
"A-apa yang i-ingin kau lakukan?" Diana di buat ketakutan oleh tatapan menyeramkan itu. Tubuhnya bergeser menjauhi Fikri. Tatapan pria yang ada di hadapannya ini begitu menyeramkan dengan salat mata yang tajam dan terlihat merah.
"Membuatmu mengandung anakku." Fikri tersenyum menyeringai seraya membuka setiap kancing baju yang ia kenakan.
Deg...
Diana dibuat terperangah dengan bola mata begitu melotot sempurna. Dirinya tidak habis pikir oleh pikiran Fikri saat ini. Dia tidak mungkin menyerahkan begitu saja tubuhnya kepada pria yang sudah melukai dan sudah menyakiti wanita lain tepat di hadapannya sendiri. Dan juga saat ini Diana masih dalam masa nifasnya baru saja 30 hari. Di saat tidak masa nifas pun tidak mungkin Diana mau melayani Fikri.
"Ka-kamu jangan aneh-aneh, Bli." sungguh saat ini Diana di buat gemetar ketakutan. Dia tidak mau pria yang tengah berdiri menatap lapar ke arahnya ini memaksa dia untuk melayani nafsu birahinya.
"Kenapa tidak boleh? Saya ini suamimu dan saya berhak atas diri kamu, Diana. Lantas, apa yang tidak di perbolehkan bagi seorang suami di saat ingin menyentuh istrinya? Masa ada istri cantik begini di biarkan begitu saja? Hanya lelaki bodoh yang diam saja tanpa mau melakukan pergerakan." Fikri menyeringai mendekati Diana.
Diana mencoba menghindari Fikri dengan cara memukul tubuhnya menggunakan bantal sofa.
Bug.. bug.. bug..
"Pergi dari sini! Aku tidak mau kamu ada di sini. Pergi!" Diana berteriak mencoba menghalangi niat pria yang sedang mencoba mendekatinya dan ingin menyentuhnya. Entah kenapa rasa tidak terima di sentuh oleh pria seperti Fikri datang begitu saja menghampiri tanpa di minta.
Fikri mengambil bantal tersebut kemudian melemparkannya ke sembarang tempat. "Cukup, Diana! Saya sudah tidak lagi bisa bersabar menjadikanmu milikku. Saya sudah susah-susah merencanakan semuanya tapi kau malah tetap tidak bisa menerimaku. Saya sampai membuat pikiran orang negatif dan sampai membuatmu menikah dengan saya tapi kamu tak sedikitpun melirik saya." Fikri menarik paksa tengkuk Diana untuk menyatukan bibir mereka secara paksa.
Diana menggelengkan kepalanya enggan menerima sentuhan itu. Dia jijik di sentuh pria yang tak berperasaan. "Aku tidak mau...!" Diana terus memukuli dada Fikri agar pria itu tidak mendapatkan bibirnya.
Fikri semakin brutal dan semakin bernafsu untuk menyatukan mereka. Dia memaksa Diana berbaring di atas sofa dengan dia berasa di atasnya.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga, Diana mendorong tubuh pria yang sedang menindihnya. Air matanya terus mengalir deras menolak sentuhan paksaan ini. "Papa, Mama, tolong aku...!" jerit Diana dalam hati.
Tak kehabisan akal, ibu satu anak itu menggigit kasar bibir Fikri yang sudah menempel padanya. Lalu lututnya ia angkat sekeras-kerasnya sampai terkena senjata kebanggaan Fikri. Barulah di saat lengah begitu Diana menerjang Fikri dan bangun dari saya.
"Aw...! Diana...! Kau keterlaluan." Fikri berteriak marah memegangi burung perkutut nya. Amarahnya semakin bertambah di saat mendapatkan penolakan dari Diana.
"Brengsek kamu, Bli Fikri. Kau pria jahat yang aku temui. Aku senang bisa melihat kebusukan mu saat ini!" teriakan Diana menggema di ruangan tamu. Tangisannya semakin deras merasa sakit atas perlakuan Fikri saat ini. Ini sama saja dirinya mendapatkan pelecehan dari suaminya sendiri.
"Dasar istri kurang ajar. Dikasih hati kau minta jantung, di baiki kau ngelunjak," sentak Fikri tak bisa lagi menahan emosinya sampai pria itu berdiri dan tiba-tiba mencengkram kuat leher Diana.
Diana di buat terperangah. Lehernya terasa sakit kala tangan Fikri kian semakin kuat dalam mencengkram. Tangan Diana pun memegangi tangan Fikri.
"Le-lepaskan a-aku." suara Diana sudah sangat pelan tidak terdengar. Matanya melotot menahan sakit di saat tangan fikri semakin erat mencengkram kuat lehernya.
Fikri mendorong tubuh Diana hingga terbentur ke tembok. Sisi lainnya kembali muncul. Jiwa jahatnya datang lagi. Pria itu mulai gelap seakan tidak peduli dengan Diana yang sudah mulai merah padam menahan sakit.
"Hhhkkk... a-aku..." mulut Diana terasa sulit berkata. Tubuhnya kian semakin terasa lemas. Tangannya yang memegang tangan Fikri mulai terlepas terkulai lemas.
"Tidak ada yang boleh miliki mu selain saya. Lebih baik kau matiii..!" Fikri semakin kuat dengan amarah semakin memuncak tidak terima mendapatkan penolakan dan tidak terima Diana meminta talak darinya.
"Le-le-pas..." sangat pelan dan tak terdengar, itulah suara Diana saat ini. Wanita cantik itu menatap sayu penuh harap Fikri melepaskan. Namun dirinya tak kuat menahan sakit. Matanya perlahan mulai terpejam. Cahaya yang tadinya menerangi mata mulai meredup hingga menjadi gelap gulita.
Deg...
__ADS_1
Di saat Diana menutup mata barulah Fikri tersadar dari tindakan yang ia lakukan. "Di-Diana...!"
Fikri terkejut Diana tak sadarkan diri. Tangannya ia lepaskan dari leher istrinya dan di saat itu pula tubuh Diana ambruk terjatuh kelantai dalam keadaan tak berdaya.
"Diana...! Apa yang sudah ku lakukan?" Fikri menjadi panik. Dia memegangi kepalanya mengacak rambut secara kasar.
"Diana...!" Fikri berteriak dan langsung terduduk membawa Diana dalam dekapannya.
"Sayang bangunlah, aku mohon bangun. Maafkan aku tidak bisa mengontrol amarahku. Bangun Diana!" Fikri menangis menyesali perbuatannya. Inilah sisi gelap dari seorang Fikri Rizaldy. Pria yang bisa menjadi baik namun juga bisa menjadi jahat dan melakukan tindakan kasar tanpa ampun. Di saat beginilah dirinya baru menyesal.
"Tidak, kamu tidak boleh meninggal. Aku mencintaimu, Diana. Maafkan aku hiks hiks." Fikri memeluk tubuh lemah Diana menangis menyesali perbuatannya.
Diapun segera menggendong tubuh mungil itu membawanya ke dalam kamar lalu membaringkannya. Fikri menunduk menggenggam erat tangan Diana. Lalu dia mulai menghubungi dokter pribadinya.
******
"Pah, kok perasaan Mama tidak tenang begini, ya? Mama kepikiran Diana terus." Setibanya di negara kelahirannya, hati Karin terus saja gelisah memikirkan Diana dan cucunya. Dalam perjalanan pulang hingga tiba di kediaman, tak sedikitpun Karin tidak memikirkan Diana. Yang ada di otak dan hatinya hanya Diana dan Diana.
Wanita dua anak itu tengah mencoba membantu suaminya turun dari kursi roda hendak membaringkan tubuh Fakhri ke atas kasur.
"Mungkin Mama sedang merindukan Diana dan cucu kita. Jadi Mama terus ingat padanya. Papa yakin jika mereka baik-baik saja. Kita berdoa saja semoga anak-anak kita di berikan kesehatan dan di lindungi dari orang-orang yang jahat," sahut Fahri yang juga sama-sama merasa tidak tenang. Namun ia mencoba menyembunyikan kekhawatirannya terhadap Diana.
"Tapi ini kok lain, ya? Hati Mama terus gelisah." Karin pun menyelimuti bagian kaki suaminya lalu duduk di dekat kaki Fakhri dan memijat kaki suaminya.
__ADS_1
"Namanya juga hati seorang ibu pasti tidak akan tenang." Tapi tetap saja Fakhri juga merasakan gelisah.
"Apa Mama harus ke Bali?"