Talak Aku!

Talak Aku!
Karyawan Baru


__ADS_3

"Jangan menangis, nanti cantiknya hilang."


Diana dikagetkan oleh suara seseorang diapun mendongak, "Kamu..." lalu dia menghapus air matanya secara cepat-cepat.


Orang itu tersenyum manis sampai memperlihatkan lesung pipinya. "Iya, ini aku Fikri Rizaldy yang akan selalu ada di saat kamu sendirian seperti ini. Kenapa hmmm? Apa kamu merindukan seseorang sampai kamu menangis dalam lamunan seperti ini? Ini bukan kamu yang ku kenal loh. Karena biasanya, Diana itu selalu ceria, selalu cerewet, selalu ngomel-ngomel, dan selalu garang. Terutama padaku."


"Bukan urusanmu. Mau saya menangis, mau saya tertawa, mau saya cekikikan bagaikan hantu berbaju putih pun bukan urusanmu," jawab Diana ketus berwajah garang.


Tapi di mata Fikri mantan duda itu, Diana terlihat sangat menggemaskan. Dan tentunya sangat cantik serta bisa menjadi istri idamannya. Cantik, mapan, sopan, dan juga memiliki aura yang kuat hingga membuatnya terus tertarik pada Diana.


"Ya, aku tahu itu. Tapi aku juga ingin tahu masalahmu. Mungkin dengan berbagi kamu bisa sedikit mengurangi beban pikiran kamu."


Fikri duduk di samping Diana namun Diana segera berdiri ingin menghindari tetapi tangannya malah dicekal oleh Fikri.


"Kenapa kamu selalu menghindari ku? Apakah aku pernah berbuat salah padamu sampai kamu begitu tidak ingin menatapku?" Fikri bicara serius mendongak menatap Diana yang sedang memalingkan muka dan mencoba melepaskan tangan Fikri namun terasa sulit.


Diana menunduk menghembuskan nafasnya secara kasar. "Bli, Diana mohon lepaskan tangan saya!" lirih Diana begitu lembut sampai membuat bulu kuduk Fikri merinding.


Pria itu pun melepaskannya karena tidak ingin memaksa Diana. "Maaf, tapi aku ingin tahu alasannya supaya aku tidak lagi berada di dekatmu dan tidak lagi berharap padamu."


Diana menoleh, "Alasan karena saya adalah janda yang sedang hamil dan saya tidak ingin orang-orang beropini jelek mengenai kita berdua. Saya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita dan warga."


"Itu bukanlah sebuah alasan yang kuat, tapi karena memang itu semua sudah menjadi tradisi warga plus +62. Setiap apapun dalam hidup kita warga akan menilainya menurut pandangan mereka."

__ADS_1


Diana mendengarkan, kali ini dia tidak ingin mengusir Fikri dan membiarkannya duduk di bangku depan toko bunganya. Diana sendiri sedang membereskan barang jualannya menata berbagai jenis bunga yang ada di berbagai pot. Dan juga menata bunga yang sudah di hias sedemikian rupa agar menjadi daya tarik tersendiri.


"Tapi, apa yang mereka katakan ada benarnya juga. Meskipun terkadang banyak perkataan pedas terlontar dari mulut mereka, semua perkataannya terkadang selalu tepat sasaran. Itulah mengapa saya tidak ingin berdekatan dengan pria manapun. Dan saya harap Bli Fikri mengerti akan hal itu." Diana menegaskan perkataan terakhirnya supaya pria itu mengerti tentang kekhawatiran yang Diana rasakan. Bukan dia membenci namun Diana tidak ingin membuat pemikiran orang semakin negatif padanya.


Salah tidak sih, seorang janda sedang hamil mencoba menghindari peliknya cercaan masyarakat? Salah tidak sih, seorang janda tidak ingin dulu dekat dengan pria karena masih memiliki rasa trauma terhadap masa lalu? Salah tidak sih, seorang janda ingin sendiri dulu sebelum mendapatkan pengganti pria yang baru dengan cara menghindari setiap lelaki yang mendekatinya?


Fikri terdiam mendengarkan perkataan Diana seraya memperhatikan wajah cantiknya dengan rambut berterbangan tertiup angin. Sungguh ia tidak bisa melepaskan Diana begitu saja. Bukan karena terobsesi melainkan karena cinta yang tumbuh begitu saja tanpa di undang. Cinta yang datang walau hanya dalam pandangan pertama, getaran hati di saat melihat senyum manisnya.


"Hmmm aku mengerti itu. Tapi, jangan pernah menghindari ku di saat aku datang kemari." Fikri pun berdiri dari duduknya seraya menepuk-nepuk tangannya.


"Ok, kalau gitu aku pamit pulang dulu. Aku beli bunga mawar yang sudah di rangkai sedemikian rupa." Fikri juga mengambil satu buket bunga yang sudah di bungkus plastik.


Diana terkadang heran kenapa Fikri selalu membeli bunga. Entah untuk siapa, diapun tak tahu.


Diana pun mengangguk saja tanpa banyak protes ataupun menanyakan untuk siapa bunga itu. "Yang ini lima puluh ribu."


"Aku pamit dulu, cantik. Sampai bertemu kembali di lain waktu." Fikri pun melangkah mundur seraya mengerlingkan mata. "Aku akan berusaha mendapatkan hatimu, Diana." pekiknya sambil melambaikan tangannya.


Diana menghelakan nafasnya. Dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir ada pria yang begitu kerja keras berusaha mendapatkan hatinya. Seketika dia jadi teringat mantan suaminya yang juga terus mengejar dan berusaha mendapatkan hatinya hingga dia luluh dan jatuh cinta sedalam-dalamnya. Namun, cinta itu kini harus ia kubur bersama rasa kecewa yang ia rasa.


Tanpa di sadarinya semua orang belum menjelaskan perihal kesalahpahaman yang tercipta diantara Diana, Danu, dan Anita. Diana masih berpikir jika Anita merupakan istri kedua Danu dan mungkin saat ini sudah menjadi istri pertama. Dia juga belum meminta maaf atas janin Anita yang tiada karena ulah dorongannya sebab masalah yang langsung menimpanya.


"Sudahlah, Dee. Kamu jangan lagi memikirkan tentang dia. Dia udah punya istri dan kamu harus fokus ke masa depan bareng anak kamu. Kamu kuat, kamu ikhlas, kamu bisa, dan kamu mampu menghadapi semuanya." Diana kembali membuang nafas secara kasar. "Bismillah, aku mampu." lanjutnya menyemangati diri sendiri untuk tidak terus menerus kepikiran masa lalu.

__ADS_1


Di saat barang jualannya beres terselesaikan siap di jual dan tersusun rapi, Diana hendak masuk ke dalam. Namun, langkahnya terhenti ketika ada seseorang datang.


"Permisi."


Diana menoleh, "Iya, ada yang bisa saya bantu?" dengan suara ramah dan lembut Diana bertanya.


"Apa di sini ada lowongan pekerjaan? Saya butuh banget buat menyambung makan. Sudah kesana-kemari tidak ada satupun dari mereka yang mau menerima saya bekerja."


Diana memperhatikan penampilan wanita itu. Dia merasa kasihan melihatnya. Penampilan yang kumel dengan wajah terlihat berminyak. Mendengar wanita itu bilang untuk menyambung makan membuatnya terenyuh tak tega menolak.


"Kasihan sekali dia. Dan kebetulan juga aku sedang membutuhkan karyawan untuk membantuku di sini," ucap Diana dalam hati.


"Kebetulan saya sedang membutuhkan orang untuk bantu-bantu saya di sini. Jadi Mbak bisa bekerja dengan saya."


Nampak wanita itu tersenyum senang, "Beneran Mbak? Saya boleh bekerja di sini?"


Diana mengangguk tersenyum ramah, "Iya, mulai hari ini Mbak...?"


"Salma. Nama saya Salma."


"Iya, Mbak Salma bisa bekerja."


Wanita itu mengambil tangan Diana menyalaminya secara girang. "Terima kasih, terima kasih sudah mau menerimaku bekerja di sini. Saja janji akan memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan."

__ADS_1


Diana menepuk-nepuk punggung tangan Salma secara halus. "Aamiin yarobbal'alamiin."


Apa salahnya membantu seseorang yang sedang kesusahan karena apa yang kita lakukan tentu akan dapat balasannya.


__ADS_2