Talak Aku!

Talak Aku!
Semakin Menjadi


__ADS_3

"Diaaam...!" Lagi-lagi Fikri berteriak membentak Diana dan tangannya tak segan menampar wajah istrinya saking kesal tidak terima Diana meminta talak.


Plak...


Diana meringis kesakitan memegangi wajahnya yang terasa kebas oleh sebuah tamparan keras. Wajahnya pun menoleh ke samping dengan tubuh kembali tersungkur ke lantai.


Perih, sakit, itulah yang Diana rasakan di pipinya. Untuk pertama kalinya dia mendapatkan perlakuan kasar dari seorang pria. Untuk pertama kalinya Diana di perlakukan tidak seperti pada umumnya. Entah kesalahan apa yang Diana perbuat sampai dirinya mendapatkan suami kasar seperti Fikri.


Diana menunduk memejamkan mata menahan sakit di pipi dengan air mata meluncur deras membasahi wajah.


"Jangan pernah coba-coba kabur dariku atau anakmu ku habisi! Tetap disini dan saya tidak akan pergi darimu. Camkan itu!" Fikri menunjuk wajah Diana dan pria itu pun melangkah pergi ingin keluar dari kamar Diana kemudian menguncinya agar Diana tidak kabur dari sana.


Seharusnya Fikri sadar jika rumah itu bukanlah rumah dia melainkan rumah Diana pemberian dari orangtuanya Danu sebagai hadiah atas kehamilannya. Tapi mengapa sekarang Fikri justru lebih berkuasa di sana dan lebih dominan mengendalikan keadaan di sana.


Diana mencoba berdiri mencegah Fikri mengunci pintu. Dia menggedor-gedor pintu berharap Fikri mau membukanya.


Dug.. dug.. dug.. dug..


"Bli Fikri buka pintunya! Jangan kunci aku di sini. Bli, buka! Kau tidak bisa seenaknya memperlakukanku seperti ini. Kamu tidak berhak berkuasa di rumah orang tuaku. Bli, Buka..!" sekuat tenaga Diana mencoba berteriak memanggil Fikri berharap pria itu berubah pikiran untuk tidak menguncinya.


Namun, Diana tidak bisa berbuat apa-apa di kala Fikri diam tidak ingin membuka kuncinya.


"Bli Fikri buka! hiks hiks," ujarnya sangat pelan seraya tangan pun ikut pelan menggedor pintunya. Tubuh Diana berbalik menyender ke pintu dan perlahan luruh kelantai terduduk lesu menangis pilu sendirian tanpa orang yang tahu.

__ADS_1


"Ya Allah, kenapa cobaan darimu begitu berat? Aku mohon berilah hamba petunjuk agar hamba bisa terbebas dari pria sepertinya. Berilah hamba kekuatan untuk menghadapi semua cobaan ini. Hamba ikhlas jika memang ini sudah menjadi suratan takdir yang harus ku jalani. Tapi hamba juga ingin engkau mengirimkan seseorang untuk membuatku terbebas dari semua ini. Aku takut Fikri menyakiti anakku, ya Allah."


Dalam sepinya malam, Diana menangis sendirian di dalam kamar yang di kunci dari luar. Jiwa yang sepi, hati yang terluka, badan yang terasa sakit begitu terasa olehnya. Sepi karena tidak ada yang bisa ia hubungi sebab ponselnya tertinggal di ruang nonton tv, terluka mendapatkan sentakan dan pengkhianatan, sakit karena mendapatkan sebuah siksaan lahir dari suami keduanya.


Dengan tangis yang masih tersedu-sedu, Diana berdiri mendekati putranya yang tengah tertidur nyenyak. Dia mencoba menahan suara agar tidak membangunkan Baby A. Lalu, tubuhnya ia baringkan di samping seraya memeluk tubuh mungil yang ia miliki saat ini.


"Mas Danu, Diana rindu. Tolong aku, Mas." gumamnya dalam hati malah teringat pada ayah dari anaknya. Sekasar-kasarnya Danu tidak pernah sampai bermain tangan. Dan kasar pun hanya sebuah bentakan saja dan itupun terjadi saat pria itu mengaku memiliki istri baru di saat berniat membalaskan dendam atas kematian adiknya.


******


Keesokan harinya


Laki-laki berkulit putih berambut rapi, bermata hazel dengan alis hitam alami, hidung mancung, berwajah tampan, mendarat selamat di kota kelahirannya. Dia menatap haru kota yang sudah ia tinggalkan dan meninggalkan niat mencari wanitanya. Kedua tangannya ia masukan kedalam saku, tas ransel ia gendong, dan ia berpakaian serba hitam. Jaket hitam, kaos hitam, celana jeans pun hitam serta sepatu sneaker juga hitam.


"Aku sudah kembali kesini. Diana tunggu aku, aku akan menemukanmu dan membawamu kembali dalam pelukanku. Aku pulang," batin Danu menatap bangunan-bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya. Tanah kelahirannya.


"Diana, apa kabar? Dimana kamu sekarang? aku merindukanmu, maafkan aku pernah menyakitimu tanpa sengaja. Sekarang aku sudah tahu kenyataannya dan akan menebus semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu." Danu memejamkan mata berharap dan bordoa semoga ia bisa di pertemukan kembali dengan Diana untuk menebus setiap kesalahannya. Mimpi yang sering hadir dalam tidurnya seakan memberikan sebuah petunjuk jika Diana tengah tidak baik-baik saja. Maka dari itu Danu merasa senang setelah satu bulan lebih di negara orang bisa pulang dan tentunya melanjutkan lagi pencariannya.


"Dengan tidak adanya dirimu di sisiku aku sadar ternyata aku mencintaimu hingga saat ini pun perasaan itu ternyata masih ada dan kian semakin besar saja," batin Danu sudah tidak sabar segera sampai di orangtuanya dan tentunya meminta izin kepada Karin dan Fakhri untuk mencari Diana.


******


Bali

__ADS_1


"Permisi, saya mau tanya kenapa toko bunga The florist tutup ya? Kemana pemiliknya?" tanya seorang pria kepada pria yang sedang ingin menuruni motornya.


Pria yang ada di atas motor itu menatap lekat wajah pria yang sedang bertanya. "Siapa kau? Ngapain menanyakan toko bunga istriku?"


Siapa lagi jika bukan Fikri. Ya, pria yang ada di atas motor itu adalah Fikri. Dia baru saja pulang mencari makanan buat dirinya dan Diana.


Sedangkan pria berperawakan tinggi dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya itu menatap penuh selidik Fikri. Tapi karena kacamatanya warna hitam, jadi pria itu tidak bisa melihat tatapan tajamnya.


"Saya hanya ingin membeli bunga saja tidak lebih dari itu."


"Oh, tidak perlu kau membeli bunga di sini lagi. di tempat lain saja dulu istriku sedang sakit dan kau jangan mencoba dekati istriku!" ujar Fikri penuh ancaman tidak menyukai pada pria terlihat muda mendekat dan membeli bunga di toko Diana. Lalu Fikri turun dari motor dan mencoba membuka kunci pintu kemudian masuk ke dalam rumah.


Pria itu mengerutkan keningnya merasa heran atas sikap Fikri. "Kenapa rumahnya harus di kunci dari luar? Dan benarkah istrinya sakit?" Karena merasa ada yang mengganjal, pria itu mencoba mencari tahu lebih dekat lagi.


Prank...


"Jadi kau tidak mau makan makanan yang ku belikan? Ok baiklah, terserah kau saja. Saya tidak peduli!" Fikri kembali berteriak memarahi Diana karena enggan menerima makanan yang ia sediakan.


Tentunya Diana menolak karena Fikri memasukkan serbuk yang tidak tahu serbuk apa. Entah racun, entah pelet, entah obat perangsang, ataupun apapun itu Diana tidak tahu.


"Aku membencimu, Fikri. Kau pria kejam yang aku temui. Tolong bebaskan aku! Tolong lepaskan aku!" Diana sampai memohon mengatupkan kedua tangannya meminta Fikri melepaskan dirinya dari jerat rumah tangga yang terasa bagaikan di neraka ini.


"Aku bilang tidak akan, tidak akan!" pekiknya semakin keras dan langsung membanting pintu kamar saat pria itu keluar.

__ADS_1


Blug...


"Apa yang terjadi dengannya? Saya harus memberitahukan ini pada pak Rio."


__ADS_2