Talak Aku!

Talak Aku!
Danu & Diana Flashdback I


__ADS_3

"Apa...!? Halo... halo..."


"Anita kamu masih bisa dengar Kakak? Halo, Nita." Danu terhenyak mendengar perkataan Anita yang bilang jika Diana ada di Bali.


"Apa maksud dari perkataan Anita, ya? Kenapa dia bilang Diana ada di Bali?" Danu memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Anita. Dia menjadi tidak bisa tidur karena berperang dengan pikirannya.


"Ah daripada pusing mikirin mending aku tidur saja. Besok harus mencari Diana kemanapun dia pergi." Danu tidak lagi memikirkan perkataan Anita.


Padahal apa yang di katakan Anita merupakan suatu petunjuk tentang keberadaan Diana. Tapi karena rasa lelah yang dirasakan Danu membuatnya enggan berpikir banyak.


Danu menyimpan ponselnya di atas kasur, dia memperhatikan tepat tidur yang sering ia dan Diana tempati. Seketika rasa sesak menghampirinya di kala bayangan malam indah penuh kebahagiaan serta canda tawa kembali melintas di benaknya.


Danu beranjak mendekati lemari pakaian yang tak jauh dari tempat tidur. Dia ingin mengambil selimut namun, matanya malah tertuju pada plastik hitam yang ada di dalam sana.


"Plastik ini..." tangannya terulur mengambil bingkisan plastik tersebut lalu Danu duduk di pinggir ranjang.


Dia membuka plastiknya dan seketika dia mematung. "Sprei putih," lirihnya terhenyak mengetahui isi dari dalam plastik tersebut.


Danu kembali terbayang malam pertama mereka yang begitu mengesankan baginya. Pengalaman pertama di saat untuk pertama kalinya dia bercumbu mesra dengan seorang wanita. Danu mendekap erat sprei tersebut seraya matanya berkaca-kaca mengingat setiap kenangan bersama Diana.


"Diana."


FLASHBACK


Dua tahun yang lalu.


"Zio, ini hari pertama kau akan mengajar di kampus menggantikan Papa mengurus universitas sekaligus jadi dosen di sana. Papa dan Mama akan ke Turki untuk mengurus pekerjaan kakek kamu." Fakhri meminta putranya turun tangan mengerjakan pekerjaan di Indonesia setelah kepulangan Zio kuliah di Turki.


"Kenapa harus aku, Pah. Kan ada orang-orang kepercayaan Papa, ada om Fero yang juga bisa mengurus universitas. Ada Anita juga yang bisa bantu." Zio yang hendak pergi keluar pun seketika memberhentikan langkahnya di saat Fakhri meminta dia mengajar.


"Om Fero kan sudah memiliki kesibukan masing-masing. Kaku Anita masih belum lulus kuliahnya. Jadi tinggal kamu satu-satunya harapan kita untuk mengajar di sana menggantikan Papa." Fakhri menyimpan koran yang sedang ia baca ke atas meja. Lalu mendongak menatap serius putranya.


"Harus aku yang turun tangan?" tanya Danu memastikan kembali.


"Iya, harus kamu. Dan hari ini hari pertama kamu akan mengajar," jawab Fakhri tegas.

__ADS_1


Danu menunduk menghelakan nafas berat. "Baiklah, Zio bersedia mengajar di sana."


Dan Danu pun kembali ke kamarnya mengganti pakaiannya. Kini penampilannya sudah berubah. Dia mengenakan kemeja putih di padukan celana kain bersiap pergi ke kampus.


"Pah, Mah, Zio berangkat dulu ke kampus." Danu berpamitan kepada orangtuanya.


"Zio, Mama pinta kamu mengajar yang benar, jangan galak-galak sama murid kamu. Dan Mama juga berpesan untuk menjadi dosen yang baik yang memberikan contoh baik untuk anak didiknya." Sebelum Danu berangkat, Karin berpesan dulu pada putranya. Dia baru saja bergabung dengan Fakhri sehabis dari kamar mandi.


"Iya, Mah. Zio mengerti." Setelahnya Danu pun pergi menggunakan motor merah kesayangannya. Karena memang dia tidak suka menunjukan kekayaan orangtuanya.


*******


Dua gadis remaja berusia 18 tahun tengah berlarian menuju gerbang sekolah di karenakan mereka terlambat akibat kesiangan habis nonton drama Korea kesukaan mereka.


"Diana buruan larinya. Kita udah terlambat lima menit. Pasti gerbangnya sebentar lagi akan di tutup," ujar Cici berteriak sembari berlari melihat pergerakan gerbang yang akan tertutup sendiri.


"Ini juga udah lari, Ci." Diana tak kalah lari kencang berbarengan dengan Cici yang juga lari takut terlambat masuk.


Di saat itu pula motor Danu melaju cukup kencang mendekati universitas. Dia melihat jam tangannya dan tanpa sengaja stang motornya menyenggol seseorang.


"Astaghfirullah...!"


Ckiiit....


"Diana...!" Cici memekik kaget lalu kembali mendekati Diana.


Danu pun sama kagetnya dan segera mematikan motornya lalu turun mendekati Diana dan Cici.


"Diana kamu tidak apa-apa?" tanya Cici membantu Diana untuk berdiri.


"Awww..." Diana meringis kesakitan kala lututnya terasa sakit.


"Maaf, maaf. Saya minta maaf tidak sengaja menyenggol kamu." Danu mendekati kedua gadis remaja itu dan ia sangat panik mengetahui gadis yang di senggolnya memekik kesakitan.


Diana dan Cici mendongak, barulah Danu bisa melihat wajah mereka berdua dan seketika Danu mematung melihat wajah Diana begitu mirip dengan orang yang ada di ponsel adiknya yang bilang jika wanita itu tukang bully.

__ADS_1


Deg...


"Dia...!" gumamnya sangat pelan.


"Anda bisa nyetir tidak hah? Masa kita tubuh gede gini tidak kelihatan dan malah menyenggol teman saya," ucap Cici kesal atas kecerobohan pria di hadapannya.


"Ci, sudah. Ini salah aku tidak lihat-lihat dulu saat menyebrang." Suara lembut Diana mengalihkan keterkejutan Danu. Dia menatap Diana dan seketika amarahnya datang.


"Aku menemukanmu pembunuh. Mulai hari ini aku akan membalas atas kematian adikku," batin Danu.


"Tapi tetap saja dia yang salah."


"Maaf, saya memang salah tidak serius dalam berkendara. Hmmm apa ada yang sakit? Saya bisa antar kamu ke UKS kampus sana." Danu berjongkok memegang pundak Diana.


"Tidak usah, saya baik-baik saja." Diana menolak karena tidak ingin merepotkan orang lain. Dia pun berusaha berdiri di bantu Cici namun, lututnya terasa sakit saat di gerakan.


"Aaww..." Danu repleks menahan perut Diana di saat gadis itu ingin terjatuh. Diana mendongak menatap wajah Danu begitupun dengan pria itu yang juga menatap Diana.


Cici menunduk melihat lutut Diana yang kebetulan mengenakan dress di bawah lutut jadi memudahkannya melihat luka.


"Ya Allah Diana...! Lutut kamu berdarah." Cici terkejut sebab darahnya cukup banyak.


Danu dan Diana menunduk melihatnya. "Ini hanya luka kecil, Ci. Jangan panik gitu napa."


Tanpa aba-aba, Danu segera membopong Diana sebagai awal pendekatan untuk membalas dendam atas kematian adiknya. "Kamu harus segera di obati."


"Aakkhh... apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" pinta Diana memekik kaget pria yang baru ia temui sudah berani menggendongnya.


"Hei lepaskan teman saya. Anda tidak sopan sekali, Tuan." Cici mengikutinya dari belakang meminta Danu menurunkan Diana.


Danu tidak menggubris perkataan kedua gadis itu. Dan gerbang itu kembali terbuka dengan sendirinya membuat kedua gadis itu terheran-heran.


"Pak tolong saya minta kotak kesehatan," ujar Danu kepada satpam penjaga. Danu pun mendudukkan Diana di bangku yang ada di pos satpam.


Dia berjongkok memegang ujung rok Diana.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain?"


__ADS_2