Talak Aku!

Talak Aku!
Tidak sabar menunggu


__ADS_3

Semenjak adanya Salma di toko bunga Diana, sang pemilik toko tersebut jadi tidak keteteran dalam merangkai bunga, mengecek pesanan masuk, dan mengirim. Biasanya Diana selalu mengerjakannya sendiri meski terkadang diri cukup lelah menjalankan semuanya.


Kini, Diana tidak lagi keteteran dalam menjalankan tugas. Kini Diana juga ada teman ngobrol. Dan kini usia kandungannya juga sudah memasuki delapan bulan.


"Mbak Salma, bisa bantu Diana buat rangkai bunga ini? Ini akan di ambil sore ini juga sama pemiliknya." pinta Diana secara sopan karena ia sedang keteteran dalam merangkai berbagai jenis bunga. Sedangkan di sisi lainnya, ia juga harus mengantarkan pesanan langganan setia.


"Bisa Mbak, saya bisa melakukannya, kok. Kau tenang saja." Salma tersenyum ramah meyakinkan Diana jika dirinya bisa diandalkan.


"Kalau Mbak Salma bisa, tolong tuntaskan pekerjaan ini semua ya? Saya mau mengantarkan pesanan orang." Diana senang jika Salma bisa membantunya. Namun, dia juga sedikit khawatir jika toko di tinggalkan di bawah kendali selain dirinya. Tapi, hatinya selalu meyakinkan jika semuanya baik-baik saja.


"Bisa-bisa, saya bisa. Kalau Mbak Diana mau mengantarkan pesanan silahkan. Toko bisa saya jaga dengan aman." Salam meyakinkan Diana jika dia mampu mengatasi masalah di toko.


Diana mengangguk seraya tersenyum meyakinkan diri sendiri jika dia tidak salah pilih karyawan. "Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu. Dan aku titip tokonya, ya. Kalau ada pembeli, uangnya bisa simpan di laci yang ada di bawah meja ku."


"Baik, Mbak. Aku mengerti."


Diana pun berdiri seraya tersenyum mengusap pundak Salma. "Jaga yang baik, ya. Jangan sampai ada orang yang mencurigakan di sini."


Salam yang tadinya menunduk memotong ranting bunga yang hendak di susun langsung mendongak. "Hah, oh iya, siap, Mbak. Aman itu." jawab Salma mengacungkan kedua jempol tangan keduanya.


Diana mengangguk lalu mengambil tas dan mengambil kunci mobil pick up. Di kehamilan yang menginjak 8 bulan, terkadang ia merasa lelah. Namun, demi keberlangsungan hidup kedepannya dia mencoba memperkuat diri.


Diana juga sedang menunggu Cici yang akan datang besok menemani dirinya. Berharap sahabat sejatinya itu bisa ada di saat nanti dia melahirkan.


Salma memperhatikan Diana keluar sendiri dalam keadaan hamil besar. Bukannya dia yang membantu Diana mengantarkan barang jualannya dan membiarkan Diana berdiam diri di kantornya malah dia sendiri yang berdiam diri di toko.

__ADS_1


"Hmmm wanita tangguh. Jadi penasaran sedang apa dia hidup seorang diri dalam keadaan hamil tanpa suami? Benarkah dia hamil diluar nikah sesuai sebagian yang beredar? Atau hamil di saat suaminya meninggalkannya? Hmm kasihan juga." Salma mengangkat bahunya tak peduli dengan urusan orang.


"Bodo amat, dah. Toh itu urusan dia. Sekarang saya harus kerja cari duit buat hidup enak dan bisa berbelanja." Salma pun kembali pada kegiatannya meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda.


******


Jakarta


"Berapa lama lagi saya harus menunggu bebas dari sini, Iqbal?" Zio sudah tidak sabar lagi untuk keluar dari penjara. Hal yang ingin dia lakukan yaitu mencari Diana.


Selama berada di dalam jeruji besi, Zio berusaha untuk berperilaku baik sesuai arahan Iqbal agar hukumannya diringankan. Dia juga selalu berdoa supaya Diana baik-baik saja dan selalu berdoa agar diana tidak menikah lagi selain dengan dirinya.


"Sabar dulu dong, kau hanya perlu menunggu waktu sekitar tiga bulan lagi untuk terbebas dari sini sesuai keputusan hakim. Tapi, saat bebas pun kau perlu wajib lapor setiap satu Minggu untuk memastikan jika dirimu tidak kabur." Iqbal menjelaskan setiap hal apa saja yang harus Zio lakukan selama bebas dari penjara.


Kebebasannya pun tak serta merta harus bebas melainkan harus ada pantau polisi juga tali tidak seketat di jeruji besi.


"Daripada kau di sini terus mending di pantau di luaran sana. Setidaknya kalau kau di luar jeruji besi bisa sambil menghirup udara segar dan mencari Diana."


"Saya kagak perlu lagi mencari Diana karena saya yakin jika kedua orang saya tahu di mana dia berada. Yang ingin ku lakukan yaitu memperjuangkan Diana lagi dan mengakui cinta saya." balas Zio sedikit melamun dengan wajah murung sudah beberapa bulan ini dia menunggu hari kebebasannya.


"Hmmm itu bisa terjadi dan tentunya bisa juga tidak terjadi. Orang tuamu bisa tahu tapi juga bisa beneran tidak tahu. Buktinya minta beberapa bulan ini tidak ada panggilan telepon dari Diana ke mama atau papamu?"


Zio berpikir jika perkataan Iqbal ada benarnya juga. Terakhir kali ia bisa mendengar suara Diana itu pun di saat dirinya sedang mengalami mual-mual dan pusing.


"Tapi kau kalau kau rindu, kau bisa mencari sahabatnya atau saudaranya gitu yang bisa diandalkan. Kira-kira siapa ya?" Iqbal memberikan jawaban itu. Dan hal itu membuat Zio teringat pada sahabatnya Diana.

__ADS_1


Zio langsung mendongak menjentikkan jarinya. "Aha..."


Dan itu membuat Iqbal terkaget-kaget. "Buju buneng aha aha nehi nehi." Iqbal menggerakkan tangan dan kepalanya memperagakan tari India.


"Hahahaha eh, pea. Lu ngapain kepala lu di goyang-goyang? Mau nari India lu? Kagak pantes Bambang." Zio tertawa ngakak melihat kelatahan Iqbal kembali ada.


"Gue kaget ZIOlim, gara-gara lu. Ya kali pria tampan cakep macam gue jadi tukang tari. Bukan Iqbal lagi dong nama gue."


"Siapa jadinya?"


"Iiiih eike kagak tahu atuh." Suara kemayu yang Iqbal tunjukan membuat Zio tertawa lagi.


"Banci itu mah oy, hahhahaha. Eh lalu ngapain lu nyebut nama gue ZIOlim?" tawa Zio seketika berhenti di saat menyadari sesuatu yang tidak ia mengerti.


"Kan lu emang dzolim sama bini lu, Zio. Ya, udah gue sematkan nama ziolim untuk suami macam lu hahahaha." Kali ini Iqbal yang tertawa puas bisa membuat Zio mendengus dengan bibir mencebik sebal.


"Cape ketawa mulu. Mana alamat sahabatnya Diana? Mau gue bantu carikan tidak? Siapa tahu dia sering komunikasi dan lu bisa bicara dan bisa ketemu Diana."


"Gue kagak tahu alamatnya dimana. Semua datanya kan ada di kampus. Tapi lu bisa minta alamat Sinta Safitri alias Cici ke orang tua gue terutama Papa, dia pasti tahu tuh."


"Isssh kau ini, katanya kau tahu tapi tetep harus minta ortu mu lagi. Sama saja kau tidak tahu, ZIOlim." dengus Iqbal kesal sambil menggerakkan tangannya melirik jam tangan.


Seketika matanya terbelalak terkejut. "Astaga... waktunya udah ketinggalan. Gue harus buru-buru sebelum kena omel ini mah."


Zio mengerutkan keningnya. "Ada apa?"

__ADS_1


"Gue harus jemput nyokap." Iqbal pun berdiri dan segera bersiap pergi. "Nanti gue cari si Cici Paramida itu," ucapnya lagi sambil berlari.


"Sinta Safitri bukan Cici Paramida," jawab Zio membenarkan. Iqbal hanya menunjukan tanda ok dengan jari telunjuk dan jari jempol di bulatkan.


__ADS_2