
Rasa lelah sehabis melahirkan dan rasa sakit yang dirasakan ketika saat melahirkan kini terbayar sudah oleh rasa bahagia dan haru menyelimuti relung hati ketika melihat bayi mungil berada dalam gendongannya.
Bayi berjenis kelamin laki-laki yang memiliki berat badan 3,3 kg itu ini berada dalam gendongan sang Bunda. Bayi mungil yang sudah di bersihkan dari lumuran darah itu sedang berada dalam dekapan Diana dengan mulut mungilnya mencari sesuatu.
Diana tak kuasa meneteskan air mata bahagia bisa melihat secara langsung putra pertamanya. Dia terisak pelan seraya memeluk erat tubuh mungil yang ada di dadanya. Sampai Diana tidak merasakan sakit di saat bagian inti ya di jahit sedikit.
"Mas, anakmu sudah lahir dalam keadaan selamat sehat walafiat. Apa kamu akan bahagia mengetahui ini semua? Seandainya kejadian itu tidak terjadi mungkin kita sama-sama bahagia bisa menyaksikan kelahiran putra pertama kita. Tapi sayang, kamu pasti saat ini sedang bersama dengan istri mu," batin Diana nelangsa melahirkan sendirian tanpa keluarga, tanpa suami, dan tanpa orang-orang yang di sayanginya.
Sedangkan di luaran sana. Fikri dan kedua ibu-ibu merasa lega Diana bisa melahirkan dalam keadaan selamat.
"Bayinya sudah keluar, syukurlah dia selamat." ucap Fikri merasa senang. Dan tentunya kalau Diana melahirkan itu artinya dia bisa menikahinya.
"Nah, berhubung Mbak Diana sudah melahirkan. Sekarang bli Fikri harus menikahinya secepatnya tanpa ada paksaan atau pun halangan lagi." Salah satu diantara mereka mengusulkan, siapa lagi kalau bukan wanita bertubuh gempal.
"Benar itu bli. Jadi kalau kalian menikah tidak akan ada lagi fitnah atau pun perbuatan yang bisa membuat kalian jauh dari syariat agama. Mending menikah saja secepatnya," timpal wanita yang satunya semakin mengompori Fikri untuk bertindak lebih lanjut lagi dalam melangkah.
Fikri memikirkan perkataan kedua orang tersebut yang ada benarnya juga. "Baiklah, tapi bantu saya mencari penghulu untuk pernikahan kita. Kalau saksi banyak, tinggal pilih salah satu dokter yang ada di sini dan saksinya kalian semuanya."
"Itu lebih bagus, bli Fikri. Saya akan menelpon teman saya untuk membawa penghulu kesini." wanita jangkung bersanggul itu mengambil ponselnya di dalam tas kemudian menghubungi seseorang yang di kenal untuk memintanya membawa Penghulu datang secepatnya.
Fikri dan kedua wanita itu mempersiapkan pernikahan dadakan tanpa melakukan persetujuan dulu.
******
Jakarta
"Kemana Papa dan Mama, tumben mereka tidak ada di rumah tanpa berpamitan terlebih dulu padaku?" Zio sudah sampai di depan rumahnya, kini dia sedang berada di depan kediaman orangtuanya mencari keberadaan sang ayah dan ibunya.
Zio berniat memberikan kejutan atas kepulangannya namun dirinya lah yang di kejutkan karena orangtuanya tidak ada di rumah.
"Mungkin mereka sedang ada urusan kali. Gue juga sulit menghubungi keduanya. No om Fakhri tidak aktif, no Tante Karin juga tidak aktif. Entah ini kesengajaan atau bukan tapi yang di herankan kenapa keduanya terasa sulit di hubungi?" Iqbal pun tak mengerti dan sedang berusaha menghubungi Fakhri ataupun kari. Tapi kedua no tersebut sulit di hubungi dan malah no nya ada yang tidak aktif.
__ADS_1
"Mana rumah di kunci lagi. Mau masuk pun gak bisa." Zio berdiri bertolak pinggang memikirkan cara agar dia bisa istirahat di rumah.
"Sekarang kau mau kemana lagi?" Iqbal duduk di kursi yang ada di teras depan dengan sikut menumpu di atas lutut dan jari-jari tangannya saling bertautan.
"Gak tahu juga." Zio menyenderkan punggungnya ke pilar rumah seraya tangannya di lipatkan berada di dada.
"Kenapa tidak pulang ke rumah mu yang dulu? Kediaman kau dan Diana."
Deg...
Perkataan Iqbal seketika mengingatkannya pada mantan istri yang akan di perjuangkan kembali. Seketika rasa rindu ingin bertemu atau sekedar bertegur sapa tiba-tiba datang menghampirinya.
"Bagaimana kabar kamu sekarang, Dee? Aku merindukanmu? Sudah tujuh bulan kita tidak bertegur sapa. Terakhir aku mendengar suaramu saat waktu itu Mama bilang kangen," batin Zio.
"Kalau begitu kita kesana saja, rumah ku dulu." Dan pada akhirnya Zio serta Iqbal kembali ke pergi dari sana.
*******
Bandara
"Sampai juga. Sekarang kita kemana dulu nih, Tan?" Cici dan Karin berjalan secara beriringan sambil menarik koper. Mereka berdua terlihat seperti turis yang akan melakukan liburan di sana.
"Beli perlengkapan bayi dulu. Setelahnya kita bertemu Diana. Jangan banyak menunda biar kita cepat selesainya juga."
"Ok, siap Tante. Kita bikin surprise buat Diana," balas Cici semangat ingin bertemu sahabatnya.
******
Setelah melakukan berbagai perawatan, Diana sudah di pindahkan ke ruangan rawat. Dia tak hentinya terus menerus mengembangkan senyuman kebahagiaan sambil terus menatap mahluk mungil menggemaskan yang ada di pangkuannya.
Bayi mungil itu tengah berusaha mencari sumber energi dari ibunya. Diana meringis sekaligus geli di kala bayinya menyedot sumber nutrisi.
__ADS_1
"Pelan-pelan sayang. Kamu tidak akan kehabisan makanannya kok. Hanya kamu yang akan meminumnya," gumam Diana sambil mengusap lembut pipi mungil anaknya.
Dia terus memperhatikan mahluk kecil menggemaskan yang ia lahirkan beberapa saat berlalu. Sampai pikirannya teringat pada ponsel.
"Oh iya, dimana ponselku?" Diana celingukan mencari tasnya dan netra matanya menemukan tas ada di samping di atas meja kecil.
"Aku harus menghubungi Cici." Diana mencoba menggapai tasnya. Bersusah payah dia mengambil ponsel lalu menghubunginya.
"Assalamualaikum, ci."
...........
"Kabar aku baik, Ci. Kapan kamu kesini menengok keponakanmu? Aku sudah melahirkan loh, Ci."
...........
"Aku seriuslah. Mana mungkin hal sebesar ini berbohong. Saat ini aku sedang ada di rumah sakit xxx."
...........
"Aku tunggu ya."
Diana pun mematikan ponselnya. Dan dia melepaskan pu*ting miliknya dari bibir mungil sang putra.
Hingga dirinya dialihkan oleh suara dari luar.
"Mari masuk, pak. Dia mempelai wanitanya." Fikri dan beberapa orang masuk ke ruangan dimana Diana di rawat.
Ada sekitar lima orang masuk ke dalam ruangan dan 6 orang bersama Fikri.
"Ini ada apa? Kenapa banyak orang masuk ke sini?" tanya Diana tak mengerti. Bahkan ada dua orang dokter masuk kesana. Untungnya dia sudah selesai menyusui putranya jadi tidak perlu repot-repot menyembunyikan aset berharga dari orang-orang. Bahkan Diana masih menggendong putranya karena saat hendak di baringkan orang-orang keburu masuk tanpa mengetuk pintu. Tidak sopan bukan.
__ADS_1
"Kita akan menikah hari ini juga, Diana? Saya sudah menyiapkan saksi, penghulu, dan beberapa orang yang akan menjadi saksi bisu pernikahan kita," papar Fikri tanpa rasa bersalah.
"Apa...!?"