
Malam semakin larut, siang menderang kini berubah menjadi gelap gulita. Gemerlap lampu perumahan mampu membuat gelap tersebut menjadi terang.
Langit yang tadinya berawan putih kini berubah warna menjadi hitam berhiaskan bulan bertabur bintang. Angin malam pun kian menembus kulit wajah wanita cantik menerbangkan setiap helai rambut.
Angin, sampaikan salam rinduku kepada dia yang jauh di sana. Hembuskan lah kesejukan cinta yang ku miliki agar dia bisa merasakannya.
Langit, dimana pun dia berada teduhkan lah perasaannya untukku. Bulan, sinari kegelapan dia agar dia bisa memancarkan cahaya cinta untuk ku rasakan.
Bintang, hiasi hari-hari dia dengan setitik harapan penuh cahaya agar dia mampu melukis kenangan bersama. Bersama meraih mimpi dalam mencari kebahagiaan dan syurga bersama-sama.
Tapi, semua hanya angan semata seperti aku yang tidak mungkin mampu menggapai langit, bulan, dan bintang. Semua hanya kemustahilan semata.
Diana, wanita yang kini sudah menjadi istri orang lain sedang diam menikmati malam bertabur bintang bersinar kan bulan di bangku dekat toko bunga. Dia terus menerawang menatap angkasa berharap ada bintang jatuh.
Lamunannya seketika buyar di saat ada jaket menyampai ke pundaknya. Diana terhenyak lalu mendongak. Rupanya Fikri berada di sana juga.
"Bli."
"Ini sudah malam. Tidak baik sendirian di sini meninggalkan baby Arka." Fikri pun ikut duduk di samping Diana. Selepas drama yang di buat Salma, mereka memanggil damkar untuk mengeksekusi ularnya. Sedangkan Salma di tangani oleh dokter sekitar.
"Ini masih jam delapan malam, Bli. Diana belum ngantuk. Lagian baby Arka terlihat dari kaca kalau dia bangun." Diana melirik kaca sebelah yang sengaja ia buka tirainya agar saat bayinya bangun langsung kelihatan.
Diana kembali mendongak menatap bulan dan bintang. Dia menatap dalam langit malam di atas menandakan sebuah kerinduan terhadap keluarganya.
Fikri ikut memandangi langi tersebut memperhatikan keindahan cahaya dari langit saat malam hari.
"Bintangnya sangat indah, ya?" ujar Fikri mengawali pembicaraan mereka.
"Iya, Allah menciptakan keindahan tersebut untuk kita bisa menikmatinya dan mensyukuri setiap apa yang ada di dunia ini." balas Diana masih memandangi langit malam.
__ADS_1
"Seperti Allah menciptakan keindahan nyata yang ada di hadapanku saat ini untuk ku syukuri dan ku nikmati," balas Fikri menoleh menatap dalam wanita yang ada di hadapannya.
Seketika Diana menengok sampai mata mereka beradu pandang. Lalu Diana memutuskan kembali tatapannya dan mendongak kembali ke atas.
"Kenapa?" tanya Fikri masih dalam keadaan menatap Diana.
"Apanya?" Diana masih memandangi langit.
"Kenapa sulit sekali membuatmu jatuh cinta padaku? Apa aku mempunyai kekurangan sampai susah menerimaku?"
Barulah Diana menoleh. "Karena aku takut untuk di kecewakan kembali." jawabnya singkat memandang dalam mata pria di sampingnya.
"Salahkan jika aku sulit jatuh cinta pada orang lain di saat hati sudah sepenuhnya ku serahkan tapi dia melukai?" Diana kembali berkata membuat Fikri diam seribu bahasa.
Alih-alih menjawab pertanyaan Diana, Fikri malah menatapnya begitu dalam. Hingga tiba-tiba Fikri memeluk erat Diana wanita itu tersentak kaget.
"Bli Fikri?!"
Diana mematung, mampukah dirinya melupakan kisah pahit, manis, bahagia yang dulu pernah terjalin diantara dia dan masa lalunya? Mampukah Diana menggantikan posisi Danu dalam hatinya dengan orang baru yang saat ini sudah menjadi suaminya? Suami yang harus ia hormati, suami yang harus ia cintai, suami yang harus ia prioritas kan daripada orang lain yang sudah menjadi mantan.
Diana mengerti posisi nya saat ini adalah seorang istri. Istri yang harus senantiasa berbakti, mencintai, mengayomi, dan melayani setiap keperluan suaminya.
Tangannya Diana terangkat perlahan mengusap punggung Fikri. "Aku sedang berusaha. Tapi jika ku mampu tolong jangan kecewakan ku."
Fikri tersenyum melepaskan pelukannya. Dia menangkup kedua pipi Diana memandangi dalam mata indah meneduhkan itu. "Akan ku usahakan buat tidak mengecewakanmu. Jika aku salah tolong tegur aku. Terima kasih sudah mau menerimaku dalam keadaan seperti ini. Dan aku janji akan membahagiakan mu beserta baby Arka."
Diana tersenyum mengangguk. Percuma mengharapkan masa lalu jika saat ini sudah ada masa depan yang harus ia perjuangkan dan harus ia perhatikan.
Percuma jika Diana terus melihat ke belakang jika menghadapi segala macam cobaan serta perjalanan hidup di masa depan. Dia yang hanya manusia biasa hanya bisa berdoa berusaha dan melakukan terbaik selama hidupnya untuk mencapai segala sesuatu yang ia inginkan dan ia harapkan.
__ADS_1
Mungkin ini sudah suratan takdir yang harus Diana terima, mungkin juga ini sudah menjadi jalan cerita yang harus dia hadapi serta syukuri.
Keduanya kembali duduk sembari menatap langit lagi. Untuk sejenak mereka terdiam memandangi langit tanpa bersuara. Hingga suara Fikri memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Apa yang kamu sukai dari langit? Bintang, bulan, matahari, awan atau langitnya saja."
"Aku suka bintang di atas langit."
"Kenapa begitu?" tanya Fikri menoleh menatap Diana yang ternyata sudah menunduk mengayunkan kakinya.
"Meskipun bintang kecil di antara yang lainnya, tapi dia mau bersinar sendiri tanpa bantuan orang lain. Meski terkadang bintang yang paling kecil di antara bulan dan matahari, tetapi bintang mampu menyinari langit-langit malam membuat suatu keindahan dan mengundang kekaguman banyak orang."
"Aku ingin menjadi bintang kecil di langit sana agar ku mampu berdiri sendiri dan mampu menyinari kegelapan di atas langit. Meski terkadang terlalu kecil di antara orang-orang besar, tapi setidaknya bintang memiliki cahayanya sendiri tanpa bantuan orang lain."
Fikri mendengarkan baik cerita Diana mengenai bintang. Artinya, meskipun dia terlihat kecil di dalam kegelapan, tapi dia masih bisa menyinari semua orang dengan caranya sendiri.
"Bintang kecil, kecil tapi mampu memiliki sinarnya sendiri dan berhasil menghiasi langit malam dengan keindahannya. Seperti kamu yang hanya di pandang sebelah mata namun kamu mampu memperindah kehidupan seseorang," balas Fikri sembari mengambil tangan kiri Diana dan membawanya ke dalam dekapannya.
Sampai pembicaraan mereka terganggu oleh suara ponsel milik Fikri yang terus berdering menandakan pesan masuk.
Tring...
Tring...
Tring...
Fikri terganggu oleh suara tersebut lalu membuka isi pesannya. Matanya terbelalak, sesekali memicingkan mata lalu melotot mengetahui siapa pengirim pesan tersebut.
Unknown : "Kalau kamu tidak ingin foto tersebut di ketahui oleh istrimu maka kau harus datang kesini sekarang juga. Kalau tidak, foto ini akan cepat sampai ke istrimu."
__ADS_1
Deg...
Fikri mematung tidak percaya ada orang yang mengirimkan pesan tersebut. Isinya pun berupa kisah masalalu nya yang sangat meresahkan masyarakat serta semua orang.