
Fikri dan wanita bertubuh gempal itu tak kuasa meringis merasakan sakit di kala Diana terus mencengkram keduanya. Entah dendam atau refleks dari rasa mulas yang tiba-tiba menyerang membuat Dian tak bisa melepaskan keduanya.
Fikri si pria hitam manis pemilik lesung pipi yang selalu membuat Diana kesal, wanita dewasa perkiraan berusia 40 tahun bertubuh gempal dengan rambut bersanggul yang rusak akibat jambakkan dari Diana.
Kedua orang itu terus menjadi sasaran di saat rasa mulas itu kembali datang.
"Aaakkhhh... kenapa kau malah menjambak ku lagi, hah? Sakit tahu kepalaku terus kau sakiti." pekik wanita itu mencoba melepaskan tangan Diana.
"Aku juga tidak ingin menjambak Mbak Tami, tapi entah kenapa tanganku terus menggapai rambut mu Mbak." Diana juga tidak mengerti pada dirinya sendiri yang menjadikan dua orang itu sasaran dirinya.
"Mungkin bayinya dendam pada kalian berdua kali," celetuk salah satu ibu-ibu yang juga bersama Tami menghakimi Diana. Kini mereka berdua malah ikut mengantarkan Diana menuju persalinan.
Menurut dokter, kemungkinan Diana akan melahirkan karen dia sudah mengalami pembukaan dua. Dan saat ini sedang jalan-jalan di sekitar ruangan untuk mempercepat pembukaan, begitu saran dari dokternya.
"Dendam gimana?" tanya keduanya secara bersamaan.
"Bli Fikri kan sering mengganggu Diana terus mbak Tami juga menuduh diana Zina. Pasti anaknya dendam sama kalian berdua karena sudah membuat ibu nya menangis."
"Tapi kan..."
"Aaawww..." Diana kembali merintih dan kembali mencengkram keduanya. Kali ini rasa mulasnya sudah semakin sering dan perutnya pun kian mengencang.
"Ibu Diana, mari ikut saya ke ruang persalinan." Salah satu suster meminta Diana mengikutinya. Diana pun mengangguk sambil meringis menahan sakitnya di saat mulas tak tertahankan.
Perlahan ia melangkah di bantu suster masuk ke dalam. Hanya Diana yang ada di sana dan tidak ada orang lain karena emang Diana menginginkan persalinan sendiri tanpa ditemani yang lainnya. meskipun Fikri menawari tapi tetap di sana tidak ingin ada orang lain. Biarlah dia berjuang sendirian tanpa harus merepotkan yang lainnya.
Kini, Diana sudah terbaring di atas brangkar dengan nafas kian memburu menahan rasa mulas di perutnya. Di saat seperti ini, dia merindukan sosok pria yang sedang ia harapkan, ayah dari anak yang sedang ia kandung.
Tetes air mata membasahi pelupuk matanya di kala rindu itu hadir tiba-tiba tanpa di undang. "Mas Danu, aku merindukanmu. Sebentar lagi anakmu akan lahir, Mas." batinnya.
******
Bandara Jakarta
__ADS_1
"Ci, kita beli sesuatu buat Diana. Perlengkapan bayi mungkin," ucap Karin pada Cici.
Mereka berdua sudah janjian akan berangkat bersama barengan menuju Bali. Dan saat ini keduanya sedang berada di dalam pesawat bersiap untuk terbang ke Bali.
"Ah iya, Tante benar juga. Setelah tiba di sana kita langsung belanja saja. Meskipun lahirannya 3 Minggu lagi tapi Cici yakin Diana belum mempersiapkan itu semua."
"Berarti kita mampir ke salah satu toko perlengkapan bayi setelah di sana, ya."
"Siap Tante. Cici udah izin sama Papa akan tinggal di sana sampai nanti kuliah Cici masuk."
"Tante juga udah izin sama papanya Zio untuk tinggal bareng Diana dan cucu Tante. Tapi, kenapa Tante merasa ada hal yang akan terjadi ya? Tante khawatir sama Diana." Sedari tadi Karin gelisah ingin segera sampai sana. Tapi mau menelpon tidak bisa karena no ponselnya Diana tidak bisa di hubungi terus.
"Semoga saja Diana baik-baik saja, Tante. Kita berdoa saja semoga dia di berikan kesehatan dan keselamatan serta di kelilingi orang-orang baik. Aamiin yarobbal'alamiin."
"Aamiin yarobbal'alamiin. Tante harap juga begitu." Keduanya pun larut dalam obrolan santai di dalam pesawat yang sedang terbang membelah langit menuju Bali.
******
"Beneran, pak? Anda sedang tidak membohongi saya kan?" Iqbal tentunya terharu kalau Zio bisa bebas juga.
"Kau pikir saya bercanda? Tidak. Ini keputusan dari pihak polisi jika kami akan membebaskan Zio dengan syarat tiap Minggu wajib lapor pada polisi."
"Baik, pak. Kalau itu mah saya pastikan Zio akan selalu hadir setiap Minggu memenuhi laporan kepolisian." Iqbal pun mengulurkan tangannya kepada polisi tersebut.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak. Dan saya jamin bahwa klien saya tidak akan melakukan hal itu lagi."
"Iya, sama-sama. Dan saya juga berharap klien Anda kapok untuk tidak mengulanginya lagi." balas pak polisi membalas uluran tangan Iqbal.
Dan tak lama kemudian Zio keluar digiring oleh polisi. Raut wajahnya nampak terlihat terkejut dia belum tahu kenapa dirinya sampai dibawa polisi keluar segala.
"Ini ada apa sih kok tumben-tumbennya saya dipertemukan secara langsung begini? Biasanya juga suka dihalangi oleh dinding kaca yang tebal itu." Zio menatap bingung pada Iqbal yang sedang berdiri tersenyum.
Pria tinggi itu berambut gondrong itu merentangkan tangannya menyambut kebebasan Zio.
__ADS_1
"Selamat, bro. Kau di bebaskan."
Deg...
Zio langsung melepaskan pelukannya. "Benarkah yang kau bicarakan ini? Benarkah saya di bebaskan?" Zio ingin memastikan kembali pendengarannya dan tak ingin salah mendengar.
"Beneran, bro. Gue sudah menjamin semuanya dan kau di bebaskan karena sudah berprilaku baik dan tentunya tidak membuat masalah. Jadi, hukumannya di ringankan dan hasilnya kau keluar dari penjara." Iqbal menjelaskan panjang lebar mengenai semuanya. Barulah Zio mengerti dengan tubuh langsung bersujud syukur.
"Ya Allah ya Tuhanku, terimakasih atas nikmat yang engkau berikan untuk hamba. Hamba berjanji akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi dan hamba berjanji akan menebus segala macam dosa hamba termasuk dosa kepada Diana." dalam sujudnya Zio terisak menyadari setiap kesalahan yang ia lakukan pada Diana dan juga bersyukur bisa cepat selesai dari masa hukuman.
Iqbal berjongkok menepuk-nepuk pundak Zio. "Sekarang kau bisa mengejar wanita yang kau cintai, Zio. Gunakan kesempatan ini dengan baik."
Zio bangun menegakkan badannya. "Tentu saja, gue akan berusaha mencari keberadaan Diana. Dan sekarang gue harus ketemu orangtuaku dulu."
"Ya, kau benar. Saya sampai lupa mengabarkan kebebasan ini."
"Jangan dulu di kasih tahu, gue ingin memberikan kejutan buat Mama dan Papa." Zio sudah tak sabar ingin cepat pulang memberikan kejutan kepada kedua orangtuanya.
******
Bali
Diana sedang berjuang melahirkan anaknya secara normal.
"Ayo terus dorong yang kuat, sebentar lagi keluar."
Diana mengikuti arahannya. Dia mendorong kuat-kuat sambil berpegangan pada bantal yang ada di atas kepala.
"Tarik nafas dalam-dalam!" Diana mengikuti arahannya. "Lalu mengejan!" Diana pun kembali mengejan.
"Aaaakkhhh..."
"Oooaaaa... oooaaa..."
__ADS_1