
"Salma kenapa...?"
Diana dan Fikri segera berlari ke toko ingin mengetahui ada kejadian apa yang membuat Salma menjerit minta tolong. Tidak membutuhkan lama hanya beberapa langkah saja keduanya sampai di toko bunga.
Diana mencari keberadaan Salma sambil berteriak menyebut namanya. "Mbak Salma di mana? Mbak apa yang terjadi?"
"Salma kau dimana?" kali ini Fikri yang berteriak memanggil namanya. Segera masuk lebih dulu ke dalam toko bagian dalam lebih tepatnya tempat berbagai macam tanaman di pajang di bawah langit yang tertutup kaca.
"Tolong..." Salma berteriak meminta tolong berharap Fikri lah yang datang menolongnya.
Fikri tergesa di susul oleh Diana di belakangnya. "Ya Allah, kau kenapa?" pekik Fikri terbelalak melihat Salma duduk mundur menghindari ular yang ada di hadapannya.
"Bli itu... itu ada ular di sana, bli." tunjuknya ke ujung dekat tanaman bunga janda bolong.
Fikri dan Diana melihat, mereka terkejut sebab ularnya cukup besar dan itu merupakan anak ular piton berkeliaran bebas di sana.
"Ya Allah, bli. Ularnya gede banget." Diana mencekal tangan Fikri bersembunyi di balik tubuh kekar Kris manis itu sembari menggendong putranya. Dia yang memiliki fobia ular menjadi gemetar ketakutan. Bibirnya pun terus berucap kalimat asma Allah agar dia di berikan ketenangan dan di berikan perlindungan dari macam marabahaya.
"Bli, aku takut." lirih Diana begitu erat mencengkram baju Fikri. Fikri menengok kebelakang merasa khawatir sekaligus senang jika dia di jadikan tempat berlindung di saat Diana dalam keadaan takut seperti ini.
"Kamu tenang, sayang. Ada aku di sini. Kamu tunggu di sana biar aku mengusir ular itu. Kamu dan baby Arka menyingkir lah dari sini. Cari tempat yang cukup jauh dari jangkauan ular tersebut."
Salma memukul pelan tanah, dia yang merencanakan ini semua supaya Fikri bersimpati padanya dan ingin menunjukan kebersamaan dia dan Fikri di hadapan Diana gagal gara-gara Diana ternyata ikut dan lebih terlihat takut.
Salma meminta seseorang membawakan ular tersebut ke sana bertujuan untuk mengambil perhatian Fikri tetapi yang terjadi justru Diana terlihat seperti mengambil perhatian pria berkulit manis itu.
"Bli, aku takut." cicit Salma berusaha mengambil perhatian Fikri memperlihatkan wajah ketakutan karena ular tersebut mendekati ke arahnya.
__ADS_1
"Salma, kau berdiri dari sana kemudian menghindar kearah kanan. Kau bisa bangunkan? Jangan berdiam diri terus tanpa bertindak. Buruan bangun!" Fikri tidak habis pikir mengenai pikiran sama yang malah diam di situ tanpa melakukan pergerakan ataupun berlawanan menghindari ular tersebut.
"Tapi ularnya terus mengikuti, tolong bantu aku." Salma memohon memperlihatkan wajah takut seraya menatap dalam pria di hadapannya yang tengah menggenggam tangan Diana.
"Ya kamu nya berdiri, Salma!" Fikri cukup pintar dalam melihat siasat yang di lakukan Salma. Iya tidak terlalu begitu bodoh di saat ia menyadari sesuatu jika Salma malah berdiam saja di tempat. Fikri memiliki pikiran kalau wanita itu sedang ingin mencari perhatian di depan dia dan Diana. Namun kali ini dirinya tidak ingin kecolongan lagi seperti tadi siang yang kecolongan mendapat kecupan dadakan.
"Bli tolong Salma, kasihan itu ularnya mau mendekat. Cepat usir ular itu dari sini." Diana khawatir terhadap Salma.
"Kamu tunggu di sini atau kamu ke rumah saja jangan mendekati ular itu. Berbahaya." Fikri mengusap pipi Diana berusaha menenangkan ke khawatiran istrinya. Diana mengangguk agar semuanya cepat selesai dan ular tersebut segera bisa di atasi secara cepat.
Lalu Diana keluar dari toko tersebut menunggu dari jauh memperhatikan Fikri mencoba mengambil serta mengusir ularnya. Fikri mencari sesuatu berupa benda panjang untuk menggiring ularnya.
Salma pun tersenyum tipis akan melakukan aksinya dalam mengambil perhatian Fikri di hadapan Diana. "Kamu kena jebakan juga, Fikri. Akan ku tunjukan jika kamu masih memiliki perasaan terhadap ku," gumam Salma dalam hati. Dia mencoba berdiri mengusir ular yang sengaja di arahkan kepada dirinya.
"Salma, saya bilang kau berlari ke ke samping." Fikri berusaha menggiring ularnya ke luar lewat pintu lain.
"Iya, sayang." Fikri menoleh tersenyum dapat perhatian lebih dari Diana.
Namun Salma tidak terima itu. Dia dengan sengaja mendekatkan dirinya ke dekat Fikri di saat mereka berdua lengah. Di saat itu pula Salma mendekatkan kakinya ke arah ular tak berbisa itu.
"Akkkhh..."
Fikri menoleh terkejut mendengar jeritan Salma. Matanya terbelalak kaget. "Salma..." Fikri langsung menarik Salma ke dalam dekapannya mengusir ular itu agar menjauh.
"Awww bli, sakit." Salma merintih memeluk Fikri menyembunyikan rasa sakitnya tapi jika senang jika Fikri mengkhawatirkan dirinya.
"Salma kau tidak apa-apa?" Fikri membawa Salma ke luar memapahnya lalu membawa Salma duduk.
__ADS_1
Diana mendekati panik atas pekikan Salma namun, dia tertegun melihat ke khawatiran Fikri terhadap karyawannya.
"Sudah ku bilang kau minggir. Sekarang kau terluka." Fikri memeriksa keadaan kaki Salma. Meski ular itu tidak ada bisanya tetap saja akan membuat bagian yang kena patokan itu membengkak.
"Sayang, boleh aku minta kamu menghubungi dokter secepatnya? atau bidan sekitar sini yang paling dekat. Aku khawatir bisa dari ular itu membuat kakinya menjadi lebih parah dan ini." pinta Fikri kepada Diana membuat Salma tertegun tak percaya jika di saat genting seperti ini pun Fikri masih teringat Diana.
Pikiran negatif yang mampir kini membuatnya menyadari jika kekhawatiran Fikri ini hanya untuk menolong saja agar luka gigitan ular tersebut tidak menyebar luas ataupun tidak membengkak.
"Iya, bli." Diana yang kebetulan sedang memegang ponsel pun langsung menelpon dokter terdekat di sekitarnya.
"Sialan, ku pikir Fikri beneran khawatir sampai melupakan Diana, tapi ternyata dia masih saja mengingatnya," batin Salma.
******
Jakarta
Baru saja Danu sampai di depan rumah sehabis pulang dari rumah Iqbal, dia kembali mendapatkan sebuah informasi mengenai Papanya.
"Hallo."
"Zio, ini Om Heru. Papa kamu sedang kritis di rumah sakit Mama kamu dan Cici belum sampai ke sini mungkin sedang dalam perjalanan. Bisakah kamu hari ini terbang ke sini juga? Ini mengenai perusahaan yang sedang papamu kelola. kau sebagai anak pertama sekaligus pewaris nya harus menghadiri rapat penting. Saya sengaja menunda rapat tersebut sampai besok sore secepatnya datanglah ke sini ini sangat penting."
"Seserius itukah sampai Zio harus kesana?" Danu di landa kebingungan diantara dua pilihan. Tapi kali ini menyangkut semua orang yang bekerja dibawah naungan Fakhri.
"Sangat serius, Zio. Kalau proyek ini gagal bisa saja perusahaan papamu mengalami ke bangkrutan. Lalu bagaimana nasib para karyawan nya?"
Danu menghelakan nafas beras. "Baiklah, hari ini juga Zio ke sana, om." Pada akhirnya dia mengalah demi banyak orang. Mungkin lain waktu dirinya akan kembali mencari Diana sampai ketemu. Tapi kali ini dirinya harus mengurusi perusahaannya dulu agar semuanya terselamatkan.
__ADS_1
"Banyak sekali cobaannya ya Allah." gumam Danu menunduk sedih.