliki.


Tuuut... tuut...


Ternyata benar panggilannya tersambung kembali. "Ayo angkat, Zio. Anak kamu menangis ingin mendengar suara ayahnya."


*****


Istirahat Danu terganggu oleh suara ponselnya yang terus saja bunyi membangunkan dia yang sedang asyik bermimpi bersama Diana.


"Siapa pagi-pagi begini sudah megang mimpi indahku?" gumamnya sembari meraba nakas yang ada di pinggir ranjang. Lalu Danu mengangkatnya.


"Hallo."


"Zioo... kami sudah bebas, Nak? Kenapa tidak bilang kalau kamu bebas?" lengkingan Karin membuat Danu terlonjak kaget.


"Mama..." Danu pun mendudukkan dirinya.


"Mau bilang gimana, nomor Mama dari kemarin tidak bisa dihubungi. Nomor Papa pun sama tidak bisa dihubungi."


******


Ajaib, baby Arka seketika terdiam dari tangisnya mendengarkan suara pria di sebrang telpon. Bayi itu malah anteng berusaha membuka mata sipitnya dengan mulut bergerak-gerak.


Karin dan Diana saling pandang lalu beralih menatap Cici. Rupanya benar jika baby Arka merindukan ayahnya. Karin mendekatkan ponselnya ke telinga cucunya dan mengeraskan volumenya.


Beda halnya dengan Diana yang sedang berusaha mengatur degup jantungnya agar tidak berdebar terus-menerus. Tak di pungkiri Diana juga merindukan suara pria itu.


"Maafkan Mama dan papa, Zio. Kami ada urusan."


"Urusan apa sampai melupakan anaknya dan sulit sekali di hubungi? Kalau papa sih masih mending mengurus pekerjaan. Lah Mama? Cuman jalan-jalan doang ke Bali. Ck, emak durhakim."


"Haoooo... haaoooo..."


Deg...


Danu tertegun mendengar suara bayi. Begitupun dengan Diana dan yang lainnya yang juga kaget baby Arka bersuara.

__ADS_1


"Suara bayi?"


__ADS_2