Talak Aku!

Talak Aku!
Danu Terluka


__ADS_3

"Diana milikku...!" Fikri membalikkan pundak Danu dan tak segan menancapkan sesuatu ke perut Danu.


Jleb...


Tapi, karena Danu segera menepis tangan Fikri sehingga benda itu yang tadinya ingin di tancapkan malah menggores perutnya.


Fikri terbelalak kemudian dia berlari dan membuang pisau lipatnya sambil menjauhi warga karena tidak ingin dirinya di tangkap begitu saja.


Diana terbelalak syok kala perut Danu mengeluarkan darah, "Mas Danu perutmu berdarah, Mas!"


"Diana, saya akan kembali mengambil kamu. Hahaha mati saja kau bedebah," ujar Fikri berteriak bagaikan orang bodoh dan gila setelah puas menyakiti orang yang menghalanginya.


Danu meringis menahan sakit di perut. Dia menunduk memperhatikan perutnya. Darah segar mulai merembes membasahi perutnya sampai baju putih yang ia kenakan kini berlumuran noda berwarna merah.


"Tolong, tolong dia. Siapapun tolong," ucap Diana panik berteriak minta tolong menyaksikan sendiri bagaimana darah itu keluar dari perut. Rasa khawatirnya begitu dalam takut jika berakibat fatal.


"Bli, sebaiknya kita ke rumah sakit. Ayo saya antar." Salah satu warga menawarkan diri untuk membawa Danu ke rumah sakit.


"Saya tidak apa-apa, ini hanyalah luka kecil saja. Saya masih bisa mengatasinya sendiri."


"Luka kecil bagaimana, Mas. Perut kamu terluka dan masih bilang luka kecil? Tolong jangan bertindak seolah baik-baik saja. Tolong dia, cepetan!" Diana terlihat mengkhawatirkan Danu dan tidak ingin pria itu kenapa-kenapa.


Danu menatap dalam wajah panik Diana. Dia merindukan omelan dan wajah panik itu.


"Bli, mari saya antar?"


"Benar, lebih baik diantarkan saja ke rumah sakit terdekat agar segera di tangani lukanya."


"Mas, kau kenapa diam saja? Ayo ke rumah sakit, Mas!" Diana terus memerintahkan Danu agar pria itu mau.

__ADS_1


"Saya beneran bisa sendiri, Bli. Saya hanya minta tolong untuk mencarikan pisau kecil yang di gunakan pria tadi itu. Saya ingin menjadikannya sebagai salah satu barang bukti." Danu tidak akan membiarkan orang itu berkeliaran bebas begitu saja. Dia khawatir Diana kembali terancam setelah mengetahui caranya yang memperlakukan Diana secara kasar.


"Ini bendanya, Bli." Salah seorang pria ternyata sudah mengambil senjata itu dan memasukkannya ke dalam plastik guna melindungi stik jari pria itu.


"Terima kasih, Bli. Dee, ayo?" Danu mencoba menahan perih dan ngilu di perutnya dan akan ke rumah sakit sendiri.


Diana masuk kebingungan dan masih panik. Dia mencari cara agar darah yang di perut Danu tidak keluar terus. Hingga pikirannya tertuju ke suatu hal. Diana berlari ke salah satu penjual di sana.


"Diana kau mau kemana?" tanya Danu keheranan dengan tangan kanan memegangi lukanya dan tangan kiri memegang plastik.


"Bli, saya minta tolong pinjamkan saya gunting untuk merobek ujung rok yang saya kenakan."


"Tapi Mbak?"


"Saya mohon buruan. Dia terluka dan harus segera di tutupi lukanya." Diana sudah menangis panik tidak bisa berpikir jernih.


Dari sebagian orang, ada yang berbaik hati memberikan kain syalnya kepada Diana. "Mbak, lebih baik gunakan ini saja." Wanita itu memberikan syalnya ke Diana dan Diana mengangguk terharu lalu mengangguk. "Terima kasih, Mbak."


"Mas gunakan ini!" Diana pun memberikan kain panjang itu dan Danu menerimanya kemudian melilitkannya ke luka yang terus mengeluarkan darah. Setidaknya jika luka itu di tutupi darahnya tidak keluar banyak.


******


"Aakkhhh... sialan, brengsek, kurang ajar, beraninya Diana pergi meninggalkanku. Beraninya pria itu mencuri Diana ku. Akkhh...." Fikri mengamuk membanting benda apa saja yang ia gapai. Fikri tidak bisa mengontrol emosinya di saat apa yang ia mau tidak tercapai juga.


"Ini semua gara-gara kau Fikri. Kelainan yang kau miliki membuat Diana pergi. Kau memang pembawa sial, kau spikopat kurang ajar yang ada di dalam diriku. Enyah kau dari hidupku, Fikri! Entahlah!' Fikri berteriak memukul dirinya sendiri secara keras hingga wajahnya mulai memerah.


Tubuhnya luruh kelantai setelah puas mengamuk melampiaskan amarahnya. Dirinya tiba-tiba menangis atas apa yang telah ia lakukan kepada Diana.


"Diana, maafkan aku. Aku sungguh tidak bisa mengontrol emosi ku sendiri. Aku sungguh mencintaimu dan tidak berniat menyakitimu. Inilah kekuranganku, Diana. Maafkan aku." Fikri terisak seraya menjambak rambutnya. Namun tiba-tiba, dia kembali tertawa bagaikan orang gila.

__ADS_1


"Hahaha aku kembali menyakiti orang yang ku cintai, aku kembali menyakitinya. Tapi..." Fikri kembali murung dan bersedih, "Aku tidak ingin kehilangan Diana. Ku yakin wanita sepertinya mampu merubahku. Aku harus mendapatkan nya. Ku harus mengambil dia dari pria itu." Dan seketika wajahnya memerah dengan sorot mata tajam menyeramkan bak ingin membunuh.


*****


Danu sudah di tangani tim dokter, lukanya pun sudah mendapatkan penanganan terbaik. Sudah di bersihkan dan kulit yang terbuka sudah di jahit kembali. Kini, Danu hanya tinggal menunggu lukanya kering saja. Tapi, meski begitu dia tidak boleh melakukan kegiatan yang berat-berat dulu.


Sedangkan Diana menunggu di luar rumah sakit karena tidak bisa masuk sebab ada bayi anak kecil yang di larang masuk. Sekarang Dia tengah kebingungan harus pergi kemana lagi. Mungkin saat ini dirinya selamat dari kejaran Fikri tapi mungkin suatu hari tidak bisa lari lagi.


"Dee," panggil Danu setelah tiba di tempat ruang tunggu yang ada di luar.


Diana menoleh, "Mas, sudah selesai? Bagaimana lukanya, parah tidak?" saat ini Diana seakan melupakan peristiwa yang dulu pernah terjadi dan menunjukan rasa khawatirnya terhadap pria yang sedang menatapnya. Diana sedang menimang-timang Baby A berusaha menidurkannya. Dan tas gendong kecil tersemat di pundak kanannya.


"Sudah di tangani." Danu terus memperhatikan wajah cantik yang sekian lama tidak bertemu. Dan kini wajah yang ia rindukan berada di hadapannya. Dan wajah itu bertambah semakin cantik saja dimatanya.


"Syukurlah kalau sudah di tangani." Setidaknya dia tidak lagi merasakan kekhawatiran seperti tadi. Tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi. Keduanya sama-sama terdiam dengan pikirannya sendiri.


"Terima kasih sudah mau membawaku pergi dari Bli Fikri. Dan maaf telah membuatmu terluka. Kalau gitu aku pergi dulu." Diana menunduk tak ingin terlalu lama bersama pria masa lalunya. Dia tidak mau di cap sebagai pelakor karena yang ia tahu mantan suaminya masih menjalin hubungan dengan wanita lain.


Danu masih bergeming hanya terus menatapnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan. Diana mulai membalikkan badan dan ingin melangkah pergi dari hadapannya Danu. Tapi pergelangan tangannya di cekal.


"Kamu mau kemana? Ini sudah larut malam."


"Kemanapun kaki ini membawaku melangkah pergi," jawab Diana menunduk pelan. Namun, tubuhnya menegang kala sepasang tangan kekar melingkar ke pundaknya.


"Jangan pergi lagi, Dee! Ku mohon."


Deg...


*********

__ADS_1


VOTE nya mana nih? BUNGA ataupun KOPI juga boleh biar tambah semangat.


__ADS_2