Talak Aku!

Talak Aku!
Talak Aku!


__ADS_3

"Diana..." Fikri begitu tergesa turun dari kuda besinya. Dia segera berlari masuk kedalam rumah ingin menemui Diana. Hatinya sudah gelisah merasakan kepanikan saat Diana mengetahui rahasia yang selama ini dia sembunyikan.


Langkah lebar Fikri perlahan menjadi pelan seiring matanya melihat Diana tengah duduk di kursi ruang tamu.


"Diana, maafkan aku." Tenggorokannya terasa tercekat seakan terasa sulit untuk berbicara menjelaskan semuanya kepada Diana.


Dia bisa merasakan jika Diana tengah marah dan kecewa padanya. Fikri bisa melihat jika wanita itu masih dalam keadaan menangis. Meski saat ini tidak ada air mata namun mata sembabnya menunjukan jika Diana telah menangis karenanya.


Diana menengok memandangi Fikri yang berjalan kearahnya. Tidak ada lagi air mata yang meluncur dari pelupuk mata. Yang ada hanyalah tatapan kebencian terhadap pria yang ada di hadapannya ini. Tatapan kecewa penuh luka, tatapan yang menunjukan rasa sakit atas sebuah pengkhianatan yang di lakukan.


"Sudah selesaikah aktivitas yang kamu lakukan dengan Salma? Habis berapa ronde? Pasti kalian sering melakukannya di belakangku?" tanya Diana masih memandang pria yang sedang berjalan ke arahnya. Namun, suaranya begitu dingin dan terasa mencekam tak bersahabat.


Fikri berlutut di hadapan Diana, dia menyesal telah melakukan tindakan bodoh yang membuat istrinya terluka. Tadinya, setelah ini Fikri akan menghilangkan jejak Salma begitu saja. Dia tidak ingin keburukannya diketahui oleh Diana. Namun semuanya terlambat, istrinya sudah mengetahui rahasia yang ia sembunyikan, yaitu memiliki hubungan dengan wanita lain di belakangnya.


"Diana, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Salma telah menjebak ku, dia mencoba merebutku darimu. Salma pura-pura tidur denganku padahal aku tidak melakukannya. Sampai kami di grebek keluarga dan dinikahkan secara paksa. Tapi sungguh, aku tidak berniat menghianatimu dan tidak memiliki pikiran seperti itu, aku tidak menyukai dia. Aku hanya..."


Diana mengangkat telapak tangan kanannya seakan memberikan kode bagi Fikri untuk staf berbicara. Dia menatap tajam pria yang tengah berlutut di hadapannya.


"Menikah? Kamu dan Salma diam-diam sudah menikah di belakangku tanpa pengetahuanku? Wow, luar biasa." Diana tak menyangka Fikri bisa menyembunyikan hal sebesar ini. Dia menatap sinis tidak mempercayai semua perkataan Fikri.


"Tidak menyukai namun menikmati. Tidak ingin berkhianat tapi mengkhianati, sungguh luar biasa kalian ini."


Prok... prok... prok...

__ADS_1


Diana bahkan memberikan tepuk tangan atas tindakan hebat yang Fikri lakukan karena telah berhasil membohonginya. Bibirnya tersenyum sinis mendelik tajam penuh kemarahan. Bolehkan Diana marah saat ini? Bolehkah Diana membenci semua ini? Dan saat ini dirinya sedang marah kepada Fikri dan membenci semua yang terjadi, termasuk di khianati Nyang paling ia tidak sukai.


Fikri menggelengkan kepalanya menolak tuduhan Diana yang mengatakan jika dia menikmati dan berkhianat. Kalau bukan keterpaksaan, Fikri tidak mungkin melakukan itu. Semuanya hanyalah kepalsuan dan bukan keinginan.


"Diana aku..." Fikri ingin menggenggam tangan Diana namun di tepis pasar oleh istrinya.


"Pendusta. Kalian luar biasa, Fikri. Kamu luar biasa. Kalian berbohong di depanku menunjukkan tidak terjadi sesuatu tapi di belakangku kalian sama-sama saling memiliki dan kalian sama-sama berkhianat. Di depanku kalian seolah tidak saling kenal dan bersikap biasa saja tapi di belakang kalian berdua berbuat tak senonoh." Teriak Diana seraya mendorong kasar bahu Fikri sampai pria itu tersungkur kebelakang.


"Kalian sungguh serigala berbulu domba. Kalian pemain yang handal serta pandai Bersandiwara. Dan betapa bodohnya aku bisa mempercayai kalian berdua." Suara Diana menggema mengeluarkan segala amarahnya terhadap Fikri. Walau bagaimanapun pria itu adalah suaminya, meski hati belum mencintai tapi tetap saja Diana merasakan sakit hati.


Fikri kembali ke posisi semula dan kali ini langsung memeluk Diana mencoba untuk menenangkan wanitanya. Sungguh dirinya menyesali perbuatannya, sungguh dia menyesal tidak berkata jujur sedari awal. Kini, kepercayaan Diana sudah ternoda sehingga akan sulit lagi baginya mendapatkan kepercayaan itu.


"Diana maafkan aku, aku menyesal..."


Plak...


Saking kesal dan marah terhadap tindakan yang Dikri lakukan membuatnya dia melayangkan sebuah tamparan. Nafasnya memburu menahan gejolak amarah yang merasuki jiwanya. Hatinya terkoyak akibat kejadian yang menimpanya.


Tangan kiri Fikri mengepalkan dan tangan kanan memegangi pipi dengan wajah menoleh ke samping. Pria itu mendongak menatap tajam wanita yang sedang berdiri dihadapannya.


"Saya sudah katakan jika saya tidak berniat mengkhianati mu, Diana. Kenapa kau tidak mempercayaiku juga, hah?" sentaknya sambil berdiri membalas tatapan Diana tak kalah sengit.


"Semua bukti sudah jelas jika kau berkhianat di belakangku. Sekali saja kamu menyembunyikan sesuatu dariku maka selamanya kamu akan terus melakukan kebohongan kebohongan lagi untuk menutupi kebohongan kamu yang lainnya." Diana tidak akan diam jika sudah bersangkutan dengan pengkhianatan.

__ADS_1


"Tapi aku tidak sengaja, Diana. Aku melakukan itu karena takut kehilangan kamu. Percayalah, Diana. Aku sungguh tidak berniat seperti itu." Fikri memelas sedih berharap istrinya mau memaafkan dia.


"Dusta, kau pendusta, Bli Fikri. Aku tidak mempercayaimu lagi. Mulai hari ini, tolong kamu TALAK AKU! Aku tidak mau lagi berada di atas rumah tangga penuh kebohongan dan aku tidak mau kita bersama hanya karena rasa egois. Sedari awal pernikahan ini salah karena terjadi atas sebuah fitnah dan paksaan. Jadi aku mohon, TALAK AKU!"


Deg...


Jantung Fikri seakan berhenti berdetak, inilah yang ia takutkan. Diana nya meminta bercerai di saat surat-surat pernikahan sudah jadi. Ya, pernikahan mereka sudah terdaftar di pengadilan negeri. Karena Fikri lebih cepat bertindak sesuai keinginannya sebelum minta izin kepada Diana. Dan kini mereka sudah resmi menjadi suami istri baik agama maupun negara. Tetapi sekarang Diana malah meminta hal yang paling tidak diinginkan oleh Fikri.


"Diana, kamu jangan minta itu dariku, sayang. aku akan memberikan apapun yang kamu mau asalkan tidak meminta talak dariku. Maaf, aku tidak bisa menalak mu." Fikri enggan mengucap talak dikarenakan dia mencintai Diana. Namun, cara yang ia tempuh untuk mendapatkannya terbilang licik dan juga dia tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil hati Diana secara baik-baik.


"Tapi aku juga tidak bisa terus bersama dengan pria seperti dirimu." Alasannya karena dia belum mencintai Fikri dan sepertinya tidak mungkin bisa melupakan mantan suaminya dan juga tidak ingin bersama orang yang sudah berbuat keji. Diana melihat bagaimana Fikri memperlakukan Salma dengan kasar dan itu membuatnya takut, takut jika pria itu sewaktu-waktu kasar juga padanya.


"Kenapa? Apa kurangnya aku sampai kamu tidak bisa mencintaiku? Apa karena ayah dari anak yang kau bawa? Cuiih, di saat dia menyakitimu kau masih saja mencintainya. Apa kau tidak lihat ada aku di sini yang juga mencintaimu? Lihat aku, Diana! Lihat aku! Aku jauh lebih baik dari dia." Fikri sampai mencengkram kuat kedua bahu Diana dan membentaknya saking marah Diana meminta talak padanya.


"Lepaskan aku, Fikri! Lepaskan!" Diana meringis kesakitan kala tangan itu semakin kuat mencengkramnya.


"Hahaha melepaskanmu setelah mendapatkan mu? Tidak akan! Akan ku pastikan kau hanya akan menjadi milikku. Sampai kapanpun kau akan menjadi milikku!" sentaknya mendorong tubuh Diana sampai terduduk di kursi.


Diana tercengang melihat kemarahan Fikri yang terlihat menyeramkan. Pria itu tersenyum menyeringai seraya membuka kancing kemejanya.


"A-apa yang i-ingin kau lakukan?" Diana di buat ketakutan oleh tatapan menyeramkan itu.


"Membuatmu mengandung anakku."

__ADS_1


Deg...


__ADS_2