
"Diana..." Fikri mematung menyadari perlakuan kasarnya kepada Diana. Dia melepaskan kedua tangan yang sedang mencengkram kuat pundak sang istri. "Ka-kamu kenapa bertanya seperti itu?" hal yang paling ia hindari saat pertanyaan dengan tatapan lembut tak mampu membuat Fikri menatapnya.
"Kenapa kamu berubah, Bli? apa aku memiliki kesalahan sama kamu? Tolong beri aku alasan kuat kenapa kamu melarang ku untuk menghubungi keluarga anakku? Ini anaknya, ini cucu mereka dan anakku wajib tahu siapa keluarga ayahnya." Diana terus menatap dalam penuh keteduhan tanpa intimidasi namun terkesan seperti tatapan lembut nan menusuk.
"Karena aku... aku... ah sudahlah, jangan di bahas lagi." Fikri lebih memilih melengos pergi daripada berada di sana dalam keadaan terintimidasi. Dia tidak sanggup harus menerima tatapan lembut tapi menusuk itu. Dia juga menyadari jika sebenarnya tidak ada kata mantan ayah dan Baby A berhak mengetahui keluarga ayahnya. Namun, yang membuat Fikri gelisah itu dirinya sendiri yang terlalu takut untuk kehilangan Diana di saat situasi mulai kacau begini.
Fikri melepaskan jaket jeansnya ke sofa lalu melangkah ke kamar mandi membersihkan diri. Diana hanya bisa menatapnya dengan sejuta pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
"Kamu berubah, kamu kasar, kamu pemabuk, dan kamu sedang berbohong. Hal apa yang kamu sembunyikan dariku, Bli?" lirih Diana murung atas perubahan sikap Fikri yang terkesan menjadi kasar. Dia menghelakan nafas berat kemudian perlahan membaringkan putranya di atas kasur.
Malam kian semakin larut, jam pun berputar terasa lebih lambat dari sebelumnya. Diana yang masih merasakan sebuah kejanggalan dari dalam Fikri termenung sendiri di balik kaca menatap langit malam di temani sinar rembulan. Tidak ada bintang malam ini, hanya ada bulan yang hanya menampakkan sebagian bentuk menyerupai bulan sabit.
"Apa yang harus ku lakukan untuk mencari tahu perubahan atas sikap Bli Fikri? Aku semakin di buat curiga olehnya karena selalu terlihat gugup dan selalu menunduk takut seakan tidak ingin sorot matanya di lihat olehku." Dalam kesendiriannya, Diana berpikir sendiri.
Merasa tidak bisa menemukan solusinya, dia pun beranjak berdiri mendekati Baby A dan ikut berbaring di sana. Sekilas matanya melilik Fikri yang tengah terlelap di samping kanan dekat Baby A. Lalu matanya ia pejamkan berharap hari esok keadaan mulai membaik.
******
__ADS_1
"Zio, berhubung Papa sudah sadar, kami mau balik ke rumah kami dan memulihkan keadaan Papa di sana. Kamu sebagai anak tertua dan cucu tertua di sini saja dulu sampai keadaan di sini benar-benar stabil," ujar Fakhri meminta anak semata wayangnya mengelola perusahaan keluarga sampai dirinya benar-benar pulih. Bukan tak ingin berlama-lama di sana tapi papa Fahri menginginkan memulihkan keadaannya kediamannya.
"Pah, kenapa harus aku? Kan ada Anita, ada adik Papa juga yang bisa menghandle semuanya." Bukan Danu tidak ingin menuruti keinginan Papanya, tetapi ia sudah tidak sabar ingin kembali ke negaranya mencari lagi wanita yang masih ia harapkan hingga saat ini.
"Mereka sudah memiliki kesibukannya masing-masing, Zio. Anita lagi sibuk mengurusi skripsinya, om mu juga sedang mengelola perusahaannya. Ini tidak akan lama, kok. Hanya paling lambat sekitar satu atau dua bulan saja." Papa Fakhri begitu kekeh ingin Danu yang merawat perusahaannya sampai benar-benar selesai.
"Tugas kamu itu memindahkan kantor pusat di sini ke negara kita. Maka dari situ, jika kamu berhasil maka kita tidak perlu harus bolak-balik lagi ke luar negeri hanya untuk sebuah pekerjaan. Terkecuali jika situasinya benar-benar sangat darurat barulah kita terjun ke sini lagi. Ini demi kamu juga, Zio. Kelak, jika kamu sudah menikah, waktumu banyak kau gunakan dengan keluargamu tanpa harus terus ke luar negeri mengurus pekerjaan."
Kali ini Zio diam tidak menjawab. Dia mencerna perkataan terakhir papanya, berkeluarga. Dan seketika ia kepikiran ingin berkeluarga lagi dengan Diana serta memiliki anak banyak dari wanita yang ia cintai. Sudut bibirnya terangkat sedikit membayangkan hal indah itu tiba.
"Baiklah, Zio akan tinggal di sini dulu sampai aku berhasil memindahkan kantor cabang ke negara kita," balas Danu penuh keyakinan. 'Aku melakukan ini demi Diana dan masa depan kita,' ucapnya dalam hati.
"Semoga kamu bahagia dan menemukan pendamping hidupmu yang kamu inginkan," dia tulus Karin ucapkan untuk putranya.
"Aamiin yarobbal'alamiin. Kalau begitu, Zio lanjutkan bekerja dulu. Pah, Mah." Karin dan Fakhri mengangguk. Kedua orangtua itu pun mulai membereskan barang-barang yang ada di rumah sakit setelah sekian lama menginap di sana.
*******
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Diana mulai membuka mata, dan tangannya terasa pegal sebab ia ketiduran dalam keadaan duduk sambil menggendong Baby A yang terus menyusu padanya.
Diana pun perlahan meletakkan Baby A ke atas kasur, dan beranjak turun dari kasur secara hati-hati takut membangunkan tidur bayinya.
Diana mulai memungut tumpukan baju kotor milik dirinya, Baby A, dan baju milik Fikri. Rasa sakitnya pun kian berangsur membaik dan sudah bisa beraktivitas lagi.
Seperti biasa, sebelum membawa baju ke ruang pencucian dan memasukkannya ke dalam mesin cuci, Diana selalu memeriksa setiap saku. Takutnya ada barang penting yang tertinggal atau uang terselip sehingga Diana selalu berhati-hati.
Matanya pun sesekali melihat Fikri yang masih terlelap dalam mimpi. Semalam mereka tidur bersama di atas ranjang yang sama namun terhalang oleh anak balita.
Tangannya terus mencoba mencari sesuatu setiap saku celana, baju, kemeja. Tidak ada satupun yang ia temukan di balik saku baju miliknya dan baju kemeja serta celana milik Fikri. Tinggal satu lagi yang belum ia geledah sakunya, yaitu saku yang ada di jeans milik Fikri.
Diana mulai meraba jaket jeans itu hingga tangannya merasa menemukan sesuatu. Lalu ia keluarkan tangannya dan seketika dirinya terpana mematung tak percaya. Jantungnya berdetak tak karuan melihat sebuah benda yang sering di gunakan oleh wanita yang sudah menikah. Sesak, Diana merasakan itu. Bertanya-tanya kenapa benda itu ada di saku baju suaminya? Seketika pikiran negatif mulai merasukinya.
"Pil kontrasepsi...!" bibirnya bergetar kala menyebut nama itu. Pil nya pun sudah tidak utuh lagi dan sepertinya sering di minum. Tapi yang jadi pertanyaan milik siapa? Dan yang pasti pemiliknya wanita bukan?
Tubuh Diana terasa lemas, tangannya menggenggam erat obat tersebut, tubuhnya mulai terhuyung lesu berjalan pelan duduk ke sofa. Dia berpikir apakah suaminya berkhianat? Diana berpikir apakah Fikri memiliki istri atau kekasih lain? Sesak, itulah yang saat ini Diana rasakan.
__ADS_1
Tak terasa air matanya meluncur begitu saja membasahi pipi cantiknya. Jika dugaannya benar Fikri berkhianat berarti dirinya telah di bohongi oleh Fikri.
Tangan Diana memegangi bagian depan dadanya. Bibirnya ia gigit menahan sakit di khianati yang ke dua kalinya. "Ya Allah, di khianati lagi..."