Talak Aku!

Talak Aku!
Di Tuduh


__ADS_3

"Halah... kalian pembuat zina, pasti anak yang kau kandung itu hasil zina kan?"


"Astaghfirullah, jangan pernah menuduhku seperti itu. Ini anak suamiku bukan hasil zina." Diana tentu tidak terima tuduhan orang-orang di sana mengenai anaknya.


Dia menyesali kenapa dia tidak menyuruh orang lain saja untuk mengirimkan bunga. Kalau tadi dirinya saat berpikir seperti itu mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Diana juga menyesal atas apa yang Fikri lakukan padanya dan itu membuat dia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak mampu menjaga harga diri sebagai wanita dan ternoda meskipun itu bukan karena dirinya.


"Bener kata Diana, anak ini anak suaminya kamu tidak berbuat Zina. Saya hanya refleks mengecup dia karena memang dia calon istri saya. Apa salah?" timpal Fikri membela Diana tak ingin wanita yang di cintainya di tuduh macam-macam oleh orang lain.


Pada saat ini, Fikri sedang bermain ke rumah temannya. Dan dia di tinggal sendirian di saat sang teman sedang menjemput kekasihnya sampai meninggalkan Fikri di dalam rumah tersebut.


Diana terkejut atas apa yang Fikri pikirkan. Dia mengira jika pria itu tidak akan bicara calon istri tapi ternyata dirinya malah di akui calon istri pada orang-orang yang ada di sana.


"Bukan, saya bukan calon istrinya."


"Lalu apa, Diana? Kita memang sepakat untuk menikah setelah kamu lahiran. Kan kemarin kita sudah bicara mengenai ini semua." Fikri justru menjadikan ini sebagai ajakan yang mungkin membuat Diana terdesak untuk tidak menolaknya.


Apalagi di hadapan banyak orang bisa membuat Diana semakin tidak berkutik dan pastinya tidak tega untuk menolaknya. Begitu pikir Fikri saat ini.


Tapi bukan Diana jika dia tidak akan pernah menikah dengan orang yang tidak ia cintai meskipun orang tersebut mencintainya. Baginya, cinta dua orang lebih baik daripada salah satu mencintai namun yang satunya tidak mencintai, itu lebih sakit.


"Bli Fikri, jangan buat suasana semakin keruh. Aku mohon untuk tidak berkata aneh-aneh karena kita bukan pasangan apalagi calon suami istri." Pinta Diana berharap Fikri mau meluruskan semuanya agar orang yang sedang melihat tidak menjadi salah paham.


"Ya, mending kalian berdua cepat menikah saja sebelum yang hal lain terjadi lagi pada kalian." Usul salah satu dari dua orang yang ada di sana.


"Betul itu. Kita nikahkan saja keduanya saat ini juga," balas yang lainnya menyetujui usulan dari seorang wanita dewasa atau mungkin berumur sekitar 40 tahunan.

__ADS_1


"Tidak, saya tidak ingin dinikahkan sama dia saya tidak mencintainya dan saya juga sedang menunggu ayah dari anak yang saya kandung ini. Jadi, saya mohon untuk tidak menyuruh saya menikah dengan Fikri."


Diana menolak tegas usulan itu. Tentu dia belum siap jika harus menikah lagi apalagi hatinya masih terpaut pada sosok Danu yang masih menjadi cinta pertamanya. Mata Diana terlihat sudah mengeluarkan air mata membayangkan hal ini terjadi.


Apa dia akan siap? Apa dia akan sanggup jika harus membuka hati lagi? Apa nanti pria itu mau menerima anaknya dengan ikhlas jika keduanya berjodoh? Itulah yang selalu Diana pikirkan. Bukan dia menolak ataupun tidak mau, tapi Diana mempersalahkan satu, anaknya. Dan itulah penyebab Diana enggan membuka pintu hatinya karena takut jika anaknya tidak mendapatkan kasih sayang dari papa sambungnya. Diana takut itu.


"Ayolah Diana, bukankah kamu sering bilang jika kamu tidak akan balik lagi sama suami brengsekmu itu. Sekarang kita menikah saja dan kita akan membuka lembaran baru untuk bahagia."


"Daripada banyak omong mending kita bawa keduanya ke balai desa untuk di nikahkan."


Diana menggelengkan kepalanya menolak, sedangkan Fikri malah dia menunduk tak sedikitpun menolak tawaran ini karena memang pria itu menginginkan pernikahan bersama seorang Diana.


"Ayo kita bawa saja keduanya dan kita nikah kan hari ini juga. Seret perempuan tukang zina ini. Sekalian bawa Bli Fikri nya juga. Dasar tukang zina." Dia mencekal tangan Diana menariknya secara paksa.


"Saya tidak ingin menikah, lepaskan saya!" Diana memberontak memohon untuk tidak di nikahkan.


"Halah, kalau kita melepaskan kalian, kalian pasti akan kabur. Udah, mending nikah saja daripada zina terus." Kedua orang tersebut terus menggiring Diana dan Fikri.


Namun di saat seperti itu, perutnya Diana merasa keram. "Awww...!" rintihan Diana membuat kedua wanita dewasa itu menoleh kaget. Begitupun dengan Fikri yang juga sama-sama terkejut melihat tangan Diana memegangi perutnya sendiri.


"Diana, kamu kenapa? Apa perutmu sakit?" Fikri bertanya merasa khawatir terhadap Diana.


Diana mengangguk sambil mencengkram erat pergelangan tangan Fikri. "Sakit bli, perutku sakit ssttt." rintihan Diana begitu terdengar sangat pilu dan terdengar sangat sakit.


Kedua orang yang akan membawa Diana dan Fikri menikah saling pandang terkejut atas apa yang terjadi.

__ADS_1


"Akkhh... sakit..." jerit Diana menahan sakitnya dengan cara menjambak rambut wanita yang sempat menyeret dan menuduhnya berbuat zina.


"Aaakkhhh rambutku rusak. Sakit Mbak, lepaskan tangannya dari rambutku." pekik ibu-ibu bertubuh gempal berusaha keras untuk melepaskan.


"Mbak ini gimana sih, saya juga jauh lebih merasakan sakit karena perut saya saat ini mules sakit. Ssstthhh sakit." Diana mengomeli keduanya.


"Diana, kita ke rumah sakit saja, ya? Mungkin kamu mau lahiran hari ini juga." Fikri pun tak kalah panik di kala cengkraman kuku-kuku tajam Diana sampai menusuk kulitnya.


Pria itu sedang meringis menahan cakaran dari tangan Diana.


Salah satu tangannya Diana dari tangan Fikri terlepas kemudian mengusap perut sebab ia mulai merasakan sesuatu ketika rasa sakit muncul lalu rasa sakit itu tidak ada lagi.


Diana berpikir, benarkah hari ini hari lahirnya anak dia? Tapi seharusnya nunggu sekitar 3 Minggu lagi untuk lahiran. Apa karena tekanan dari dua orang wanita yang memaksanya? Atau dokter salah menentukan hari persalinan?


Diana kembali mencengkram kuat tangan Fikri dan menarik rambut wanita itu serta menjerit sakit saking sakitnya tak bisa menahan.


"Aaakkhhh sakit...!" teriak Diana membuat pria berlesung pipi itu juga menjerit sakit mendapat cengkraman kuat kuku jari-jari panjang Diana.


"Aaakkhhh." jerit wanita bertubuh gemuk mencoba melepaskan tangan Diana dari rambutnya yang terseret paksa oleh tangan di saat Diana berjalan. Sedangkan yang satunya malah cengengesan."


"Buruan kita bawa Diana ke rumah sakit sebelum dia brojol di sini." pinta wanita satunya."


"Ah, bener. Ayo." Fikri menuntun Diana dan merelakan tangannya jadi sasaran.


Sakit di perutnya kian semakin terasa dan Diana semakin kuat mencengkram pergelangan tangan serta menarik rambut orang gemuk hingga.

__ADS_1


"Aaaaaakkhhhhh... sakit..."


__ADS_2