Talak Aku!

Talak Aku!
Bertukar Kabar


__ADS_3

Untuk ketiga kalinya Fikri bilang seperti itu. Bilang jika Diana seharusnya bersyukur masih ada yang mau menikahinya dan menerima anaknya. Dan hal itu membuat Diana merasa jika Fikri tidak tulus mencintainya. Diana merasa Fikri hanya terobsesi kepadanya.


"Lalu kenapa kamu mau menikahi janda sedang hamil ini?" kali ini Diana berkata serius dan terlihat berwajah dingin dengan tatapan berbeda.


Deg...


"Karena saya mencintaimu. Kalau aku tidak menyukaimu mana mungkin kamu ku nikahi dan mau menerima anak bawaan mu dengan pria lain. Sudahlah, saya bosan di sini. Setiap hari bawaannya di curigai terus. Lama-lama kau bikin aku kesal," ujar Fikri mengumpat sebal sambil melengos pergi dari sana membuat Diana semakin merasa curiga.


Wajahnya menunduk sendu sambil tangan mengusap lembut pipi mungil putranya. "Apa salah jika Bunda menanyakan hal ini? Bunda hanya takut di kecewakan ke dua kalinya, sayang. Mohon tetap bersama bunda, ya, Nak." bisiknya mengecup lembut kening Baby A sampai bayi tampan itu menggeliatkan tersenyum lembut.


Kisah masa lalu mengajarkan Diana untuk berhati-hati dengan orang sekitar. Baik itu kepada keluarga, orang terdekat, tetangga, ataupun sahabat. Dia tidak pernah tahu siapa saja orang-orang yang memiliki niat tersembunyi di balik topeng baik hati. Dia tidak pernah tahu suatu hari nanti akan ada orang baik yang menjadi jahat. Dia tidak pernah tahu orang terdekat bisa menusuk dari belakang. Maka dari itu, berhati-hati dan waspada adalah solusinya. Meski terkadang dirinya tidak pernah tahu siapa saja orang-orang munafik itu.


Salma tersenyum mengejek melihat pertengkaran keduanya. Dia senang bisa melihat percekcokan yang terjadi di antara mereka. Itu artinya, cepat atau lambat Fikri pasti menceraikan Diana dan inilah yang iya harapkan dari kemarin-kemarin.


"Semoga saja kalian bercerai secepatnya. Hmmm tidak sabar ingin melihat hari itu tiba."


******


Beda tempat beda cerita. Jika di Bali Diana merasa gelisah dan sedang tidak baik-baik saja, maka di tempat lain sedang senang orang yang di sayangi telah sadar.


"Mama senang akhirnya Papa sadar setelah satu bulan tidak sadarkan diri. Mama sangat khawatir sekali dan takut papa tidak..." Karin tidak melanjutkan ucapannya karena merasa sesak saat memiliki pikiran suaminya takut tidak sadar lagi. Istri mana yang ingin suaminya tiada, istri mana yang tidak berharap suaminya tidak bangun? Karin selalu berharap dan berdoa untuk kesembuhan suaminya serta menginginkan Fakhri sadar.


Fakhri menggenggam tangan istrinya tersenyum teduh. "Papa tidak mungkin meninggalkan kalian sebelum melihat cucu papa dan melihat Diana dan Danu bahagia."


Karin terdiam, dia baru teringat kembali pada Diana. Semenjak suaminya mengalami kecelakaan dan dalam masa pemulihan, Karin tidak menghubungi Diana.


"Diana. Mama sampai melupakan cucu kita dan putri kita. Apa Papa mau melihat cucu kita? Diana sudah melahirkan, Pah."


"Melahirkan? kapan? kenapa Papa tidak tahu masalah ini?" papa Fakhri kaget sekaligus senang mendengar Diana sudah melahirkan. Dia jadi penasaran ingin melihat cucunya.

__ADS_1


"Satu bulan yang lalu. Saat papa mengalami kecelakaan, pada saat itu Diana juga melahirkan. Cucu kita laki-laki, Pah." Karin tersenyum membayangkan wajah cucunya yang begitu mirip dengan Zio.


"Papa mau menelpon Diana?"


"Boleh, Mah. Papa ingin melihat mereka." Rasa tidak sabar ingin melihat keduanya begitu menggebu di hati papa Fakhri. Apalagi rasa ingin tahu wajah cucunya begitu sangat besar.


Dengan semangat empat lima, Karin mengambil ponselnya. Perbedaan waktu empat jam menjadi salah satu halangan mereka melakukan sambungan telepon. Dan mumpung di Turki siang, kemungkinan di Indonesia sore hari.


******


Meski tubuhnya masih lemah, Diana mencoba mengurus bayinya. Memandikan sang putra penuh kehati-hatian.


"Mandi dulu ya, Nak. Biar ganteng gak bau acem." Diana berceloteh mengajak putranya bicara sambil mengelap tubuh mungil itu.


Baby A tersenyum membalas perkataan ibunya. Bayi tampan itu seperti mengerti pembicaraan ibunya.


Drrrtt... drrrtt...


"Mama Karin...!" cepat-cepat Diana menggeser tombol hijau sampai kini nampak sebuah gambar di balik ponsel.


"Assalamualaikum Diana."


"Waalaikumsalam, Mah, Pah." Diana senang bisa melihat lagi orang yang pernah menjadi mertuanya. Apalagi melihat keadaan papa Fakhri membuatnya bersyukur lega. Dan melihat mereka seketika hatinya tersayat perih mengingatkan kembali pada kenangan dulu saat bersama Danu.


"Hei, kenapa matanya berkaca-kaca?" Karin ingin tahu alasan Diana terlihat murung dan sedih.


Diana menyimpan dulu ponselnya di dekat bantal, lalu ia melanjutkan kegiatannya memakaikan pakaian pada putranya.


"Diana senang bisa melihat Papa Fakhri sadar. Diana bersyukur Papa sudah sembuh," ujarnya sesekali melirik pinsel dan beralih pada putranya.

__ADS_1


"Alhamdulillah papa masih di berikan kesembuhan untuk bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan kalian. Dee, papa ingin melihat cucu papa." Kali ini Fakhri yang angkat bicara. Dia memperhatikan pergerakan Diana yang merawat cucunya seorang diri.


Diana tersenyum lalu menggendong putranya yang sudah selesai berpakaian dan wangi. Dia pun duduk di tepi ranjang mengambil ponselnya dan mengarahkan kepada baby A.


"Assalamualaikum Opa, Oma, Arka udah mandi dan udah wangi." Diana menirukan suara anak kecil seraya menggerakkan tangan mungil Baby A menyapa nenek kakeknya. Dan bayi itu tersenyum dengan mata terbuka.


"Masyallah tampan sekali cucu Opa dan Oma. Lihat, Mah. Dia tersenyum. Pasti dia mengerti kalau kita ini Oma Opanya." Fakhri terharu bisa melihat secara langsung wajah sang cucu meski harus lewat ponsel. Tapi ini tidak menyurutkan rasa bahagia yang ia rasakan.


"Benar, Pah. Cucu kita sangat tampan dan menggemaskan." Namun mata Karin tertuju pada wajah pucat Diana.


"Siapa namanya, Dee?" tanya Fakhri ingin tahu namanya.


"Arkana Alzio Fakhri, Opa."


Cukup lama mereka mengobrol bersama saling bertukar canda tawa dan melepas rindu meski lewat udara. Hingga percakapan mereka harus terhenti saat Diana mendengar suara Fikri terdengar begitu marah.


"Jadi kau masih berhubungan dengan keluarga pria itu?"


Diana langsung menengok ke pintu. "Bli, kamu sudah pulang?" namun Diana melihat aura berbeda dari dalam diri Fikri. "Pah, Mah, Diana tutup dulu, ya. Kapan-kapan kita bicara lagi."


"Tidak usah kau bicara lagi dengan mereka!" pekik Fikri sedikit melangkah tergesa merampas handphone Diana dan mematikan ponselnya.


"Bli...! Apa yang kamu lakukan?" Diana merasa tidak enak hati pada mantan mertuanya. Belum juga berpamitan sudah di matikan dalam keadaan tidak sopan.


"Apa yang seharusnya saya lakukan sedari dulu. Kau itu sudah menikah denganku jadi kau tidak perlu lagi menghubungi keluarga mantan suamimu itu." Fikri melemparkan ponsel Diana ke atas kasur.


Diana terbelalak tidak mengerti pada sikap Fikri yang semakin kari semakin aneh di buatnya.


"Apa salahnya jika aku masih menghubungi mereka? Mereka kan nenek dan kakek kandungnya Baby A." sungguh Diana di buat bingung oleh situasi seperti ini. Bukankah mereka berhak memiliki hubungan karena Baby A adalah cucu mereka? tapi kenapa Fikri melarangnya.

__ADS_1


"Ini salah, Diana...!"


__ADS_2