
Tiada hal yang membahagiakan selain bisa bertemu kembali dengan orang yang dicintai. Tiada hal yang lebih istimewa selain menghabiskan waktu bersama orang-orang yang berarti dalam hidupnya.
Terkadang perjalanan hidup begitu berliku untuk mencapai sebuah impian yang dituju. Terkadang banyak rintangan yang harus dilewati demi sebuah mimpi yang ingin digapai.
Tiada hentinya Danu terus memandangi wajah wanita yang kini tengah terlelap dalam dekapannya bersandar di dada bidang seraya tangan wanita itu memeluk pinggang. Senyum binar kebahagiaan terus terpancar di raut wajahnya mengetahui jika dia tidak bermimpi bisa bertemu kembali dengan wanita yang ia cari.
Namun, seketika senyuman itu perlahan luntur mengingat jika Diana masih berstatus istri orang. Ada rasa menyesakkan di dada kala bayangan malam pertama Diana lewat bersama suaminya. Rasa tidak ikhlas pria lain menyentuh Diana membuat rasa kesal hadir menyelimuti relung hati.
"Dee, apakah kamu sudah menghabiskan malam indah itu dengannya? Hatiku sungguh tidak rela kamu disentuh dia. Bolehkan aku egois dan berharap jika kamu belum di gaulinya dan hanya boleh aku saja?" gumam Danu memperhatikan wajah cantik Diana yang masih terlelap dalam dekapannya. Rasa kebas dan pegal di lengannya tak ia rasa, tangan kirinya menyusuri setiap pahatan sempurna yang Tuhan ciptakan.
Tidur Diana terusik oleh sentuhan lembut itu. Perlahan matanya terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk ke netra matanya. Tidurnya terasa nyenyak dan nyaman, kehangatan yang Diana rasakan seakan tidak ingin hilang begitu saja. Diana merasa bermimpi tengah memeluk Danu, mantan suami yang masih ada di hati.
"Mas Danu, Dee merindukanmu. Bawa aku pergi dari dia, Mas. Dee tidak cinta dia," ucap Diana bergumam seraya memeluk erat tubuh pria yang ia rasa sedang berada di dalam mimpi.
"Di saat aku menyakitimu kamu masih saja memanggilku Danu, nama yang kamu berikan hanya untukku saja. Panggilan sayang kamu untukku agar beda dari yang lainnya," gumam Danu membalas pelukan Diana.
Bolehkan dia khilaf sekali ini saja? Bolehkan dirinya menikmati waktu ini agar tidak cepat berlalu setelah sekian lama tidak bertemu? Bolehkan dirinya memeluk istri orang di kala tiada ikatan untuk keduanya? Bolehkan Danu mengurung istri orang itu di rumah agar tidak lepas lagi? Dan bolehkan Danu menjadi seorang pebinor demi bisa mendapatkan wanita yang ia cintai?
Hingga suatu merdu adzan subuh berkumandang membangunkan Diana dengan sempurna. Dia menggeliat seraya menguap.
Danu menggeser tubuhnya menjadi menyender ke ranjang. Danu serius menatap Diana yang sudah duduk sambil kedua tangannya menggeliat. Matanya terfokus pada satu titik, wajahnya serius terlihat dingin namun dalam hati bahagia bisa melihat lagi wanita yang sering bangun belakangan saat mereka masih bersama suami istri.
"Tidurku nyenyak sekali, semalam aku bermimpi mas Danu ada di dekatku." Diana merasa semua yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi indahnya. Dia berpikir jika tidak mungkin seorang Danu Alzio Fakhri berada di sana.
__ADS_1
"Kamu tidak sedang mimpi, Dee." Barulah Danu bersuara dan merubah raut wajahnya menjadi tersenyum melihat kebingungan Diana.
Diana mengerutkan keningnya merasa suara Danu begitu nyata terdengar di telinga.
"Kenapa aku mendengar suara Mas Danu begitu nyata?"
Danu merubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Kemudian perlahan melingkarkan tangannya ke perut Diana dan berkata, "Selamat pagi, sayang." Pria itu berbisik di telinga Diana.
Deg...
Diana terkejut lalu segera berbalik dan mendorong tubuh orang yang tidak ia kenal sampai tubuhnya menggeser ke pinggir ranjang dan malah akan terjatuh. Untungnya Danu segera menarik pinggang Diana menariknya ke depan hingga tubuh keduanya terjatuh ke atas kasur dalam posisi Diana berada di atas tubuh Danu.
Mata Diana terbelalak saat melihat wajah pria yang ia sangka hadir di mimpinya ada di depan mata.
"Ma-mas Danu!"
Diana segera melepaskan diri dari dekapan Danu dengan wajah bersemu merah dan merasa kikuk bisa sedekat ini lagi. Dia baru ingat tentang kejadian semalam. Tapi, dirinya merasa heran kenapa bisa ada di dalam kamar tidur bertiga?
"Ini salah, kenapa kita berada di dalam satu kamar?" Diana kebingungan dan memeriksa keadaan dirinya. Lega, itulah yang di rasa saat ini juga.
"Kenapa? Toh kita tidak melakukan apapun hanya tidur saja." Danu mendudukkan bokongnya lalu bersila mendongak seraya menatap Diana.
"Tapi ini tidak di benarkan dalam agama kita. Kita sekarang bukan mahram dan tidak boleh tidur dalam satu kamar," balas Diana merasa sedih karena dirinya tidak bisa menjaga diri dari pria yang seharusnya tidak boleh tidur dalam seranjang.
Danu menunduk menghelakan nafas berat. Rasa bahagianya membuta kan segalanya jika mereka sudah tidak boleh saling bersentuhan lagi.
__ADS_1
"Maaf," ucap Danu menyesal.
"Tapi sekarang kita shalat subuh berjamaah, ya?" pria itu rindu menjadi imam untuk Diana dan dia ingin sekali bisa melakukan hal itu lagi.
"Maaf, aku masih dalam keadaan nifas," balas Diana menunduk menyembunyikan kegelisahan hati di dekat Danu.
Danu mengangguk mengerti meski dirinya sedikit kecewa tidak bisa beribadah bersama. Tapi namanya juga wanita pasti terkadang ada liburnya. Dan Danu mengerti akan hal itu.
"Ya, sudah, aku ke kamar mandi dulu." Danu pun beranjak turun dari ranjang dan perlahan berdiri mendekati Diana. Diana mendongak kemudian mundur dengan hati yang berdebar-debar.
"Ka-kamu ma-mau apa?" tanya Diana begitu gugup. Saking gugupnya sampai terbata-bata.
Danu tidak menjawab, dia malah terus melangkah mendekati Diana sambil terus menatap dalam mata wanita di hadapannya. Sampai tubuh Diana mentok di lemari pun Danu masih mendekatinya.
"Ka-kamu..." wajah Danu mendekat dan tangannya kanannya membuka pintu lemari mengambil handuk. Sedangkan matanya terus tertuju pada mata Diana dan semakin mengikis jarak diantara keduanya.
"Aku sayang kamu," bisiknya lalu mengecup tapi tangan Diana langsung menutupi wajahnya sebelum tiba hingga Danu malah mengecup punggung tangannya. Danu terkekeh menggelengkan kepalanya dan beralih mengecup pucuk kepala Diana dan pergi ke kamar mandi.
******
"Jadi di sini tempat Diana saat ini? Akhirnya ku menemukanmu sayang. Tidak akan ku biarkan kau bebas dariku, kau milikku dan akan tetap menjadi milikku. Susah payah ku mendapatkan mu dan setelah dapat tidak akan ku lepaskan."
Fikri, pria itu masih saja tidak terima Diana pergi darinya. Dia menemukan titik keberadaan Diana dari GPS yang telah ia pasang di ponsel Diana secara sembunyi-sembunyi tanpa di ketahui Diana.
Pria itu memantau rumah yang di singgahi Danu dan Diana sejak pukul empat pagi hari. Dia sampai berdiam diri di dalam mobil yang ia sewa untuk menyamarkan kendaraannya agar jika nanti membawa Diana pergi tidak di ketahui.
__ADS_1
Senyum penuh misteri muncul di bibir Fikri. Lantas, apa yang akan terjadi selanjutnya?