
"Setelah di periksa, Ibu Diana sudah boleh pulang. Nanti setiap satu bulan sekali Adek bayinya harus di posyandu, ya. Di periksa ke bidan juga boleh." tutur Dokter wanita yang menangani Diana melahirkan.
Padahal waktu sudah malam hari dan bisa menunggu besok pagi jika ingin pulang. Tapi Diana tidak betah berlama-lama di rumah sakit dan ingin segera pulang ke rumahnya.
"Baik Bu dokter," balas Cici dengan suara khas anak kecil sambil menggendong putranya Diana dan menggerakkan tangan mungilnya.
Diana dan dokter itu tersenyum. "Menggemaskan sekali adik bayi ini," ujar dokternya.
Mama Karin sendiri sedang mengurus semua administrasi di bagian pembayaran. Kalau Fikri, pria itu tengah mempersiapkan kendaraan yang akan di gunakan.
Tak lama kemudian Fikri masuk setelah dokter keluar. "Diana," panggil Fikri masih canggung meski kini dia menjadi suaminya.
Diana dan Cici menoleh. Mereka sudah selesai beres-beres tinggal menunggu Fikri dan mama Karin saja.
"Sudah selesai?" Diana mengangguk dan sudah mengenakan pakaian biasa lagi.
Dan Mama Karin pun masuk setelah urusannya selesai. "Dee, Mama audah mengurus semua administrasinya. Sekarang kita pulang ya?" Karin mendekati Diana dan membantu membawa satu ransel berisi pakaian kotor.
"Iya, Mah. Diana juga ingin segera pulang. Rasanya aneh sekali tinggal di rumah sakit meski hanya sebentar." Diana perlahan turun dari ranjang.
Fikri yang melihat pergerakan Diana segera mendekati merangkul pinggang istrinya membantu Diana berjalan. Diana sempat kaget tapi dia berusaha untuk tidak menolak karena sekarang Fikri sudah menjadi suaminya meski hanya pernikahan agama.
"Biar aku bantu. Kamu baru saja melahirkan jadi jangan banyak gerak dulu." Fikri pun membantu Diana memapahnya untuk duduk di kursi roda.
Karin dan Cici menyaksikan perhatian Fikri terlihat khawatir pada Diana.
"Ci, biar Tante yang menggendong bayinya, kamu tong bawa ransel itu ya." Karin beralih mengambil cucu pertamanya dan meminta Cici yang membawa ransel yang ada di atas brangkar.
Cici mengangguk, "Siap Tante." tanpa penolakan Cici menyerahkan bayinya lalu mengambil tas.
Fikri sudah lebih dulu mendorong kursi roda yang di duduki Diana kemudian di susul oleh Karin yang membawa cucunya dan Cici juga berjalan di samping Karin.
*******
__ADS_1
Toko Bunga
"Ini yang punya toko kemana sih? Udah jam delapan malam belum balik juga. Mana saya belum makan malam lagi." Salma mondar mandir menunggu Diana pulang. Dia sudah menutup toko dan membereskannya, tinggal dia yang pulang setelah menyerahkan kunci toko.
Salma duduk dulu sambil memainkan ponselnya. Ponsel peninggalan terakhir setelah semua hartanya di curi orang dan tertipu.
"Kalau aku tidak percaya sama dia mungkin saat ini rumah, uang, dan kendaraan motor ku pasti masih ada dan tidak perlu repot-repot bekerja seperti ini. Nasib-nasib, sudah harta habis, kena tipu, di putusin pacar, beberapa hari jadi gembel di jalan. Untung ada Mbak Diana yang mau memperkerjakan ku meski gajinya tidak terlalu gede tapi lumayan buat jajan."
"Bagaimana kabar kamu? Apa kamu masih mengingatku? Seperti apa wanita yang ingin kau perjuangkan sampai tega memutuskan hubungan kita yang sudah terjalin satu tahun lamanya?" gumam Salma menatap dalam foto seorang pria yang ada di ponselnya. Salma juga melihat kembali galeri foto yang kebanyakan foto dia dan kekasihnya.
Sampai sebuah kendaraan mengalihkan perhatian Salma dari ponselnya. Salma sampai menutupi wajahnya karena sorot lampu itu begitu menyoroti wajahnya.
"Pasti itu mbak Diana. Darimana saja malam-malam begini baru pulang?"
Lampu kendaraan beroda empat itu mati. Kemudian turunlah Karin, Cici, dan Fikri yang segera memutari mobil menuju pintu dimana Diana duduk.
Salma memperhatikan orang-orang tersebut dan matanya terpaku pada sosok pria yang baru saja ia bicarakan sendiri. "Bli Fikri...! Kenapa dia ada di sini?" batin Salma bertanya-tanya mengapa ada Fikri, mantan kekasihnya di sini?
Fikri membuka pintu mobil lalu membantu Diana turun dari mobil. "Biar aku gendong ya? Kamu jangan dulu banyak melangkah dan bergerak."
Dengan senang hati dan pelan-pelan Fikri menggendong Diana ala bridal style. Meski gugup dengan jantung berdebar kencang, Fikri berusaha bersikap normal karena ini pertama kalinya dia begitu dekat dengan Diana.
Diana perlahan mengalungkan tangannya ke leher Fikri supaya tidak terjatuh. Dia hanya menunduk mengalihkan pandangannya karena tidak ingin menatap pria yang masih tidak ia inginkan. Sungguh hatinya masih belum menerima ini semua. Tapi, mau gimana lagi jika takdir sudah mempersatukannya.
"Hei kau. Ngapain masih di toko? Belum pulang juga? Ini sudah malam loh." tegur Karin melihat Salma masih diam mematung memperhatikan pergerakan pria yang sedang menggendong Diana.
"Hah iya, saya menunggu mbak Diana pulang." Salma mendekati Karin yang ada di sebelah toko bunga.
Rumah dan toko saling bersebelahan, jadi tidak butuh waktu lama untuk pulang. Hanya tinggal melangkah lima langkah dari toko sudah sampai di rumah Diana. Rumah yang di beli oleh Papa Fakhri untuk menantunya sekaligus memberikan modal usaha di saat Diana tinggal di rumahnya.
Fikri sempat tertegun melihat Salma ada di sana. Namun, dia berusaha untuk biasa saja karena Salma hanyalah masa lalunya. Dan sekarang Diana lah masa depannya.
Fikri melewati Salma yang sedang menatapnya tak percaya bisa bertemu lagi dengan mantan kekasihnya.
__ADS_1
"Fik, kamu langsung bawa Diana ke kamar saja. Saya dan Cici mau membereskan dulu tempat buat bayinya." pinta Karin setelah membukakan pintu rumah.
"Baik." tanpa banyak kata, Fikri langsung membawa Diana masuk.
"Dimana kamar kamu?"
"Yang sebelah situ," jawab Diana sembari menunjuk kamar utama. Fikri berusaha membuka pintu kamar namun terasa sulit.
"Biar aku saja." tangan Diana pun terulur memegangi gagang pintu lalu mendorongnya secara perlahan. Barulah Fikri masuk sambil ikut mendorong pintu menggunakan tubuhnya.
"Ci, bisa tolong bantu Tante menjaga Arkana Alzio Fakhri." Itulah nama yang Diana berikan untuk putranya. Nama yang juga di setujui oleh Karin dan Fakhri sebelum Arkana lahir.
"Bisa Tante. Cici simpan ini dulu." Cici menyimpan ransel berisi pakaian kotor ke kamar mandi tempat cuci baju. Lalu setelahnya beralih mengambil Arkana dari gendongan Karin.
"Uluh uluh, ganteng sekali ponakan aunty. Gandeng mirip Ayah ya, sayang." celoteh Cici menatap gemas bayi mungil di gendongannya.
Fikri membantu Diana duduk di ranjang, lalu Karin pun masuk membantu membereskan tempat tidur buat si kecil Arkana.
"Berhubung kamar Arkana belum jadi, dia tidur di sini dulu supaya memudahkan kamu saat nanti dia ingin Mimi."
"Iya, Mah. Aku juga tidak ingin jauh-jauh dari Arka."
"Kalau gitu, aku keluar dulu mengambil barang-barang lainnya di mobil," sahut Fikri.
"Ah iya, tolong ambilkan seluruh pakaian, popok, selimut bayi di dalam mobil. Dan jangan lupa juga ambilkan baju ganti saya. Maaf meminta tolong kamu," ujar Karin sekalian meminta Fikri mengambilkan barang-barang itu semua.
"Baik, Tante." Fikri pun keluar kamar berjalan ke luar rumah. Dia sempat melihat Cici tengah menggendong Arka sembari menimang-nimang bayi mungil itu.
Di saat Fikri mendekati mobil, dia di kagetkan oleh seseorang yang menarik tangannya menjauhi tempat tersebut dan membawanya ke tempat yang sedikit gelap.
Grep...
Fikri tiba-tiba di peluk.
__ADS_1
Deg...
"Salma..."